Catat, Titik Rawan Bencana di Sleman saat Cuaca Ekstrem

BPBD Sleman mulai mempersiapkan dan mematakan wilayah rawan bencana. 2500 relawan disiapkan untuk penanganan bencana alam.
Hujan deras disertai angin kencang terjadi di Yogyakarta. Salah satunya terjadi di Jalan Magelang, Mlati, Sleman pada Jumat 14 Februari 2020. (Foto: BPBD Sleman/Tagar/Ridwan Anshori)

Sleman - Memasuki musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai bersiap menanggulangi potensi bencana. Bumi Sembada ini memiliki beberapa titik rawan bencana saat cuaca ekstrem di musim hujan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Henry Dharma Wijaya mengatakan bahwa Yogyakarta akan memasuki musim hujan pada pertengahan hingga akhir Oktober 2020. Informasi tersebut sudah dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta.

Untuk titik rawan banjir disepanjang sungai yang ada di Sleman.

"Menurut perkiraan BMKG itu memang musim hujan kali ini dimulai di dasarian II artinya pertengahan Oktober nanti," kata Henry saat dikonfirmasi wartawan, Senin, 12 Oktober 2020.

Di Kabupaten Sleman yang memiliki 17 Kapanewon ini, ada beberapa titik dinilai rawan bencana ketika musim hujan. Seperti angin kencang, pohon tumbang, banjir, dan sebaginya.

Kata Henry, peristiwa angin kencang sering terjadi di sekitar Sleman daerah barat seperti Kecamatan Sayegan, Tempel, Mlati, Sleman, Turi, Pakem dan Kalasan.

Tanah longsor banyak terjadi di daerah Kecamatan Prambanan. Sementara Kecamatan yang rawan banjir adalah wilayah yang dekat dengan sungai. 

"Untuk titik rawan banjir disepanjang sungai yang ada di Sleman," ucapnya.

Untuk menanggulangan potensi bencana yang ada di kecamatan dan juga desa-desa di Sleman, pihaknya segera melakukan mitigasi bencana yang biasa terjadi pada musim hujan.

"Kalau ada pohon yang membahayakan orang lain kami minta segera dipangkas ranting-rantingnya, dan lain-lain. Baik pohon milik DLH (Dinas Lingkungan Hidup) maupun milik warga," ujar Henry.

Dalam menghadapi potensi bencana di Sleman yang dapat terjadi sewaktu-waktu, pihaknya terus memantau kondisi cuaca berdasarkan informasi dari BMKG. Termasuk juga mengaktifkan EWS (Early warning system) atau sistem peringatan dini untuk mendeteksi bencana.

"Kalau hujan kan berpotensi banjir, kami punya dipinggir sungai kita pasang sistem peringatan dini, tanah lonsor itu juga kami punya. Jadi apabila ada potensi bencana akan segera kami infokan kepada masyarakat di daerah tersebut," katanya.

Sementara dari sisi peralatan, BPBD Sleman telah bersiap mulai dari kebutuhan armada kendaraan hingga sinso atau geraji. Untuk tim reaksi cepat (TRC) juga telah kondisikan ekstra selama 24 jam bersama pusat pengendalian operasi (pusdalops).

"BPBD Sleman juga berkoordinasi dengan komunitas relawan yang jadi binaan kami. Mungkin ada 2.500 relawan di Sleman dari 58 komunitas," kata dia.

BPBD Sleman mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada. Jika ada pohon yang membahayakan segera dipangkas. Masyarakat juga diminta agar tidak membuang sampah di parit atau selokan karena akan menyumbat saluran yang bisa mengakibatkan banjir.[]

Berita terkait
La Nina, BMKG Yogyakarta Ingatkan Potensi Hujan Ekstrem
BMKG Yogyakarta mengatakan pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La Nina sedang berkembang.
BMKG: Waspadai Bencana di Musim Pancaroba Yogyakarta
BMKG DIY mengingatkan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya akan potensi bencana alam di masa musim pancaroba saat ini.
BMKG Rilis Alat Deteksi Gempa-Tsunami di Indonesia
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis alat deteksi gempa dan tsunami di Indonesia. Begini cara kerja alat tersebut.
0
Mendagri: Belanja Pemerintah Tulang Punggung Pertumbuhan Ekonomi
Mendagri mengatakan, belanja pemerintah baik pusat maupun daerah merupakan tulang punggung utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional.