UNTUK INDONESIA
Apple Hapus 29.000 Aplikasi dari App Store di China
Apple menghapus sebanyak 29.800 aplikasi dari App Store di China, demikian laporan lembaga riset Qimai.
Ilustrasi - Aplikasi App Store. (Antara/Pixabay)

Jakarta - Apple menghapus sebanyak 29.800 aplikasi dari App Store di China, demikian laporan lembaga riset Qimai. Dikutip dari Antara, Minggu, 2 Agustus 2020, aplikasi tersebut dicabut karena masalah lisensi dari regulator game di China. Dari aplikasi yang dihapus itu, terdapat lebih 26.000 game. Apple tidak memberikan komentar atas masalah ini. 

Beberapa waktu lalu, Apple telah memberi batas waktu hingga Juni 2020 kepada para penerbit game agar mereka memasukkan nomor lisensi dari pemerintah yang mengizinkan pengguna berbelanja dari dalam aplikasi.

Laporan Reuters, pasar aplikasi Android di China sudah memenuhi regulasi tersebut, tapi belum jelas kenapa Apple memperketat kebijakan mereka tahun ini. 

Pada awal Juli 2020, Apple menghapus lebih dari 2.500 aplikasi dari App Store. Pemerintah China sudah lama ingin memperketat regulasi game untuk menghapus konten sensitif. 

Seorang sumber dari industri game menyatakan perizinan untuk mengurus izin pembelian dari dalam aplikasi lama dan rumit. 

Manajer pemasaran dari lembaga AppInChina, yang membantu perusahaan asing mendistribusikan aplikasi, Todd Kuhns, mengatakan kebijakan ini berdampak pad pengembang skala kecil dan menengah, terutama dari segi pendapatan.[]

Berita terkait
Microsoft Berunding Ambil Alih TikTok di AS
TikTok di Amerika Serikat (AS) telah menyetujui untuk tidak lagi menginduk ke Beijing ByteDance Technology di China.
TikTok di AS Setuju Lepas dari China
Perusahaan induk TikTok, Beijing ByteDance Technology kabarnya menyetujui memecah operasionalnya di Amerika Serikat (AS).
TikTok di AS Diminta Lepas dari Induknya di China
Pemerintahan Trump sedang menyiapkan perintah agar media sosial TikTok dilepas dari perusahaan induk di China dengan alasan keamanan negara.
0
Jubir Satgas Jelaskan Sejarah Covid-19 Sudah Ada Sejak 1960
Wiku Adisasmito menjelaskan tentang sejarah perkembangan virus corona yang sudah ada sejak dekade tahun 1960-an.