Banjarnegara, (Tagar 19/2/2019) - Selama dua bulan terakhir tercatat 138 gempa terjadi di wilayah barat Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Data itu berasal dari Stasiun Geofisika (BMKG) Banjarnegara, Jateng.

Periode gempa tersebut berlangsung dari Desember 2018 hingga 15 Februari 2019.

"Seluruh kejadian gempa bumi bermagnitudo di bawah 5 SR, kecuali gempa dirasakan yang terjadi pada 14 Februari 2018 bermagnitudo 5 SR, berpusat di 123 kilometer barat daya Malang," kata Kepala BMKG Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhie kepada Antara, Selasa (19/2).

Dia menjelaskan lebih dari 90 persen pusat gempa berada di Laut Selatan Jawa dan didominasi kedalaman dangkal. "Adapun gempa bumi dirasakan sebanyak tujuh kejadian dan seluruhnya berkedalaman dangkal, sebanyak empat kejadian berlokasi di laut, yaitu berpusat di tenggara Pacitan, Malang, Cilacap, dan barat daya Malang dengan magnitudo masing-masing 4,6, 4,1, 4,5, 5,0 SR," katanya.

Tiga lainnya, tambah dia, berlokasi di darat, sekitar wilayah Wonosobo dengan magnitudo 2,6-2,8 SR dengan skala intensitas (I-II MMI). Berdasarkan hasil pencatatan gempa bumi tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah selatan Jawa merupakan daerah yang memiliki seismisitas yang aktif.

Hal itu, karena selatan Jawa merupakan daerah pertemuan lempeng tektonik di mana lempeng Indo-Australia menyubduksi lempeng Eurasia Dia mengatakan pada umumnya gempa di wilayah itu berpotensi dirasakan dan merusak apabila magnitudonya semakin besar dan memiliki kedalaman dangkal.

Salah satu buktinya, empat gempa di atas dengan magnitudo di bawah 4.0 SR, sedangkan parameter gempa bumi Wonosobo yang terjadi pada 10, 14, dan 25 Desember 2018 berupa kedalaman dangkal di bawah 11 kilometer dan bermagnitude kecil di bawah 2,8 SR adalah bukti rangkaian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas sesar yang belum terindentifikasi (belum terangkum dalam Peta Gempa Nasional 2017, red.).

Dengan memahami adanya sumber-sumber gempa bumi dan potensi kebencanaan di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya, kata dia, masyarakat harus mengetahui dan memperkuat upaya mitigasi bencana minimal untuk diri sendiri.

 "Menggali informasi secara mandiri dari sumber yang terpercaya merupakan langkah yang paling tepat sehingga kita dapat terhindar dari hoaks dan bahkan bisa mengedukasi sesama yang lain," katanya. 

Dia menambahkan bahaya gempa bumi tidak dapat dihindari namun risiko yang ditimbulkan dapat diminimalisasi.