UNTUK INDONESIA

China Desak Amerika Segera Cabut Pembatasan Perdagangan

Menlu China meminta AS segera cabut pembatasan perdagangan dan berhenti campuri urusan Beijing di Taiwan, Hong Kong, Xinjiang, dan Tibet
Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping (Foto: dw.com/id)

Beijing - Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, meminta Amerika Serikat (AS) segera mencabut pembatasan perdagangan dan berhenti mencampuri urusan Beijing di wilayah Taiwan, Hong Kong, Xinjiang, dan Tibet.

Komentar itu disampaikan Wang di forum Kementerian Luar Negeri pada hari Senin, 22 Februari 2021. Dalam forum itu Beijing menekan pemerintahan Presiden Joe Biden untuk membatalkan sejumlah tindakan konfrontatif yang diadopsi oleh pendahulunya Donald Trump. Di antaranya adalah menaikkan tarif impor China pada 2017 dan memberlakukan larangan atau pembatasan lain pada perusahaan teknologi dan pertukaran akademik dengan China.

Trump juga meningkatkan hubungan militer dan diplomatik dengan Taiwan, memberi sanksi kepada pejabat China atas pelanggaran terhadap minoritas Muslim di Xinjiang dan tindakan keras terhadap kebebasan di Hong Kong.

bendera as chinaIlustrasi: Bendera Amerika Serikat dan China berkibar di luar gedung perusahaan AS di Bejing, China, 21 Januari 2021. (Foto: voaindonesia.com - Tingshu Wang/Reuters)

"Kami tahu bahwa pemerintahan AS yang baru sedang meninjau kembali kebijakan luar negerinya, kami berharap para pembuat kebijakan AS akan mengikuti perkembangan zaman, melihat dengan jelas tren dunia, mengabaikan bias, melepaskan kecurigaan yang tidak beralasan dan bergerak untuk membawa kembali kebijakan yang memastikan hubungan China-AS berkembang stabil dan sehat," kata Wang kepada para diplomat, cendekiawan, dan jurnalis di Lanting Forum.

China dan AS bisa bekerja sama. Meskipun Biden telah menjanjikan sejumlah upaya perbaikan hubungan diplomatik, namun tidak diketahui jelas apakah dia akan membuat perubahan mendasar terkait kebijakan Washington terhadap Beijing.

Wang mengatakan China "tidak berniat untuk menantang atau menggantikan Amerika Serikat" dan siap untuk hidup berdampingan secara damai dan melakukan pembangunan bersama.

Wang mendesak AS untuk "berhenti mencoreng" reputasi Partai Komunis China yang berkuasa dan "berhenti berkomplot atau bahkan mendukung kata-kata dan tindakan yang salah dari pasukan separatis untuk kemerdekaan Taiwan dan berhenti merongrong kedaulatan dan keamanan China pada urusan internal Hong Kong, Xinjiang dan Tibet."

Wang mengatakan AS harus mengaktifkan kembali semua tingkat dialog yang menurutnya telah dihentikan di bawah pemerintahan Trump.

ilus dagang china asIlustrasi: China melampaui AS sebagai mitra dagang terbesar Uni Eropa tahun 2020 (Foto: voaindonesia.com/Reuters).

“Pandemi Covid-19, perubahan iklim, dan pemulihan ekonomi global adalah tiga masalah terbesar di mana China dan AS dapat bekerja sama,” kata Wang.

Di bidang perdagangan, Wang mengatakan China akan membela hak-hak perusahaan AS sambil berharap AS akan "menyesuaikan kebijakannya secepat mungkin dengan menghapus tarif yang tidak wajar atas barang-barang China, mencabut sanksi sepihak terhadap perusahaan China, lembaga penelitian dan pendidikan, dan meninggalkan penindasan irasional terhadap kemajuan teknologi China."

"Saya berharap kedua belah pihak akan bekerja sama untuk mengarahkan kapal raksasa China-AS menuju masa depan yang cerah, akan prospek yang tak terbatas," ujar Wang [ha/rap (AP)]/dw.com/id. []

Berita terkait
Amerika Khawatir UU Baru China Tingkatkan Sengketa Maritim
Amerika Serikat menyampaikan kekhawatirannya atas UU penjaga pantai yang diberlakukan China tingkatkan sengketa maritim
Amerika dan China Bersaing Rangkul Uni Eropa
Amerika dan China terlibat persaingan untuk mempengaruhi Uni Eropa soal vaksin dan pemulihan pasca pandemi di Eropa
China Salip Amerika Sebagai Mitra Dagang Terbesar Uni Eropa
Pada tahun 2020 China melampaui Amerika Serikat (AS) sebagai mitra dagang terbesar bagi Uni Eropa (UE)
0
China Desak Amerika Segera Cabut Pembatasan Perdagangan
Menlu China meminta AS segera cabut pembatasan perdagangan dan berhenti campuri urusan Beijing di Taiwan, Hong Kong, Xinjiang, dan Tibet