UNTUK INDONESIA
Beda Data Pemprov dan Pemkot Soal Klaster Sampoerna
Saling tuding dan bantah diperlihatkan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya terkait klaster HM Sampoerna di Surabaya.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. (Foto: Pemprov Jatim/Tagar)

Surabaya - Kasus Covid-19 atau virus corona di klaster pabrik rokok Sampoerna menunjukkan tidak adanya keselarasan antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya. Saling tuding dan bantah diperlihatkan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengaku perusahaan Sampoerna sudah melaporkan ke Dinas Kesehatan Surabaya pada 14 April 2020. Khofifah menduga laporan itu tidak detail sehingga tidak langsung ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan Surabaya

"Ini agak terlambat responnya. 14 April kemarin (Sampoerna) melaporkan ke Dinkes Surabaya. Mungkin tidak detail laporannya, jadi tidak langsung ditindaklanjuti (Dinkes Surabaya)," kata Khofifah, di Gedung Grahadi Surabaya.

Khofifah menyebut Tim Gugus Tugas Covid-19 Jatim baru menerima laporan dua buruh pabrik rokok yang positif Covid -19. Disinyalir awal penularan Covid-19 di pabrik itu pada 24 April sehingga ada jeda sepuluh hari dari temuan manajemen perusahaan.

Ini agak terlambat responnya. 14 April kemarin (Sampoerna) melaporkan ke Dinkes Surabaya.

Jika perusahaan lebih awal melakukan penanganan dengan melaporkan adanya kasus Covid-19 di pabrik Sampoerna Rungkut 2 Surabaya, penularannya bisa diminimalisir. Mengingat tim tracing gugus tugas provinsi baru bergerak 26 April 2020 setelah mendapat laporan pada 24 April.

Sementara Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuadi mengatakan, dua pasien awal diketahui ada gejala sejak 14 April 2020. Namun, belum sempat dilakukan tracing lebih detail, empat hari kemudian tepatnya 18 April dua buruh itu meninggal dunia.

Tim gugus tugas langsung melakukan rapid test terhadap 323 orang karyawan setelah mendapat laporan buruh yang meninggal. Hasil rapid test itu 100 orang dinyatakan reaktif dan langsung diisolasi di hotel yang disediakan perusahaan.

Joni menyebut dari 100 buruh yang hasilnya reaktif itu dilakukan swab terhadap 46 di RSUD Dr Soetomo. Hasilnya 34 orang dinyatakan positif Covid -19.

Pemkot SurabayaKoordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M. Fikser. (Foto: Tagar/Haris D Susanto)

Terpisah Koordinator Protokol Komunikasi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya M. Fikser membantah jika Pemkot Surabaya melalui Dinas Kesehatan terlambat melakukan pemantauan penyebaran Covid-19 di pabrik HM Sampoerna di Jalan Kalirungkut Surabaya.

Mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Surabaya ini mengatakan Pemkot sudah turun dan melakukan pengecekan sejak tanggal 2 April 2020, di mana satu karyawan Sampoerna mengeluhkan sakit.

"Kita tahu di awal perkembangan di Sampoerna. Tanggal 2 April dia sakit dan diperiksa di klinik perusahaan. Tanggal 9 April dirujuk ke RS Darmo dan tanggal 13 April dia melakukan tes swab di rumah sakit berbeda. Tanggal 15 April dirawat," ujarnya di Ruang Rapat Sekda Surabaya Kantor Balai Kota Surabaya, Sabtu, 2 Mei 2020.

Ia menjelaskan tanggal 16 April, Pemkot Surabaya mengundang PT HM Sampoerna untuk menjelaskan adanya pasien positif Covid-19. Fikser pun membantah pernyataan Khofifah bahwa karyawan tersebut positif Covid-19 pada tanggal 14 April.

"Kita bisa membantah apa yang disampaikan gubernur, ada laporan tanggal 14 (April) itu keliru. Bukan perusahaan (Sampoerna) yang lapor kita, tapi kita yang memanggil dan menemukan," tuturnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya ini menegaskan Pemkot Surabaya melakukan pendataan dengan detail dengan mengonfirmasi langsung ke rumah sakit rujukan, sehingga bisa mengetahui perkembangan penyebaran Covid-19 di Surabaya.

"Data tersebut merupakan intervensi Gugus Tugas Pemkot. Contoh data 48 terkonfirmasi itu 30 adalah dari Sampoerna. Dari Sampoerna itu kita olah lagi ada dua yang meninggal," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Febria Rachmanita menegaskan Dinkes Surabaya sudah melakukan jemput bola terkait kasus di klaster PT HM Sampoerna.

"Kita jemput bola dan kita yang memanggil PT HM Sampoerna terkait adanya beberapa orang pasien yang dirawat. Setelah itu kami meminta Sampoerna melakukan rapid test dan isolasi di dalam pabrik Sampoerna, ada lebih 506 (karyawan)," ujarnya.

Feny sapaan akrabnya menegaskan pihaknya melalui Puskesmas juga sudah melakuka tracing untuk mencari kontak erat karyawan positif Covid-19.

"Kita langusng cari OTG dan ODP. Ini ada lebih sekitar 123 karyawan yang rapid test dan positif. Dari rapid test yang positif, Sampoerna melakukan tes swab," tuturnya.

Hanya saja, tanggal 16 April 2020, Pemkot Surabaya belum mendapatkan bantuan Reagen VTM dari Kementerian Kesehatan.

"Setelah dapat bantuan kita bergerak cepat swab tidak hanya untuk Sampoerna, tapi juga lainnya. Hasilnya, 48 pasien yang swab, 30 positif," kata dia. []

Berita terkait
34 Buruh Sampoerna Positif Corona, Khofifah Prihatin
Sebanyak 46 karyawan pabrik rokok HM Sampoerna telah menjalani pemeriksaan swab PCR tahap pertama, hasilnya 34 terkonfirmasi positif Covid-19.
HM Sampoerna Tutup Pabrik Pasca Mortalitas Covid-19
PT HM Sampoerna Tbk memastikan produk rokok perusahaan telah sesuai dengan standar mutu dan terbebas dari paparan pandemi virus corona.
Satgas Covid-19 Tes PCR Buruh Pabrik Sampoerna
Pasca meninggalnya dua buruh PT Sampoerna akibat terinfeksi virus Covid-19, tim kuratif gugus tugas melakukan tes PCR terhadap 46 buruh.
0
Beda Data Pemprov dan Pemkot Soal Klaster Sampoerna
Saling tuding dan bantah diperlihatkan Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya terkait klaster HM Sampoerna di Surabaya.