La Nina, BMKG Yogyakarta Ingatkan Potensi Hujan Ekstrem

BMKG Yogyakarta mengatakan pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La Nina sedang berkembang.
Petugas mengukur volume air hujan yang keluar dari Ombrometer di Laboratorium terbuka BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) Serang, di Serang, Banten, Selasa, 18 Februari 2020. Pihak BMKG merilis peringatan dini cuaca ekstrem selama puncak musim hujan terutama untuk tiga hari ke depan hingga Kamis (20/2) yang ditandai hujan lebat disertai angin kencang dan gelombang tinggi yang berpotensi terjadi di Pulau Jawa, Sumatera, perairan Barat Kalimantan, Samudera Hindia, perairan Selatan Sulawesi, dan perairan Utara NTB serta NTB. (Foto: Antara/Asep Fathulrahman)

Yogyakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan anomali iklim La Nina dapat berkembang terus hingga akhir tahun 2020. Hal itu berpotensi dampak hujan ekstrem di wilayah Indonesia tak terkecuali Yogyakarta.

Kepala Staklim BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas mengatakan pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La Nina sedang berkembang.

Catatan historis iklim di Yogyakarta, bahwa La-Nina yang terjadi pada bulan Oktober – Desember berdampak pada peningkatan akumulasi curah hujan bulanan jauh di atas normal.

"Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir," kata Reni melalui keterangan tertulisnya kepada Tagar, Minggu, 11 Oktober 2020.

Baca juga:

Berdasarkan catatan BMKG Yogyakarta, nilai anomali telah melewati angka -0.5 derajat celcius, menjadi ambang batas kategori La Nina. Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut pada Agustus 2020 masing-masing adalah -0.6 derajat celcius. Sedangkan pada September 2020 mencapai -0.9 derajat celcius.

Sehingga BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020. Diperkirakan mulai menyeluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021.

"Catatan historis iklim di Yogyakarta, bahwa La-Nina yang terjadi pada bulan Oktober – Desember berdampak pada peningkatan akumulasi curah hujan bulanan jauh di atas normal," ucapnya.

Para pemangku kepentingan diharapkan dapat lebih optimal melakukan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu hingga hilir. Misalnya dengan penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air yang berlebih.

Masyarakat diimbau agar terus memperbaharui perkembangan informasi dari BMKG dengan memanfaatkan kanal media sosial infoBMKG, atau langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Sementara itu, beberapa zona musim di wilayah Yogyakarta yang akan memasuki musim hujan pada pertengahan bulan Oktober hingga akhir Oktober 2020 meliputi wilayah Sleman bagian barat dan utara, Kulon Progo bagian utara, Sleman bagian timur, sebagian besar Bantul, dan Kulon Progo bagian selatan. Pada awal November 2020 meliputi sebagian besar wilayah Gunungkidul dan Bantul bagian timur.[]

Berita terkait
Uji Coba Batal, PSM Makassar Hanya Latihan di Yogyakarta
PSM Makassar belum bisa menggelar uji coba selama pemusatan latihan di Yogyakarta. Uji coba melawan tim Julius Kwateh Academy dibatalkan.
Bangunan Kompleks Tamansari Yogyakarta dan Fungsinya
Kompleks Tamansari, Yogyakarta dulunya menempati wilayah seluas 10 hektare dan terdiri dari 57 bangunan. Namun kini sebagian sudah tidak ada lagi.
Kondisi Dosen UGM Yogyakarta Setelah Ditembak KSB di Papua
Anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya, Bambang Purwoko ditembak oleh KSB. Begini kondisi dosen UGM Yogyakarta usai ditembak.
0
Sempat Diterpa Badai Seroja, Mensos Targetkan Pemulihan NTT Juni 2021
Menteri Sosial Tri Rismaharini, menargetkan dana bantuan sosial untuk pemulihan NTT yang terkena Badai Seroja dapat disalurkan Juni ini.