UNTUK INDONESIA
Anies Baswedan Disebut Hanya Perhatikan Estetika Trotoar
Gubernur Jakarta Anies Baswedan dinilai hanya memperhatikan estetika permukaan trotoar saja. Dia memalingkan unsur penting lain.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berdiri di depan instalasi Bambu Getah Getih senilai Rp 550 juta. (Foto: Instagram/Anies Baswedam)

Jakarta - Pemprov DKI Jakarta memperlebar trotoar di sejumlah titik di Jakarta. Dalam pembangunannya, pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Yoga menyebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hanya memperhatikan estetika permukaan trotoar saja. Dia dinilai memalingkan muka terkait integrasi jaringan lain, seperti saluran air dan jaringan utilitas terpadu di bawah trotoar.

"Tidak tertutup kemungkinan ke depan trotoar akan dibongkar untuk perbaikan atau pengembangan kapasitas jaringan utilitas yang dilakukan secara bergantian, tanpa henti sepanjang tahun," kata Nirwono Yoga kepada Tagar, Rabu 24 Juli 2019.

Pemprov DKI Jakarta diketahui melakukan revitalisasi trotoar sepanjang kawasan Cikini-Kramat Raya. Dibangun sejak Juni 2019, dijadwalkan akan berakhir pada Desember 2019. Estimasi dana proyek pelebaran trotoar sejauh 10 kilometer menelan biaya sebesar Rp 75 miliar.

Penampakan Trotoar 75 Miliar Anies BaswedanRevitalisasi pelebaran trotoar Jalan Cikini Raya -Kramat Raya yang menelan dana Rp 75 miliar. (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Berbeda dengan Nirwono, pengamat tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriatna menyambut baik kebijakan pelebaran trotoar ini. Ia menilai, pejalan kaki merupakan prioritas utama di jalan, kemudian diikuti oleh sepeda, angkutan umum, kendaraan lain yang berkaitan dengan fasilitas pelayanan publik, dan terakhir kendaraan pribadi.

"Di balik pembangunan trotoar itu, ada pesan yang ingin disampaikan. Kita menuju kota yang semakin humanis. Menuju kota yang mendorong pejalan kaki," kata dia.

Menurut Yayat, kondisi trotoar yang baik akan memicu pejalan kaki menggunakan transportasi umum. Terlebih, bila posisi trotoar dekat keramaian, seperti stasiun kereta, terminal bus, pusat perbelanjaan, dan area perkantoran.

"Kalau transportasinya banyak, itu juga bisa mendorong penggunaan transportasi umum. Memang, trotoar itu harus lebar-lebar," jelas dia.

Penampakan Trotoar 75 Miliar Anies BaswedanRevitalisasi pelebaran trotoar Jalan Cikini Raya -Kramat Raya yang menelan dana Rp 75 miliar. (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Apresiasi juga datang dari ketua kelompok yang kerap menyerukan hak-hak pejalan kaki di kota besar 'Koalisi Pejalan Kaki', Alfred Sitorus. Berdasarkan fungsi yang dapat dinikmati pejalan kaki, Alfred mengapresiasi revitalisasi trotoar yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

Dia berharap, trotoar yang sudah selesai dibangun bisa berfungsi sepenuhnya untuk memenuhi hak para pejalan kaki. "Trotoar yang mulai diperbaiki sejak 2014 sampai sekarang kita berharap bisa difungsikan secara maksimal oleh pejalan kaki," kata Alfred.

Sebelumnya Anies mengatakan pembangunan pelebaran trotoar bertujuan agar memicu masyarakat untuk berjalan kaki. Menurut dia, melebarkan trotoar lebih bermanfaat dibandingkan meluaskan jalan.

Nantinya, kata Anies, trotoar Cikini-Kramat Raya yang tadinya memiliki lebar tiga meter, akan ditambah menjadi empat hingga tujuh meter. Namun, akibat pelebaran trotoar yang memakan badan jalan, kemacetan tak dapat dihindari, terutama saat jam sibuk.

Tak hanya kawasan Cikini-Kramat Raya, pelebaran trotoar lain juga akan dilakukan di kawasan Kemang dan Kasablanka, Kuningan, Jakarta Selatan pada tahun 2019

Baca juga: 

Berita terkait
0
Italia Utara Diblokir, WNI Diimbau Tetap Tenang
Italia Utara diblokir karena virus Corona, pemerintah Indonesia imbau WNI yang tinggal di negara tersebut tetap tenang.