UNTUK INDONESIA
Cerita Kampung Lele dan Kampung Patin di Kampar Riau
Warga Desa Hangtuah di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau ramai-ramai beternak lele, sementara Desa Koto Masjid masyhur dengan budidaya ikan patin.
Kampung lele dan kampung patin di Kampar, Provinsi Riau. (Foto: Tagar/Dok KKP)

Riau - Desa Hangtuah di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau kini masyarakatnya ramai-ramai beternak lele, sementara Desa Koto Masjid mulai masyhur dengan budidaya ikan patin. Kedua desa tersebut kini lebih dikenal dengan julukan kampung lele dan kampung patin. 

Melalui Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, KKP bekerjasama dengan pemerintah daerah secara rutin melakukan pembinaan dan penyaluran bantuan untuk mengembangkan potensi dua desa tersebut.

Kepala BPBAT Sungai Gelam, Boyun Handoyo mengatakan bahwa Kampung Patin di Desa Koto Masjid merupakan salah satu contoh proses budidaya yang terintegrasi mulai dari hulu hingga ke hilir, yakni mulai dari pembenihan, pembesaran, hingga pasca panen.

Sebagai informasi, tingkat produksi patin konsumsi di Kampung Patin mencapai 3-5 ton perhari. Selain menghasilkan panen ikan segar, masyarakat Kampung Patin juga mampu mengolah hasil panen dengan membuat salai Ikan Patin dengan kapasitas produksi mencapai 10 ton per hari.

“Guna mendukung produktivitas masyarakat, BPBAT Sungai Gelam secara aktif melakukan pembinaan dan menyalurkan bantuan berupa calon induk unggul dan penerapan inovasi teknologi penetasan dengan menggunakan corong pada Unit Pembenihan Rakyat (UPR) yang ada di Kampung Patin,” tambah Boyun.

Boyun menilai bantuan calon induk yang disalurkan merupakan program strategis dari KKP yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan calon induk unggul yang akan menghasilkan benih bermutu yang beredar di masyarakat.

Menurut catatan, hingga bulan September 2020 BPBAT Sungai Gelam telah menyalurkan bantuan calon induk ikan air tawar seperti patin, lele, mas maupun nila sebanyak 7.160 ekor.

Sementara itu terkait Kampung Lele yang berada di desa Hangtuah, Boyun menyampaikan bahwa kampung tersebut telah berkembang sangat pesat menjadi pusat pembenihan ikan lele terbesar di pulau Sumatera. Ia mencatat UPR yang ada saat ini mencapai kurang lebih 300 unit dengan kapasitas produksi mencapai 10 juta ekor per bulan.

“Melihat potensi yang cukup bagus, selain rutin kami berikan bantuan calon induk unggul, tahun ini kami juga memberikan bantuan Revitalisasi UPR yang merupakan salah satu program prioritas KKP pada tahun 2020,” pungkas Boyun.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan gairah masyarakat untuk melakukan usaha budidaya menunjukkan nilai strategis dari perikanan budidaya sebagai pemasok kebutuhan pangan masyarakat berbasis ikan dan penggerak ekonomi nasional.

“Pertumbuhan produksi perikanan nasional yang terus naik, menunjukkan kebutuhan masyarakat akan protein hewani yang terus meningkat. Untuk itulah KKP terus mendorong kegiatan usaha budidaya di masyarakat yang dijalankan secara bertanggunjawab dan berkelanjutan,” ujar Slamet dalam siaran persnya Minggu, 25 Oktober 2020.

Slamet juga mengimbau kepada usaha budidaya yang dilakukan masyarakat hendaknya menerapkan praktik budidaya yang efisien dan berwawasan lingkungan. 

Pembudidaya diharapkan dapat terus mendukung program pemerintah seperti Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) maupun Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB) guna meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.

“Dengan komunikasi dan koordinasi yang baik antar sesama pembudidaya maupun dengan tim teknis dan dinas perikanan setempat akan mewujudkan keberlanjutan usaha dan kesejahteraan bersama” imbuh Slamet.

Ketua Pokdakan Karya Mina Mandiri, Gatot yang merupakan penerima bantuan revitalisasi UPR tahun 2019 menyatakan bahwa bantuan ini memberikan pengetahuan yang baru bagi masyarakat Kampung Lele.

“Sebelumnya masyarakat melakukan pembenihan dengan cara konvensional, kini sudah bisa dilakukan secara intensif dan bisa terukur karena masyarakat juga mendapatkan pembelajaran tentang berbudidaya ikan,” ujar Gatot.

Gatot menjelaskan bahwa keuntungan yang didapatkan dari pembenihan ikan lele ini dapat mencapai hingga 200%. Hasil produksi tersebut didistribusikan ke wilayah Pekanbaru Riau, Provinsi Jambi, Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Sumatera Barat dan wilayah Kota Medan Provinsi Sumatera Utara.

“Kami menghaturkan terima kasih kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP atas bantuan dan bimbingan yang diberikan untuk kemajuan kelompok kami dan masyarakat Kampung Lele pada umumnya,” tutup Gatot.[]

Berita terkait
KKP Rilis 14 Kasus Bom Ikan, 8 Nelayan Diciduk di Sulsel
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis adanya 14 kasus bom ikan selama tahun 2020.Terbaru, 8 nelayan diciduk di Sulawesi Selatan (Sulsel)
Cara KKP Siasati Ketatnya Syarat Impor Ikan di Luar Negeri
Beragam siasat mulai digencarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait semakin ketatnya syarat impor ikan di luar negeri.
Tidak Lagi Ditenggelamkan, Kapal Asing Jadi Patroli Laut
Kapal asing kini tidak lagi ditenggelamkan. Menteri KKP Edhy Prabowo baru saja menerima kapal asing rampasan STS-50 dan akan dipakai untuk patroli.
0
Cerita Kampung Lele dan Kampung Patin di Kampar Riau
Warga Desa Hangtuah di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau ramai-ramai beternak lele, sementara Desa Koto Masjid masyhur dengan budidaya ikan patin.