Belajar dari Kang Ginda Bestari Soal Konten Musik

Dalam menjadi YouTuber musik, kamu tahu fondasi supaya konsisten dalam berkarya dan dinanti-nanti oleh pemirsa, seperti memilih segmen yang dituju.
Ginda Bestari. (Foto: Tagar/YouTube/Ginda Bestari)

Apakah di antara kamu ada yang ingin menjadi YouTuber musik?

Mari simak penjelasan dari Ginda Bestari. Pria yang besar di Bandung ini sekarang sedang disibukkan dengan pembuatan konten musik di kanal YouTube miliknya. Ia membuat berbagai video tutorial, lagu premium, hingga kelas daring berbayar. Proyek Ginda tersebut merupakan upaya adaptasi dengan keadaan.

"Karena manggung udah enggak ada, tapi di sisi lain sirkulasi ekonomi kan harus dipenuhi. Jadi gimana caranya walau #DiRumahAja, tapi tetap berpenghasilan," ujar Ginda.

Ia kemudian memutuskan untuk mendalami bidang konten kreator musik. Dari proses pendalaman tersebut, ia mendapat banyak ilmu tentang cara menjadi kreator konten musik yang baik. Jadi, berikut ini saran dari Kang Ginda.


Tentukan Ide dan Keyakinan

Ginda mengatakan fondasi dalam sebuah konten tentu adalah ide. Sebelum terjun sebagai kreator konten musik, Ginda mengaku sudah membuat rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang sebelum akhirnya mengeksekusi satu demi satu rencana pembuatan kontennya.

"Saya sampai setahun bikin rencana ini. Biar nanti enggak pusing di tengah jalan dan bisa konsisten," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyebut pentingnya keyakinan untuk komitmen menjalani pekerjaan alternatif sebagai kreator konten bidang ini. Menurutnya, kunci utama apabila kamu hendak menekuni profesi sebagai konten kreator adalah konsistensi untuk membuat konten yang baik.


Segmentasi

Ginda menyebut pemahaman kreator terhadap segmen yang akan dituju akan menentukan identitas seorang kreator. Ia menyarankan kepada calon kreator yang baru mulai untuk membuat konten dengan memperhatikan lebih dahulu segmen penonton.

"Kalau orang mau nyari review pedal efek gitar, misalnya, sekarang 'kan pada larinya ke Dapoer Gear milik Rama Nidji atau ke YouTubenya Iga Massardi, misalnya. Nah, agak sulit, tuh. Karena dua kanal ini udah kredibel," katanya.

Kalau sudah tahu segmen, maka konsistenlah di situ. Maka penonton akan datang dengan sendirinya. Bahkan menanti-nanti konten selanjutnya. Konsepnya mirip seperti generasi penonton televisi di dekade 1990-an yang menanti-nantikan salah satu program kesayangan kita.


Siapkan Kemasan Audio Visual yang Baik

Selanjutnya, Ginda menyebut kemasan konten musik yang baik terdiri dari kualitas gambar dan suara yang baik juga. Namun menurutnya, untuk menyajikan dua unsur ini dengan kualitas yang baik, kamu tidak perlu membeli alat perekam suara atau kamera dengan harga selangit.

"Sebetulnya kamera atau audio Interface mahal secara enggak langsung tuh menunjang ya, untuk output audio visual yang bagus. Tapi kalau memang enggak terkejar ongkosnya, enggak apa-apa. Dengan alat yang kita punya, bikin aja. Asal idenya mantap. Tapi PR buat si kreator ini, bagaimana caranya bikin output maksimal dari alat penangkap yang ala kadarnya. Itu masih bisa diakalin kok."

Secara teknis, ia menyoroti pentingnya kehadiran tata lampu sebelum membuat konten video musik. Ia menyarankan para calon kreator untuk terlebih dulu melakukan riset dan memperbanyak referensi tentang tata cahaya lampu untuk keperluan konten yang akan dibuatnya.


Eksekusi Ide dan Terjemahkan Bahasa

Tahap berikutnya adalah mengeksekusi ide. Caranya dengan menjalani proses pengambilan gambar, penyuntingan gambar, hingga proses unggah ke platform YouTube. Dalam proses ini, Ginda melakukannya sendiri. Menurutnya, ada kepuasan personal apabila sang kreator benar-benar menjalani proses ke proses seorang diri.

"Meskipun tiap bikin konten begadang. Tapi alhamdulillah, puas sama hasilnya."

Selain itu, apabila konten musikmu banyak berisi perbincangan ketimbang bermain musik, maka kamu harus mengolah ide yang kamu dapat dari referensimu ke dalam gaya bahasa yang relatif mudah dimengerti oleh pendengar. Dengan melakukan itu, maka kamu bisa membuat penonton tidak merasa cepat bosan menonton videomu walau misalnya isi konten musikmu dianggap terlalu berat.


Perbarui Referensi dan Kembangkan Potensi Lain

Tampilan visual yang berubah sangat cepat mengharuskan kamu untuk terus memperbarui referensi secara berkala. Ginda menyebut, tiap kreator wajib memperbarui pengetahuan tentang cara penyajian visual untuk kontennya agar tetap relevan tayang di antara banyak video kreator lainnya.

Tidak sedikit konten kreator yang mengharapkan keuntungan dari iklan atau banyaknya pengikut di kanal YouTubenya. Namun Ginda lebih menyoroti pengembangan potensi lain dari kanal YouTube tersebut. Ketimbang mengandalkan iklan dan jumlah subscribers, ia lebih fokus menggiring pendengarnya untuk melihat katalog produk kreatif digital dalam bentuk kelas daring, atau konten premium berbayar lainnya sebagai lahan bisnis.

"Kalau ngejarnya subscriber banyak, adsense, dan lain-lain, enggak salah sih jadinya banyak konten-konten yang ngutamain sensasi ketimbang substansinya," kata Ginda.

Secara keseluruhan, Ginda menyebut untuk jadi konten kreator musik, kita perlu memperhatikan konten dengan nilai-nilai penting yang relevan untuk ditonton dalam jangka waktu lama ketimbang membuat konten sensasional yang hanya meledak dalam waktu sesaat.

"Ya enggak salah juga sih bikin konten sensasional. Tapi kalau niatnya mau jadi kreator konten musik, masa rela sih nurunin standar kontennya demi angka subscribers, kasarnya begitu lah. Sayang banget kalau menurut saya."

Ginda Bestari saat ini membuka kelas daring berbayar dengan materi-materi yang menarik untuk kamu pelajari. Kelas daring berbayar itu disuguhkan dalam 'Secret Masterclass Vol. 1'. Adakah di antara kamu yang membeli materi kelas daring ini? []


Baca juga


Berita terkait
Manfaat Bermain Gitar dalam Kehidupan Sehari-hari
Bermain gitar memiliki sederet manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sekadar permainan saja, bermain gitar dapat meringankan sakit kepala.
6 Alat Musik Tradisional Indonesia yang Ditiup
Tak hanya kaya akan keberangaman suku, adat dan budaya. Indonesia juga memiliki sejumlah alat musik tradisional yang terdapat di seluruh daerah.
Terapi Musik di Siloam Hospitals, Sembuhkan Stroke Hingga Depresi
Kemenkominfo mengungkapkan, 19 persen wanita menempati posisi-posisi penting di lembaga tersebut. Angka itu akan terus bertambah ke depannya.
0
Belajar dari Kang Ginda Bestari Soal Konten Musik
Dalam menjadi YouTuber musik, kamu tahu fondasi supaya konsisten dalam berkarya dan dinanti-nanti oleh pemirsa, seperti memilih segmen yang dituju.