UNTUK INDONESIA
Anak Segudang Prestasi Ditolak Sistem PPDB Jakarta
Aristawidya Maheswari, anak peraih penghargaan seni lukis tingkat daerah dan nasional juga ditolak di jalur prestasi PPDB 2020.
Aristawidya Maheswari (Foto: Wartakotalive.com/Rangga Baskoro)

Jakarta - Anak yatim piatu peraih 700 penghargaan seni lukis, Aristawidya Maheswari, terhenti melanjutkan pendidikan ke bangku SMA. Alumni SMPN 92 Jakarta ini telah mencoba masuk ke delapan SMA Negeri tapi gagal lantaran tertolak oleh sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Jakarta 2020.

"Rasanya sedih, tapi senangnya aku bisa meluangkan waktu untuk melukis, mengajar dan lebih banyak waktu berbagi di RPTRA," ucap remaja berusia 15 tahun ini seperti dikutip Antara, Jakarta, Rabu, 8 Juli 2020. RPTRA atau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak merupakan tempat Arista berbagi ilmu lukis termasuk ke anak jalanan.

Ia ingin melanjutkan ke sekolah swasta namun kondisi keuangannya belum mengizinkan. Putri dari pasangan Triyo Nuryamin dan Armeisita Nugraha Riska itu ditinggal wafat oleh orang tuanya pada kurun 2010 dan 2012. Peraih penghargaan tingkat daerah dan nasional sejak usia TK dan SD ini juga ditolak di jalur prestasi PPDB sebab sistem mensyaratkan penghargaan lomba diraih maksimal tiga tahun terakhir.

Udah coba ke delapan sekolah, tapi tidak dapat juga

Pengagum pelukis Basuki Abdullah ini mengakui nilai rapornya di bangku sekolah tak masuk kategori yang diinginkan sistem. Tapi bukan berarti nilainya amat kecil.

"Nilai aku tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah juga. Udah coba ke delapan sekolah, tapi tidak dapat juga," ujar anak yang tinggal di Rusun Jatinegara Kaum, Pulo Gadung, Jakarta Timur, ini.

Kemarin, 8 Juli 2020, pukul 15.00 WIB adalah batas waktu penerimaan sekolah negeri melalui jalur terakhir berupa 'bangku sisa' yang dialokasikan dari peserta PPDB yang tidak mendaftar ulang serta siswa tidak naik kelas. Meski faktor usia tidak lagi dipertimbangkan dalam jalur terakhir itu, namun nilai rapor perempuan peraih 700 lebih penghargaan ini belum beruntung di PPDB.

Arista hanya mengumpulkan nilai 7.762,4 berdasarkan akumulasi nilai rata-rata rapor 81,71 yang dikalikan nilai akreditasi 9,5 poin. "Pada jalur terakhir ini aku mencoba di SMAN 12, 21, 36, 61, 53, 59, 45 dan 102. Tapi rata-rata yang diterima nilainya 8.000-an," ujarnya.

Tak dapat meneruskan pendidikan, Arista memili fokus mengajar lukis di RPTRA Jakarta Timur. Ia juga rutin mengajar lukis di Jaka Berseri, Jaka Teratai dan Yayasan Rumah Kita.

Ia punya murid dari kalangan anak jalanan hingga anak kompleks perumahan di sekitar RPTRA. "Kalau di RPTRA itu sifatnya sosial tidak ada biaya, kecuali yang privat panggilan ke rumah di dekat RPTRA, ada untuk uang jajan saya," katanya. []

Baca juga:

Di DPR, Nadiem Makarim Bicara Target Merdeka Belajar

Berita terkait
76 Ribu Lebih Siswa Daftar PPDB Online SMA Sumbar
Pendaftaran calon siswa baru melalui PPDB online SMA dan SMK di Sumatera Barat telah ditutup. Tercatat sebanyak 76.666 orang yang mendaftar.
Ombudsman Sumbar Sebut Puncak Laporan PPDB Hari Ini
Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Barat memprediksi puncak laporan masyarakat terkait PPDB terjadi hari ini, Kamis, 9 Juli 2020.
Alasan Disdik Sumbar Perpanjang Pendaftaran PPDB SMA
Dinas Pendidikan Sumatera Barat memperpanjang masa pendaftaran PDBB SMA untuk melakukan validasi data calon siswa.
0
Stok Gas LPG 3 Kilogram Tersisa 6,5 Juta Tabung di Sumbar
Stok gas LPG ukuran tiga kilogram di Sumatera Barat (Sumbar) tersisa 6,5 juta tabung hingga akhir tahun 2020.