Bukalapak Akan IPO Agustus 2021, Ini Pendapat Pakar Keuangan

Perusahaan e-commerce Bukalapak berencana untuk melakukan penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada Agustus 2021.
Ilustrasi - Bukalapak akan IPO Agustus 2021. (Foto: Tagar/idxchannel)

Jakarta - Perusahaan e-commerce Bukalapak berencana untuk melakukan penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Target dana diperkirakan hingga 800 juta dolar Amerika Serikat yang akan dilakukan pada bulan Agustus 2021.

Jika hal ini terwujud, ini akan menjadi IPO terbesar di Indonesia untuk sebuah start up, juga yang terbesar di Indonesia dalam 10 tahun terakhir. 

Bukalapak bisa menjadi startup berstatus unicorn pertama yang IPO di bursa dalam negeri. Namun, Bukalapak diketahui masih mengantongi rugi sebesar 1,3 triliun pada tahun 2020. 

Pakar Keuangan, Mantan Chief Financial Officer Zalora Frans Budi Pranata menilai prospek saham pada Bukalapak. Menurutnya, jika e-commerce atau marketplace mengalami kerugian untuk lima tahun pertamanya itu wajar, hal tersebut tergantung kerugian itu menghasilkan revenue yang berapa besar.


Karena yang namanya teknologi kategorinya saat ini nomor 6 untuk yang IPO dan nomor satunya keuangan.


Frans Budi PranataFrans Budi Pranata saat diwawancarai Cory Olivia di kanal YouTube Tagar TV. (Foto: Tagar/Selfiana)

Frans juga menjelaskan bahwa alasan dari dilakukannya IPO bukan hanya Karena profit, bisa karena aset, masa depan, dank arena ada cash flow. 

Banyak yang beranggapan bahwa Bukalapak belum pantas untuk tercatat di papan utama Bursa Efek Indonesia karena masih merugi, tetapi jika sudah mengantongi laba maka Bukalapak bisa naik ke papan utama. 

"Ya memang sebaiknya perusahaan yang papan utama itu salesnya naik terus dalam lima tahun terakhir, dan income dan profitnya positif. Tetapi yang namanya e-commerce seringkali perkembangannya masih negatif,” ujar Frans Budi Pranata saat diwawancarai Tagar TV, Rabu, 7 Juli 2021.

Frans melihat peluang ke depan Bukalapak sangat bagus, ia yakin bahwa Bukalapak punya potensi untuk diserbu oleh para investor di Indonesia.

“Karena yang namanya teknologi kategorinya saat ini nomor 6 untuk yang IPO dan nomor satunya keuangan, tetapi kalau Bukalapak sudah IPO maupun go to IPO sektor teknologi naik lima persen akan naik menjadi 16,7 persen. Sehingga ini punya prospek dan potensi,” ucapnya.

Frans juga menghimbau untuk para milenial dan investor pemula yang ingin mencoba berinvestasi, untuk memperhatikan profil risiko terlebih dahulu.

“Kalau profil risiko kita itu bukan risk taker atau zero toleran terhadap risk itu baiknya berinvestasi di deposito, obligasi yang suku bunganya atau returnnya hanya sekitar tiga sampai tujuh persen. Sehingga bisa low risk dan low return tapi bagi pengambil risiko yang menengah saham adalah pilihan yang terbaik,” katanya.

Ia juga menyarankan bahwa saham cocok untuk milenial yang berani ambil ambil risiko, tetapi tidak 100 persen di investasikan dan mungkin hanya sekitar 20 persen saja. []

Berita terkait
Produk Pesantren, Kemenag & Bukalapak Bahas Peluang Kerjasama
Kementerian Agama temui pihak Bukalapak untuk menjajaki peluang kerjasama baik dari segi permodalan maupun pemasaran akan produk pondok pesantren.
Microsoft Suntik Dana Rp 1,46 Triliun ke Bukalapak
Perusahaan teknologi Amerika Serikat, Microsoft akan berinvestasi untuk e-commerce di Indonesia, Bukalapak senilai US$ 100 juta.
Fajrin Rasyid, CEO Bukalapak Jadi Direktur Telkom
Menteri BUMN, Erick Thohir resmi menunjukCEO Bukalapak, Fajrin Rasyid sebagai Direktur Digital Business PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.
0
Bukalapak Akan IPO Agustus 2021, Ini Pendapat Pakar Keuangan
Perusahaan e-commerce Bukalapak berencana untuk melakukan penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada Agustus 2021.