UNTUK INDONESIA
Cerita di Ponpes Disabilitas Pertama di Banyuwangi
Pondok Pesantren KH Ahmad Dahlan di Banyuwangi diperuntukkan bagi anak-anak disabilitas. Para santri tidak diharuskan belajar kitab kuning.
Aktivitas anak-anak penyandang disabilitas belajar mengaji di Pondok Pesantren KH Ahmad Dahlan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Tagar/Hermawan)

Banyuwangi - Pondok Pesantren (Ponpes) KH Ahmad Dahlan berdiri Jalan Ahamad Yani, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Konon, sekolah agama Islam itu, ponpes khusus anak-anak disabilitas pertama di Banyuwangi.

Sore itu, Selasa, 28 Juli 2020, ditemanai cuaca daerah Banyuwangi cukup cerah, Tagar menyusuri ponpes anak-anak berkebutuhan khusus. Lantunan ayat suci alquran begitu merdu tatkala kaki memasuki komplek ponpes itu.

Para santri begitu bersemangat melantunkan alquran di ponpes yang berada di bawah naungan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Banyuwangi itu. Hari itu, mereka baru memulai aktivitas belajar pertama setelah hampir 4 bulan lamanya libur akibat pandemi Covid-19.

Meski kembali belajar di ponpes, para santri dan santriwati tetap mematuhi protokol kesehatan. Mereka memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan sebelum mengaji.

Mereka tidak harus hafal kitab kuning atau hafal alquran sekian juz.

Tidak seperti seperti ponpes kebanyakan. Ponpes khusus disabilitas tidak mempelajari kitab kuning atau kitab gundul (tak berbaris). Metode pembelajaran santri di sini, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Sebab, di pondok pesantren khusus disabilitas pertama di Banyuwangi, bahkan di Indonesia itu, santrinya menyandang cacat yang berbeda-beda. Mulai dari tunanetra, autis, down sydrome, mental reterdasi, tunadaksa dan tunarungu.

Pendiri sekaligus pengasuh ponpes khusus disabilitas, Atfal Fadloli mengatakan, selain belajar mengaji, sebagian besar para santri juga sekolah formal di beberapa sekolah khusus disabilitas di Banyuwangi. Ada yang masih duduk di bangku SDLB, ada pula di SMALB.

"Anak–anak ini sebetulnya sekolahnya jauh. Kalau yang tidak sekolah inklusi, sekolah ke SLB jauh. Mereka butuh sarana itu untuk menampung dan memperdalam ilmu agamanya. Dari awal memang pelajaran agama di sekolah sedikit, sementara anak-anak ini pemahaman agamanya juga harus rutin,” katanya.

Di ponpes itu, para santri juga diberi terapi prilaku. Seperti halnya penyandang autis. Mereka akan diberi terapi bicara, kontak mata dan terapi kepatuhan. Tujuanya agar penyandang disabilitas itu bisa berkomunikasi dua arah dengan temannya.

"Jadi mereka tidak harus hafal kitab kuning atau hafal alquran sekian juz. Mereka bisa mengikuti kebiasaan dan paling tidak terkurangi (disabilitasnya). Sebetulnya kita menyesuaikan kondisi masing-masing santri," tuturnya.

Saat ini, ponpes KH Ahmad Dahlan hanya memiliki 14 santri dan santriwati. Selain dari Banyuwangi, santri yang mondok di sana juga berasal dari Jember, Sidoarjo, Situbondo, Surabaya dan Probolinggo.

Tahun ajaran baru ini, kata Atfal Fadloli, sebenarnya ada sekitar 28 santri baru yang mendaftar. Mereka datang dari Lampung, Yogyakarta dan Jakarta. Namun, karena Covid-19, pihaknya terpaksa meminta santri itu tidak datang terlebih dahulu sampai pandemi ini berakhir.

Sementara itu, jumlah tenaga pengajar di ponpes itu berjumlah 10 orang. Setiap guru mengajar satu hingga dua orang santri sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Anak-anak ponpes disabilitasAnak-anak penyandang disabilitas belajar mengaji dengan alquran braille di Pondok Pesantren KH Ahmad Dahlan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Tagar/Hermawan)

Menurut pengasuh ponpes lainnya Narmi, para santri disabilitas ini akan dipantau oleh para pengajarnya selama proses belajar mengajar berlangsung. Menurutnya, anak-anak ini punya hak dan belajar yang sama dengan anak normal.

Menurut Narmi, tidak semua santri yang menetap tinggal di ponpes. Sebagian mereka yang berasal dari warga sekitar, boleh pulang ke rumah.

“Harapanya anak-anak yang belum tertampung di sekolah atau mungkin yang sudah alumni dari sekolah itu bisa masuk pondok. Sehingga mereka lebih terarah dalam bidang keagamaan," tuturnya.

Salah satu santri tunanetra bernama Nizam Pangestu telah menetap di ponpes sejak berdirinya pondok tersebut atau sekitar 1 tahun lalu. Dia mengaku senang bisa mondok dan belajar mengaji di sana.

Selama di pondok, Nizam mengaku bisa belajar alquran brile. Bahkan, dia sudah bisa menghafal beberapa surat pendek.

"Surat Assyam sama itu mulai dari Adduha sampai Annas. Tidak menenntu. Kadang kalau lagi mikirin apa gitu lupa. Sudah sampai mana dan juz berapa? Masih juz 30. Senang tidak mengaji di sini? Senang sekali," katanya menjawab.

Ini tidak dari pemerintah, ini inisiatif dari beberapa teman terutama pak Atfal dan ibu Narmi.

Santri lainnya, Muhammad Amru juga merasakan hal yang sama. Bahkan selama di pondok, dia bisa hidup mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain. Apalagi, selama di ponpes di dilatih melakukan aktivitas sehari-hari dengan mandiri. Namun, Muhammad Amru mengaku masih kesulitan ketika mengaji atau mempelajari alquran brile.

"Amru diajarkan apa saja? Membaca tapi sulit. Pakai huruf braille ya? Harus ingat. Tapi sudah bisa? Kadang-kadang. Selain itu diajari salat, Amru berarti sudah bisa tata cara sholat? Iya,” katanya.

Mengajar di pondok pesantren khusus disabilitas ini, tidak sama dengan metode mengajar di pondok pesantren atau taman pendidikan alquran umumnya. Bahkan, menurut salah satu pengajar Fitriana, mengajar anak berkebutuhan khusus berbeda-beda.

Fitriana mengaku ada beberapa kendala selama dia mengajari anak-anak membaca alquran. Apalagi, daya tangkap para santri juga berbeda-beda.

“Kesulitannya khusus tunanetra untuk pendalaman alquran braille. Tapi untuk tahfiznya ada yang tunagrahita juga kesulitan di daya tangkap. Kalau untuk baca tulis alquran yang masih berpengelihatan, saya dibantu teman juga namanya ustaz Riyadi. Membaca dan menulis juga. Jadi kita orientasikan semuanya,” katanya.

Pemerhati disabilitas dari Komunitas Advokasi Disabilitas Aura Lentera Banyuwangi, Indah Catur Cahyaningrum mengatakan, ponpes khusus disabilitas ini satu-satunya yang ada di Banyuwangi. Kehadirannya sangat penting untuk meningkatkan pendidikan sepiritual anak berkebutuhan khusus.

"Bersyukur ada niatan baik dari masyarakat. Ini tidak dari pemerintah, ini inisiatif dari beberapa teman terutama pak Atfal dan ibu Narmi untuk mewadahi teman-teman difabel. Ada beberapa siswa di sini itu yang tidak bisa di sekolah baik SLB maupun umu,” katanya.

Di ponpes khusus disabilitas ini, para santri diberikan pendidikan sejak bangun tidur hinggga tidur kembali. Mereka diajari mengaji, salat dan melakukan aktivitas sehari-hari layaknya anak-anak normal.

"Manfaatnya kita sama-sama lihat tadi, anak-anak baru datang dari liburan mereka bisa begitu bahagia bertemu kawan di sini. Jadi, mereka menemukan dunia mereka di sini," katanya.

Dia berharap, pondok pesantren khusus disabilitas di Banyuwangi mampu menginisiasi kelahiran ponpes khusus lainnya di Indonesia. Dengan begitu, semakin banyak anak-anak berkebutuhan khusus berkesempatan mempelajari ilmu agama lebih dalam. []

Berita terkait
Konsumen dan Pedagang Kompak Tak Setuju GoFood Haram
GoFood tidak haram karena uang lebih adalah ongkos kirim. Itu untuk penghasilan pengemudi karena mereka gajinya dari situ. Itu bukan riba.
Imam Masruh, Tukang Ojek di Kudus yang Berhati Emas
Imam Masruh, tukang ojek Kudus berhati emas. Ia memberi fasilitas internet gratis untuk anak yatim piatu dan siswa miskin.
Tinggalkan Berita Covid, Nikmati Hidup Anda
Bagus Wasisto, istri dan enam anak terkena covid ketika berada di Madinah. Mereka sudah sehat, baik-baik saja hingga kini. Berikut kisah mereka.
0
Cerita di Ponpes Disabilitas Pertama di Banyuwangi
Pondok Pesantren KH Ahmad Dahlan di Banyuwangi diperuntukkan bagi anak-anak disabilitas. Para santri tidak diharuskan belajar kitab kuning.