UNTUK INDONESIA

Bau Nangka, Cita Rasa Kopi Reblica Lereng Kelud Kediri

Warga Dusun Lahar Pang, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri selama dua tahun memproduksi kopi khas. Bahkan kopi sudah merambah pasar ekspor.
Dua jenis kopi yang diproduksi warga Dusun Lahar Pang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. (Foto: Tagar/Fendhi Lesmana)

Kediri - Warga Dusun Lahar Pang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri sejak dua tahun terakhir produk UMKM berupa kopi kemasan khas lereng kaki Gunung Kelud. Produksi kopi kini merambah ke berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan sudah diekspor ke Hong Kong dan Mesir.

Kopi bubuk dijual warga Dusun Lahar Pang ada dua jenis, yaitu Robusta dan Reblica. Dari dua jenis kopi yang diproduksi, kopi Reblica menjadi perhatian karena memiliki cita rasa khas.

Bau kopi jenis Reblica khasnya seperti buah nangka, kalau robusta rasa pahitnya lebih nendang.

Seorang anggota UMKM Lahar Pang, Agus pujianto mengatakan kopi jenis Reblica memiliki harum khas seperti buah nangka. Agus mengatakan kadar kafein kopi reblica lebih rendah jika dibandingkan dengan robusta.

Sementara itu, kopi jenis Robusta lebih menonjol rasanya pahit. Hal itu, karena dipengaruhi tanaman bergetah ada di samping kanan dan kiri tumbuhan kopi.

Baca juga:

Tani Wanita Lereng Wilis Kediri Olah Tiwul Jadi Nasi Goreng

"Bau kopi jenis Reblica khasnya seperti buah nangka, kalau robusta rasa pahitnya lebih nendang," kata Agus Pujianto kepada Tagar, Senin, 9 November 2020.

Agus mengatakan pasokan biji kopi berasal dari petani lokal masyarakat setempat. Setiap satu kilogram kopi jenis Robusta dibeli dengan harga antara Rp 21 - 22 ribu. Sementara untuk jenis Reblica harganya tidak sama dan sedikit mahal kurang lebih Rp 30 ribu per kilogram.

Agus mengaku kopi bubuk kemasan berisi berat 250 gram dijual Rp22.500. Agus Pujianto menambahkan, selama beberapa tahun eksis diproduk penjualan kopi, kini usaha UMKM rintisan terus berkembang dan sudah memiliki 6 mesin rosting penggorengan biji kopi dan mesin packing kemasan.

"Kalau dalam sehari bisa produksi 100- 150 bungkus," kata Agus Pujianto.

Kopi Gunung KeludKopi produksi warga Dusun Lahar Pang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. (Foto: Tagar/Fendhi Lesmana)

Sementara itu, Bendahara UMKM KSM, Hendro Kiswanto mengatakan kopi ditanam oleh petani lereng kaki Gunung Kelud biasanya berada diketinggian antara 900 - 1000 mdpl. Masa panen tanaman kopi biasanya dalam satu tahun sebanyak 1 kali. 

Jika memasuki musim penghujan seperti sekarang tanaman kopi memasuki fase berbunga. Biasanya jika masa panen pada Juni, Juli, dan Agustus.

"Kalau memasuki musim penghujan biasanya kopi mulai berbunga, jika masa panen masuk antara bulan 6,7 dan 8. Meski masa panen sudah lewat tapi stok untuk saat ini masih ada," ujar Hendro Kiswanto selaku Bendahara UMKM KSM.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Dusun Lahar Pang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Nur Yakin mengungkapkan selama pandemi Covid-19, produksi petani kopi mengalami penurunan hingga 50 persen. Hal tersebut terlihat dari hasil produksi petani yang hanya 1,5 kwintal dari biasanya yang bisa menghasilkan 3 kwintal. 

"Itu sudah dalam bentuk produksi powder (bubuk), yang jelas itu karena kendala market tidak jalan (pandemi). Itu pun masih bagus jika dibandingkan UMKM lain lebih banyak gulung tikar pada saat pandemi . Untuk saat ini kita nggak," kata Nur Yakin.

Untuk mensiasati pemasaran produk agar tetap laku, di masa pandemi pihaknya bergantung pada penjualan sistem online.

"Untungnya kita marketing punya dua cara, online dan offline. Kalau Offline kita vakum berhenti, karena masa pandemi. Kita pergunakan sistem onlinenya," kata dia.

Setelah produksi kopi jenis Reblica ,dan robusta sudah berjalan sejak tahun 2018 lalu. Kini Kelompok petani Dusun Lahar Pang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri mencoba mengembangkan jenis kopi Arabika.

Dalam rentang waktu satu tahun, semua hasil panen petani kopi mencapai kisaran 6-8 ton biji kering. Biji kering kopi tersebut kemudian masih disortir kembali.

"Saya punya 35 anggota petani yang kita rekrut, untuk penyiapan produksi.Dan seluruh warga sini yang kita tampung hasil panennya. Tapi untuk produksinya sendiri saya punya 11 tim," tuturnya. [](PEN)

Berita terkait
Bisnis Budidaya Ikan Cupang di Kediri Merambah Ekspor
Warga di Desa Badal Pandean, Kediri bisnis budidaya ikan cupang. Bahkan ikan cupang di pasar ekspor dihargai Rp4 hingga 6 juta.
Modus 3 Warga Bengkulu Rampok Uang Nasabah Bank di Kediri
Polres Kediri menembak pelaku perampokan nasabah bank. Korban dirampok di depan rumahnya usai mengambil uang Rp 185 juta.
Tani Wanita Lereng Wilis Kediri Olah Tiwul Jadi Nasi Goreng
Kelompok tani di Lereng Gunung Wilis, Kabupaten Kediri memproduksi tiwul yang bisa menjadi bahas dasar menu nasi goreng.
0
Bau Nangka, Cita Rasa Kopi Reblica Lereng Kelud Kediri
Warga Dusun Lahar Pang, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri selama dua tahun memproduksi kopi khas. Bahkan kopi sudah merambah pasar ekspor.