Bilik Pengungsi Merapi di Balerante Klaten Baru Dibuat

Sepekan setelah digunakan, posko pengungsian Merapi di Balerante Klaten baru membuat bilik atau sekat pembatas. Apa penyebabya?
Pekerja sedang memotong kayu untuk pembangunan bilik-bilik di posko pengungsian Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Bilik-bilik ini akan menampung total 122 KK. (Foto: Tagar/Sri Nugroho)

Klaten - Balai Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjadi salah satu titik pengungsian bagi ratusan warga lereng Merapi. Namun bilik atau sekat pembatas baru didirikan setelah sepekan pengungsi tinggal di tempat tersebut. 

Sekretaris Desa Balerante, Basuki mengungkapkan sekat-sekat atau bilik-bilik di posko pengungsian Balerante mulai dibuat pada Sabtu, 14 November 2020. 

"Ini menjadi salah satu perhatian sejak awal pengungsian sekitar sepekan lalu terkait protokol kesehatan. Ini karena kali ini, kita tidak hanya menghadapi bencana Merapi, namun juga pandemi Covid-19," kata dia, Minggu, 15 November 2020.

Basuki mengakui, sebenarnya sejak awal pemerintah desa sudah berencana untuk mendirikan bilik-bilik ini. Hanya saja memang terbentur dengan ketersediaan anggaran.

Dan setelah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melakukan kunjungan ke posko pengungsian itu, agenda untuk pembangunan bilik-bilik ini semakin jelas untuk segera direalisasikan.

"Bilik-bilik dibangun secara bertahap. Pertama sebanyak 20 bilik dulu. Totalnya nanti kalau sudah selesai semuanya dapat menampung 122 KK," kata Basuki, Minggu, 15 November 2020. 

Untuk pembangunan bilik-bilik ini, dia menyebut dilakukan oleh PUPR Provinsi Jawa Tengah. Masing-masing bilik berukuran panjang 2,4 meter, lebar 2,4 meter dan tinggi 1,6 meter.

Basuki menambahkan selama sepekan pertama pengungsian, pihaknya terus memberikan sosialisasi akan 3M pada para warga. Mulai wajib memakai masker, rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer hingga juga menjaga jarak.

Bilik-bilik dibangun secara bertahap. Pertama sebanyak 20 bilik dulu.

Untuk jaga jarak, meski belum ada bilik-bilik, Basuki menyatakan pengungsi tetap diarahkan untuk menjaga jarak sekitar satu meter satu sama lain, khususnya yang bukan berasal dari satu keluarga.

Tidak hanya itu, sebagai upaya deteksi terkait Covid-19, rencananya juga akan dilakukan rapid test untuk semua pengungsi.

"Untuk tahap pertama, baru dilakukan pada Jumat 13 November 2020 lalu dengan target 40 orang. Namun ternyata yang bisa ikut di pengungsian ini baru 25 orang saja. Karena kebetulan tes dilakukan pada siang hari, saat dimana warga pengungsi biasanya kembali ke rumah dan baru balik ke pengungsian pada malam hari," ucap Basuki.

Hingga Sabtu 14 November 2020, total ada 242 warga yang sudah mengungsi di Posko Balerante. Rincinya, 99 warga Dukuh Sambungrejo, 77 warga Ngipiksari, 33 warga Sukorejo dan 33 warga Dukuh Gondang. Warga ini adalah kelompok rentan yang terdiri dari lansia, ibu hamil, hingga anak balita.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta penerapan protokol kesehatan diberlakukan dengan ketat di semua posko pengungsian Gunung Merapi. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran Covid-19.

"Kami datang ke sini untuk memastikan semua prosedur protokol kesehatan dilakukan benar," kata Deputi Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan saat mengunjungi tempat pengungsian sementara di Balai Desa Balerante, Sabtu, 14 November 2020.

Baca juga: Hindari Awan Panas Merapi, Sapi di Klaten Ikut Mengungsi

Mulai dari kedisiplinan untuk semua warga yang akan masuk ke posko pengungsian wajib cuci tangan terlebih dahulu, hingga juga jumlah yang bekunjung juga harus dibatasi untuk menghindari terjadinya kerumunan orang.

"Harapannya agar semua nanti yang ketemu dengan pengungsi itu bisa interaksi dengan protokol kesehatan. Kalau bicara, tetap wajib pakai masker," kata dia.

Baca lainnya: 

Soal pemberian bantuan kepada pengungsi, Lilik meminta untuk tidak langsung diberikan kepada pengungsi. Namun diserahkan lebih dulu ke petugas organisasi pengurangan resiko bencana (OPRB) yang bertugas di posko pengungsian. 

"Barang itu pun nanti harus didisinfektan dulu, seperti dilap dengan disinfektan sebelum diberikan kepada pengungsi," tegasnya.

Prosedur tersebut untuk menjaga supaya jangan sampai muncul klaster bari di tempat pengungsian. Pasalnya, sebagian besar pengungsi merupakan kelompok rentan termasuk pada ancaman Covid-19. []

Berita terkait
Bilik Asmara untuk Pengungsi Merapi di Deyangan Magelang
Tempat pengungsian warga lereng Merapi di Deyangan, Magelang, menyediakan dua bilik asmara untuk memenuhi kebutuhan biologis pengungsi.
BPBD Magelang Tambah Kapasitas Pengungsian Warga Merapi
BPBD Magelang mengantisipasi lonjakan pengungsi jika Merapi erupsi. Kini sudah disiapkan 950 bilik di sembilan titik pengungsian.
Merapi Bergemuruh, Warga Balerante Klaten Bergegas Mengungsi
Suara gemuruh beberapa detik dari puncak Merapi mengejutkan warga Balerante, Klaten. Wargapun bergegas turun untuk mengungsi.
0
Ditemukan 215 Kerangka Anak-anak Penduduk Asli di Kanada
PM Kanada sebut penemuan lebih dari 200 kerangka anak-anak yang dikubur di bekas sekolah asrama penduduk asli bukan insiden terpisah