Indonesia
BMKG: Pertengahan Februari Ada Gelombang Tropis Masuk Indonesia
Masyarakat Indonesia pun harus was-was terhadap terjangan banjir dan longsor.
Ilustrasi tsunami Aceh. (Foto: Pixabay)

Jakarta, (Tagar 19/2/2019) - Kepala Sub Bid Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putra mengatakan penduduk Indonesia harus siap dengan terjangan bencana kapan pun, terutama terhadap datangnya bencana hidrometeorologi seperti curah hujan, kelembaban temperatur, angin yang angka statistiknya sangat tinggi di sini.

"Memang tahun 2018 kita terhenyak oleh gempa dan tsunami, namun ada 1 hal yang berdasarkan statistik ataupun data-data, jumlah terbanyak bencana di negara kita justru datang dari urusan air. Bencana hidrometeorologi terjadi 95 persen setiap tahunnya," jelasnya.

Indonesia merupakan wilayah tropis yang sangat indah bentang alamnya, namun dibalik keindahannya justru menyimpan kerawanan akan bencana. Secara geografis Indonesia terletak di antara 2 benua, yakni benua Asia dan benua Australia. Selain itu, diapit juga dengan dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Artinya, ucap Agie, wilayah Indonesia juga menjadi wilayah utama pertemuan angin. Maka itu, di sini dikenal terdapat angin muson Asia yang sering menyebabkan terjangan angin besar dan hujan. Lalu, ada juga angin muson Australia yang justru menimbulkan siklon tropis kering seperti gelombang El Nino.

"Musim hujan disebabkan oleh muson Asia, muson Australia menyebabkan siklon tropis seperti El Nino. Ada juga yang permasalahannya dari Samudera Hindia, hingga fenomena yang tidak nampak tapi bisa dihitung seperti gelombang tropis. Ini sering kali masuk ke kawasan Indonesia dan mengakibatkan banjir seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu," tandasnya.

Baca juga:Apa Itu BMKG?

BMKG mengimbau, pada Januari 2019 hingga Maret 2019 masyarakat Indonesia harus was-was terhadap terjangan banjir dan longsor. Lalu, pada periode April-Mei Indonesia akan kedatangan fenomena angin puting beliung dan hujan es. Selanjutnya pada Juni‚ÄďAgustus beberapa wilayah di sini harus siap dengan potensi kebakaran hutan yang melanda di musim kemarau.

"Faktanya bencana hidrometeorologi sepanjang tahun di Indonesia pasti ada. Desember, Januari, Februari, Maret itu ada banjir, longsor dan itu adalah bencana yang paling dominan. Kemudian di masa peralihan di Bulan April-Mei ada fenomena puting beliung dan hujan es, itu akan lebih sering. Kemudian di Juni, Juli, Agustus harus bersiap-siap dengan pemadaman kebakaran hutan dan ketersediaan air pada musim kemarau," ujar Agie saat mejadi pembicara dalam acara Disaster Outlook 2019 di Hotel Bidakara beberapa waktu lalu.

"BMKG mendeteksi dalam pertengahan Februari ada gelombang tropis yang masuk ke kawasan Indonesia, ada potensi hujan tetapi tidak di semua kawasan. Ada penjalaran gelombang tropis kering yang masuk ke sini, Februari pertama hingga minggu ke-3, Jawa, Sulawesi dan Papua masih waspada banjir, tetapi di wilayah Sumatera di saat yang bersamaan sudah masuk potensi kebakaran hutan karena di sana sudah mulai kering, tetapi di Sumatera bagian selatan dan Jawa hujannya masih cukup tinggi," sambungnya.

Maka itu, pihaknya akan melakukan upaya mitigasi seperti monitoring dan forecast yang merupakan tugas dari BMKG.

"Nanti kita akan bekerja sama dengan BPBD agar menyeluruh mendapat informasi hingga ke tingkat kecamatan terkait daerah yang terdampak dengan cuaca, apakah akan mengakibatkan longsor atau banjir, tetapi kami tidak bisa bergerak sendirian. Bagaimanapun dalam meresponsnya mohon dibantu," pungkasnya.

Baca juga: Dua Bulan Terakhir, 138 Gempa Menggoyang Dataran Jateng Hingga Jatim

Berita terkait
0
Ephorus HKBP: Mengasihi Bukan Hanya kepada Seagama
Ephorus HKBP yang tiba di kompleks gereja disambut alim ulama, tokoh Betawi dan para pemuda Betawi yang merupakan warga daerah sekitar gereja.