Apakah Ahok Akan Seperti Mereka?
Orang besar pernah dipenjara yaitu Nelson Mandela, Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, Lech Walesa. Apakah Ahok akan seperti mereka?
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (Foto: ABC News)

Jakarta - Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akrab disapa Ahok dipenjara karena kasus kontroversial. Ia dianggap menistakan Islam. Keluar dari penjara beberapa waktu lalu, ia tetap menunjukkan bahwa dirinya masih mempunyai minat membangun Indonesia lewat politik dengan mengumumkan bergabung PDI Perjuangan.

Jalan masih panjang. Sejarah seperti apa yang akan dibuat Ahok ke depan? Berikut ini orang-orang besar yang penjara pun tak sanggup membendung kebesarannya. Apakah Ahok akan menjadi bagian dari mereka?

1. Nelson Mandela

Nelson MandelaNelson Mandela. (Foto: Instagram/NelsonMandelaDream)

Tokoh bernama lengkap Nelson Rohalihlahia Mandel yang kemudian akrab disapa Nelson Mandela ini lahir di Mvezo, Afrika Selatan, 18 Juli 1918. Sebagai pengacara, ia berulang kali dipenjara karena dituduh menghasut untuk bersekongkol menggulingkan pemerintahan. Hingga akhirnya ia dihukum 27 tahun penjara.

Rentetan kampanye internasional menuntut pembebasan Mandela yang dinilai tidak bersalah menggugah pemerintah setempat untuk melepaskannya.

Selama di balik jeruji, Mandela mendapat banyak pelajaran. Ia menjadi seseorang dengan kata-kata bertenaga, mampu memotivasi banyak orang. Di antaranya ia mengatakan, "Kita semua masih memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk memutuskan bagaimana merespons ketidakadilan, kekejaman, dan kekerasan."  

Nelson Mandela  bukan hanya pemimpin, melainkan juga ikon, inspirasi, dan guru kehidupan. Nelson mengungkapkan bahwa cinta jauh lebih penting dan alami daripada kebencian. Setiap orang bisa mengajarkan kebencian atau cinta kepada setiap orang.

Ia juga mengatakan bahwa kebencian itu seperti racun yang bisa menghancurkan diri sendiri. Semua orang pasti menghadapi beragam tantangan dalam hidup, termasuk dirinya yang harus menghadapi dinginnya penjara.  

Selain itu ia juga menyatakan bahwa seorang pemimpin yang baik seharusnya bisa memimpin dari belakang, mempercayai yang dipimpinnya untuk berada di depan. Lupakan kekerasan, senjata dan perang.

Nelson mengajarkan bahwa pendidikan dan pengetahuan adalah senjata yang paling kuat dan bisa digunakan untuk mengubah dunia.

Motivasi itu didapatkannya dari sisi perjalanan hidupnya mulai dari dia seorang rakyat biasa hingga menjadi orang nomor satu sebagai Presiden Afrika Selatan. 

2. Soekarno

SoekarnoSoekarno

Presiden pertama Indonesia Soekarno melewati banyak rintangan dalam hidup. Ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan Partai Nasional lndonesia (PNI) pada 4 Juli 1927 dengan tujuan Indonesia merdeka. Akibatnya, penjajah Belanda menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung, 29 Desember 1929.

Soekarno dikategorikan sebagai tahanan berbahaya sehingga dilakukan pengawasan super ketat. Ia tidak mendapat informasi dari luar, digabungkan dengan tahanan elite Belanda yang terlibat korupsi. Tentu saja, obrolan dengan mereka tidak nyambung dengan Bung Karno muda yang sedang bersemangat membahas perjuangan kemerdekaan. 

Beberapa bulan pertama menjadi tahanan di Sukamiskin, komunikasi Bung Karno dengan rekan-rekan seperjuangannya nyaris putus sama sekali. Tapi sebenarnya ada berbagai cara dan akal yang dilakukan Soekarno untuk tetap mendapat informasi dari luar.

Pada saat itu, hanya telur yang menjadi alat komunikasi Bung Karno dengan istrinya, Inggit. Bila Inggit mengirim telur asin, artinya di luar ada kabar buruk yang menimpa rekan-rekan Bung Karno. Namun, ia hanya bisa menduga-duga saja kabar buruk tersebut, karena Inggit tidak bisa menjelaskan secara detail.

Dua tahun Bung Karno dalam kesendirian, tak ada hari dimana orangtua menjenguknya. Ia juga tak bisa melihat perkembangan anak-anaknya. Ia berada dalam sel tanpa sinar matahari. Lembap, gelap dan dingin.

Tidak berhenti sampai di situ, Bung Karno juga mengalami dipenjara lagi di tempat berbeda, yaitu di Ende, Flores. Dan empat tahun kemudain ia dipindahkan ke penjara di Bengkulu.

Cita-citanya membentuk negara Indonesia merdeka membuatnya tetap hidup. Hingga akhirnya ia dikenang rakyat Indonesia sebagai Bapak Proklamator.

3. Pramoedya Ananta Toer

PramoedyaPramoedya Ananta Mastoer. (Foto: Istimewa)

Putra sulung tokoh Institut Boedi Oetomo, Pramoedya Ananta Toer akrab disapa Pram. Ia tidak begitu cemerlang dalam pelajaran sekolah. Pernah tidak naik kelas hingga tiga kali, sehingga orangtuanya menganggapnya sebagai anak bodoh. Siapa menyangka kemudian hari ia menjadi sastrawan yang cemerlang.

Bukunya "Hoa Kiau di Indonesia" berisi pembelaan terhadap nasib kaum Tionghoa di Indonesia, tidak disukai pemerintahan orde baru. Ia juga dituduh terlibat gerakan G 30 S PKI, dipenjara tanpa melewati proses peradilan. 

Saat berada dalam penjara, Pram tidak berhanya berkarya. Karya yang kemudian menjadi masterpiece, "Tetralogi Buru" dan roman "Arus Balik". 

Namun pada saat itu, karyanya itu tidak dapat disampaikan kepada publik karena adanya pengawasan yang ketat.

Seorang pastor Jerman, warga negara Australia bernama Max Lane berhasil menyelundupkan karya Pram, menerbitkan tetralogi itu pertama kali di luar negeri. 

"Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi sayang tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia," kata Pram suatu kali.

4. Lech Walesa

Lech WalesaLech Walesa. (Foto: Facebook/lechwalesa)

Lech Walesa adalah seorang politikus sekaligus aktivis buruh di Polandia. Ia pemimpin serikat buruh komunis indpenden solidarnosc. Meskipun serikat yang digelutinya itu terlarang di Polandia, ia tetap berjuang dan peduli pada isu-isu buruh. Ia mengajak teman-temannya untuk memboikot aksi protes yang mengecam serangan kepada mahasiswa.

Berbagai aksi yang dilakukannya dianggap tidak berpihak kepada pemerintah sehingga ia harus ditahan selama 11 bulan. Setelah keluar dari penjara, ia mengajukan diri menjadi presiden, dan warga Poladia telah mengakui kualitasnya sebagai pemimpin para buruh.

Selama masa jadi presiden, ia menerapkan Rencana Balcerowicz untuk melakukan transisi menuju ekonomi pasar bebas dan privatisasi. Ia juga mendukung Polandia menjadi anggota Uni Eropa (UE) dan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). 

Ketika habis masa jabatan menjadi presiden, ia memberikan kuliah umum di berbagai negara. Ia mendirikan Institut Lech Walesa dengan tujuan mempopulerkan prestasi Solidarnosc, mengedukasi generasi muda, mempromosikasn demokrasi, dan kekuatan sipil. 

Dunia melihat sepak terjangnya dan ia pun dianugerahi Nobel Perdamaian. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Membuat Kabin Mobil Tetap Harum
Banyak aktivitas dilakukan di dalam mobil sambil mengemudi terlebih bagi seseorang yang mobilitasnya tinggi.