UNTUK INDONESIA
Apa Penyebab Kasus HIV/AIDS di Kota Padang Banyak
Jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Padang, Sumatera Barat, terbanyak dari daerah lain di Sumatera Barat, apa penyebab kasus HIV/AIDS banyak di Padang
Ilustrasi (Foto: unaids.org)

Padang – Linarni (Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Linarni Jamil-red.) menjelaskan bahwa HIV/AIDS bisa menular melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik tidak steril, dan kontak dengan cairan tubuh orang terinfeksi. Pernyataan ini ada dalam berita “Jumlah kasus HIV/AIDS di Padang tinggi” (bengkulu.antaranews.com, 18 Januari 2020). Disebutkan pada periode Januari-November 2019 terdeteksi 325 kasus HIV/AIDS di Kota Padang, Sumbar.

Pernyataan Linarni di atas seakan menggelapkan fakta tentang faktor risiko yang potensial dalam penyebaran HIV/AIDS yaitu hubungan seksual berisiko pada kalangan heteroseksual. Laporan Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 27 Agustus 2019, menunjukkan jumlah kasus AIDS yang dilaporkan dari tahun 1987 sd. Juni 2019 yaitu sebanyak 117.064 dengan faktor risiko penularan terbanyak melalui hubungan seksual berisiko heteroseksual yaitu 70,2%.

1. Lesbian Tidak Termasuk Populasi Kunci

Penyebutan ‘kontak dengan cairan tubuh orang terinfeksi’ sebagai cara penularan HIV/AIDS tidak akurat karena dalam jumlah yang bisa ditularkan HIV hanya terdapat pada cairan darah (laki-laki dan perempuan), air mani (laki-laki), cairan vagina (perempuan) dan air susu ibu/ASI (perempuan). Penularan melalui cairan ini juga tidak hanya karena sekedar kontak, tapi melalui cara-cara yang khas, seperti air mani dan cairan vagina penularannya hanya melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Linarni juga mengatakan penyebab kasus HIV/AIDS terbanyak di Kota Padang, "Salah satu faktornya karena jumlah penduduk di Padang lebih banyak dari daerah lainnya dan Padang juga merupakan ibu kota Sumbar."

Alasan Linarni ini tidak akurat karena di Papua jumlah penduduknya tidak banyak tapi kasus AIDS banyak. Kasus HIV/AIDS banyak tercatat di Kota Padang dan kota-kota besar lainnya karena ada warga dari daerah lain yang melakukan tes HIV di Kota Padang dan kota-kota besar lain. Ini terjadi karena dulu fasilitas tes HIV dan kelompok dampingan hanya ada di ibu kota provinsi.

Dikatakan lagi oleh Linarni: "Penularan HIV/AIDS juga bisa melalui hubungan seks bebas, yaitu hubungan antara lelaki sesama lelaki atau hubungan seperti lesbian, gay, biseksual, transgender."

Penularan HIV/AIDS tidak ada kaitannya dengan orientasi seksual. Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual pada gay terjadi karena salah satu dari pasangan tsb. mengidap HIV/AIDS dan yang menganal tidak memakai kondom.

Seks pada lesbian tidak termasuk faktor risiko karena tidak ada seks penetrasi pada lesbian. Dalam kelompok kunci terkait dengan penyebaran HIV/AIDS pun lesbian tidak masuk dalam kelompok kunci.

Terkait dengan transgender atau yang lebih dikenal sebagai waria, sebuah studi di Surabaya, Jawa Timur, tahun 1990-an menunjukkan pelanggan waria adalah laki-laki heteroseksual yang beristri. Laki-laki beristri justru jadi perempuan (dianal) ketiksa seks dengan waria, sedangkan waria jadi laki-laki (menganal). Kondisi ini membuat laki-laki beristri berisiko tinggi tertular HIV/AIDS atau penyakit kelamin (infeksi menular seksual/IMS), seperti kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus kanker serviks, dll.

2. Ada Dua Tipe PSK

Mereka kemudian menularkan penyakit-penyakit tsb. kepada istrinya. Itulah sebabnya banyak kasus HIV/AIDS dan penyakit kelamin yang terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga karena mereka tertular dari suami. Istri tidak punya posisi tawar yang kuat untuk mengetahui perilaku seksual suaminya di luar rumah sehingga mereka jadi korban.

Ia (Linarni-red.) menghimbau warga melakukan pemeriksaan diri jika pernah melakukan tindakan yang berisiko menyebabkan penularan HIV/AIDS atau penyakit menular seksual lainnya.

Siapa saja warga yang diimbau menjalani tes HIV?

Sayang, dalam berita tidak ada penjelasan yang rinci. Warga yang diimbau menjalani tes HIV adalah: (a) laki-laki dan perempuan dewasa yang sering kawin-cerai, (b) laki-laki dan perempuan dewasa yang sering gonta-ganti pasangan seks di dalam dan di luar nikah, dan (c) laki-laki dewasa yang sering seks dengan pekerja seks komersial (PSK).

Yang perlu diingat adalah PSK ada dua tipe yaitu:

(a). PSK langsung adalah PSK yang kasat mata yaitu PSK yang ada di lokasi atau lokalisasi pelacuran atau di jalanan.

(b). PSK tidak langsung adalah PSK yang tidak kasat mata yaitu PSK yang menyaru sebagai cewek pemijat, cewek kafe, cewek pub, cewek disko, anak sekolah, ayam kampus, cewek gratifikasi seks (sebagai imbalan untuk rekan bisnis atau pemegang kekuasaan), PSK high class, cewek prostitusi online, dll.

Banyak laki-laki yang merasa perilaku seksnya tidak berisiko karena mereka seks dengan PSK tidak langsung, padahal PSK tidak langsung juga dalam prakteknya sama saja dengan PSK langsung.

Untuk menanggulangi HIV/AIDS di Kota Padang khususnya dan di Sumbar umumnya adalah dengan membuat program intervensi terhadap laki-laki yang seks dengan PSK agar mereka memakai kondom setiap kali seks. Tanpa program ini penyebaran HIV/AIDS di Kota Padang dan Sumbar akan terus terjadi yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS’. []

Berita terkait
Menelusuri Akar Kasus HIV/AIDS Pertama di Indonesia
Pemerintah menetapkan kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia yaitu HIV/AIDS yang terdeteksi pada turis gay Belanda di RS Sanglah Denpasar tahun 1987
Kawin-kontrak Bisa Jadi Mata Rantai Penyebaran AIDS
Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sampai Juni 2019 dilaporkan 466.859, insiden infeksi HIV baru terus terjadi al. melalui kawin-kontrak
Penderita HIV/AIDS Pesisir Selatan Naik 100 Persen
Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, meningkat seratus persen sejak tiga tahun terakhir.
0
Pengamat Sebut Negara Berhak Tangkal ISIS Eks WNI
Negara berhak melakukan penangkalan terhadap ISIS eks WNI untuk pulang ke Indonesia demi melindungi warga di dalam negeri