TAGAR.id, Jakarta - Musisi, penulis, sekaligus seniman Che Cupumanik resmi memperkenalkan karya terbarunya bertajuk LUKA KOLEKTIF, sebuah single yang dirilis bersamaan dengan buku LUKA KOLEKTIF MANUSIA DIGITAL: 30 Esai Menolak Mati dalam Algoritma. Melalui dua medium yang saling melengkapi ini, Che menghadirkan refleksi mendalam mengenai relasi manusia dengan teknologi, media sosial, dan algoritma yang semakin membentuk kehidupan sehari-hari.
LUKA KOLEKTIF bukan sekadar lagu pendamping buku. Keduanya lahir sebagai satu karya utuh yang mengajak publik tidak hanya membaca gagasan, tetapi juga merasakan emosinya melalui musik.
Di balik lagu berdurasi beberapa menit tersebut, tersimpan proses kreatif yang panjang, penuh eksplorasi, diskusi, hingga momen-momen spontan yang memperlihatkan eratnya kolaborasi antar seniman.
Menjaga Identitas Solois Lewat Aransemen yang Intim
Dalam proses produksinya, Che Cupumanik bekerja sama dengan Ali Hamzah sebagai produser dan Adi Tamtomosebagai programmer drum serta electronic percussion.
Sejak awal, tim produksi memiliki satu tujuan utama: memastikan LUKA KOLEKTIF tetap terdengar sebagai karya seorang solois, bukan musik yang berkarakter band.
- Baca Juga: Jennie Blackpink Rilis Single Baru 'ExtraL'
Untuk mencapai nuansa tersebut, Adi Tamtomo menyisipkan berbagai elemen sampling digital secara halus sehingga tidak mendominasi lagu, tetapi mampu memperkaya atmosfer emosional yang dibangun sepanjang komposisi.
Referensi musik yang digunakan pun datang dari berbagai spektrum genre. Mulai dari tekstur elektronik khas Telefon Tel Aviv, nuansa gelap milik Crosses proyek sampingan ChinoMoreno—hingga sentuhan pop elegan ala KLa Project dan dinamika emosional yang mengingatkan pada karya-karya Coldplay.
Seluruh referensi tersebut diramu secara subtil agar memperkuat suasana lagu tanpa menghilangkan identitas musikal Che Cupumanik.
Ketika Drum Menjadi Tantangan Terbesar
Produser Ali Hamzah mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam produksi lagu ini justru berada pada departemen drum dan perkusi.
Beberapa aransemen awal justru membawa lagu ke arah musik rock yang terlalu dominan, sesuatu yang tidak sesuai dengan konsep LUKA KOLEKTIF.
Di titik inilah peran Adi Tamomo menjadi sangat penting.
Dengan wawasan musik yang luas lintas genre, Adi mulai membangun ulang karakter ritmis lagu melalui detail-detail kecil, mulai dari pemilihan loops, pola ketukan, hingga pengaturan velocity yang presisi.
Pendekatan tersebut berhasil menciptakan fondasi musik yang lembut, atmosferik, sekaligus modern, sehingga emosi lagu dapat mengalir secara natural.
Menjadi "Bawel" Demi Vokal Terbaik
Tak hanya mengurus aransemen musik, Ali Hamzah dan Adi Tamtomo juga bertindak sebagai vocal director selama proses rekaman.
Mengarahkan penyanyi dengan pengalaman panjang seperti Che Cupumanik tentu bukan perkara mudah.
Namun justru dari dinamika tersebut lahir banyak momen menarik.
Adi beberapa kali mengingatkan Che agar tidak langsung mengeluarkan karakter vokal yang terlalu meledak sejak awal lagu.
"Jangan kebiasaan marah-marah di awal dong, bikin lembut dulu," ujar Adi saat sesi rekaman.
Sementara Ali bertugas menjaga emosi vokal Che agar terus berada di titik yang sesuai dengan perjalanan cerita lagu.
Proses yang penuh diskusi tersebut justru menghadirkan suasana studio yang hangat, dipenuhi tawa, namun tetap menghasilkan interpretasi vokal yang emosional.
Lagu yang Menggambarkan Fenomena Sosial Hari Ini
Bagi Ali Hamzah, LUKA KOLEKTIF menjadi salah satu lagu yang memberikan pengalaman personal selama proses produksinya.
Ia mengaku pernah mendengarkan versi awal lagu tersebut saat berada di dalam LRT sepulang bekerja.
Di tengah keramaian penumpang yang sibuk dengan gawai masing-masing, lagu tersebut tiba-tiba terasa begitu relevan.
Menurutnya, momen itu membuatnya menyadari bagaimana teknologi perlahan mengubah manusia menjadi individu-individu yang hidup dalam ruang masing-masing, terhubung secara digital namun semakin terisolasi secara emosional.
Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa lagu ini mampu menangkap realitas sosial yang sedang dialami banyak orang.
Bahasa Puitis yang Menjadi Kekuatan Che Cupumanik
Kolaborasi ini juga memperlihatkan sensitivitas Che Cupumanik dalam memilih bahasa.
Ali Hamzah sempat membandingkan pendekatan lirik yang mungkin ia gunakan dengan pilihan kata milik Che.
Sebagai seseorang yang memiliki latar teknis, Ali mengaku kemungkinan akan menggunakan frasa seperti we breakbeneath the code untuk menggambarkan hubungan manusia dengan teknologi.
Namun Che memilih kalimat sederhana namun jauh lebih kuat secara emosional:
Terjebak dalam algoritma.
Menurut Ali, pilihan kata tersebut terasa lebih puitis, lebih membumi, sekaligus langsung menggambarkan realitas kehidupan masyarakat digital saat ini.
Tiga Kali Berubah Demi Emosi yang Tepat
LUKA KOLEKTIF juga mengalami proses penyempurnaan yang tidak singkat.
Selama produksi berlangsung, lagu ini mengalami tiga kali perubahan struktur dan aransemen demi menemukan keseimbangan antara nuansa mellow, kekuatan lirik, dan perjalanan emosinya.
Setiap perubahan dilakukan agar pesan lagu dapat tersampaikan secara lebih utuh kepada pendengar.
Di balik proses yang serius tersebut, suasana studio juga dipenuhi berbagai momen spontan.
Salah satunya ketika Che tiba-tiba datang ke studio mengenakan perlengkapan padel lengkap.
Melihat penampilannya, Ali dan Adi langsung berseloroh, "Ini mau rekaman atau mau cari energi ekstra dari padel dulu?"
Candaan sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang memperlihatkan bagaimana proses kreatif berlangsung dalam suasana santai namun penuh dedikasi.
Mengajak Pendengar Berhenti Sejenak
Bagi Che Cupumanik, hadiah terbesar dari perilisan LUKA KOLEKTIF bukanlah angka streaming maupun popularitas.
Ia berharap lagu dan buku ini mampu membuat pendengar merasa bahwa keresahan yang mereka alami bukanlah sesuatu yang harus ditanggung sendirian.
LUKA KOLEKTIF hadir sebagai refleksi bahwa di balik dunia digital yang serba terhubung, banyak orang sedang menghadapi luka yang sama terjebak dalam ritme algoritma, kehilangan ruang sunyi, dan perlahan menjauh dari kemanusiaannya sendiri.
Melalui perpaduan musik dan literasi, Che Cupumanikmengajak publik untuk berhenti sejenak, mendengarkan, membaca, lalu kembali mempertanyakan hubungan manusia dengan teknologi di era digital saat ini. []