UNTUK INDONESIA
Aji Santoso, dari Liga Tarkam Hingga Jadi Pelatih
Aji Santoso adalah bintang muda masa keemasan Timnas Garuda ketika meraih medali emas di Sea Games 1991.
Aji Santoso. (Foto: Instagram @officialpersebaya)

Jakarta - Aji Santoso sudah resmi menyandang pelatih klub Persebaya Surabaya sejak 31 Oktober 2019. Sebagai pelatih, dia akan membenahi mental dan semangat berjuang para pemain Pesebaya. Serta tekad mengembalikan kepercayaan diri para pemain demi mengarungi Liga 1 tahun 2019.

Coach Aji, demikian disapa, sudah cukup berpengalaman di dunia kepelatihan sepak bola. Sebelum menjadi pelatih, dia merupakan pesepak bola kebangaan pada zamannya.

Aji adalah bintang muda masa keemasan Timnas Garuda ketika meraih medali emas di Sea Games 1991. Atlet sepak bola kelahiran Kepanjeng, Malang, 6 April 1970 ini merupakan pasangan dari Samadikum dan Siti Khadijah. 

Sejak Kecil Gemar Sepak Bola

Sejak kecil, kedua orang tuanya sudah melihat bakat sang anak yang suka bermain sepak bola. Aji kecil sangat senang bermain sepak bola bahkan sering mengikuti liga tarkam di kampung halamannya.

Karier sepak bola Aji Santoso dimulai dengan menjelajah antar kampung. Bisa dikatakan sepak terjang pria berumur 49 tahun ini penuh perjuangan serta kerja keras. 

Pergantian klub yang dibela Aji dalam waktu cukup sering membuat dia kaya akan pengalaman. Tiga tim tidak resmi serta lima tim profesional merupakan pencapaian yang baik dalam karier sepak bolanya.

Aji sudah bermimpi untuk menjadi bintang sepak bola dan membanggakan Tanah Air sejak kecil. Demi mencapai tujuannya, Aji bergabung dengan klub Argo Manunggal Sawunggaling (AMS), klub lokal di di kampung halamannya ketika dia menginjak usia 16 tahun.

Setelah satu tahun membela klub kampung halamannya, Kepanjen, dia memutuskan untuk hijrah menuju Gajayana Malang pada 1987. Pengalaman selama satu tahun di AMS sangat berarti bagi Aji ketika menjadi bagian dari squad Gajayana Malang. Namun, dia hanya bertahan di klub asal Malang ini kurang dari satu tahun.

Mantan pemain sepak bola posisi bek kiri ini melanjutkan kiprah sepak bolanya di Persema Jr pada 1987. Saat itu, Aji berusia 17 tahun tapi bakatnya sudah menarik perhatian banyak pencari bakat. 

Keahlian dan skill Aji Santoso mengantarkannya membela Arema Malang tahun 1988. Arema Malang merupakan klub profesional pertama pesepak bola asal Malang ini. 

Dia membela tim berjuluk Singo Edan ini mulai 1988 hingga 1995. Dia berhasil membantu Singo Edan menyabet juara Liga Indonesia di musim 1992/1993.

Setelah cukup berpengalaman dalam membela Arema, dia hijrah ke klub asal Surabaya dengan dominasi warna hijau, Persebaya. Aji bertahan di klub dengan panggilan fans Bonek ini mulai dari 1995 hingga 1999. Di sini, Aji juga berhasil membantu klubnya membawa pulang gelar juara Liga Indonesia pada musim 1997/1998.

Setelah bertahan selama empat musim, dia hijrah ke PSM Makassar beserta pengalaman yang semakin menggunung. Di klub asal Makassar ini, Aji hanya bertahan selama satu musim sebelum akhirnya melanjutkan karier sepak bolanya di Malang bersama dengan klub Persema. 

Untuk kali ketiganya Aji berhasil membawa klub yang dibelanya meraih juara Liga Indonesia bersama PSM Makassar pada musim kompetisi 1999/2000. []

Ketika membela Arema Malang, kepiawaiannya bermain bola yang mumpuni dan cukup berprestasi di Arema. Aji menjadi bagian Tim Sepak Bola Jawa Timur dan berhasil meraih medali perak Pekan Olahraga Nasional (PON) Tahun 1989. 

Tidak hanya menjadi bagian dari squad daerah, Aji juga berhasil masuk jajaran pemain Timnas Garuda Indonesia. Di bawah naungan Timnas Garuda yang kala itu dinahkodai oleh trio pelatih Anatoli Polosin, Vladimir Urin, dan Danurwindo, Aji Santoso berhasil membantu Timnas meraih medali emas di ajang Sea Games 1991. 

Kala itu, Aji berusia 21 tahun dan diperbolehkan turut membela Timnas Senior karena belum ada aturan untuk squad campuran usia.

Namun siapa sangka, sejak Aji Santoso bersama Timnas Garuda Indonesia memenangkan medali emas di ajang Sea Games, hingga kini Indonesia belum pernah meraih medali emas lagi pada perhelatan bergengsi se-Asia Tenggara itu. Masa keemasan Aji bersama timnas dicatat dalam kurun waktu 1990-1999.

Aji Santoso
Aji Santoso. (Foto: Instagram @adityawany)

Menutup Karier Profesional

Aji Santoso menutup karier profesionalnya sebagai atlet sepak bola dengan berlabuh di Persela Lamongan yang mana kompetisi 2004 menjadi tahun terakhirnya sebagai pesepak bola. Dia menutup karier sebagai pemain di Arema Malang pada usia 34 tahun.

Satu catatan yang cukup membanggakan bagi Aji Santoso tatkala tidak pernah absen dalam daftar squad utama baik level klub maupun Timnas Garuda. 

Dia selalu dipercaya menjadi pemain utama serta mengenakan ban kapten di lengannya.

Karier kepelatihan profesional Aji pertama kali saat dia diberi mandat untuk memimpin Timnas U-17. Selanjutnya, menjadi pelatih tim sepak bola untuk kontingen PON Jawa Timur 2008. Saat itu, dia membawa pulang medali emas.

Di level klub, coach Aji sempat memimpin Persik Kediri (2009), Persebaya Surabaya (2009), Persisam Putra Samarinda (2009-2010), Persema Malang (2010), Persebaya Surabaya (2010-2011), Arema FC (2017), dan terakhir berusaha mengeluarkan Persela Lamongan dari jurang degradasi pada September 2017.

Pada akhir tahun 2010, nama Aji sempat masuk radar PSSI untuk pelatih Tim Nasional Indonesia (senior). Di level timnas, Aji pertama kali memimpin pasukan Merah Putih di level U-23 sebagai asisten hingga menjadi pelatih di tahun 2014.

Namun, prestasi Aji di dunia kepelatihan tidak semulus saat dia menjadi pemain. Ketika menjadi asisten timnas U-23, dia hanya mampu membawa timnya meraih medali perak di ajang Sea Games Myanmar 2013.

Kini, Aji Santoso kembali ke klub yang pernah membesarkan namanya, Persebaya Surabaya sebagai kepala pelatih setelah resmi ditunjuk pada 31 Oktober 2019. 

Aji menggantikan posisi Wolfgang Pikal yang mundur dari tim. Aji akan menyelesaikan kompetisi Liga 1 tahun 2019 putaran kedua sebagai pelatih. []

(Revy Putra Andaryanto)

Berita terkait
Ketua Umum PSSI Baru Didukung FIFA dan Pemerintah
Ketua Umum PSSI terpilih Komisaris Jenderal Polisi Mochamad Iriawan mendapat dukungan dari FIFA dan pemerintah. Iriawan terpilih dalam KLB PSSI.
Mochamad Iriawan Terpilih Ketua Umum PSSI
Komisaris Jenderal Polisi Mochamad Iriawan terpilih menjadi Ketua Umum PSSI 2019-2023 setelah meraih mayoritas suara voter di KLB PSSI.
Suporter Sepak Bola Nyatakan Sikap Kepada PSSI
Suporter Indonesia menggelar pertemuan untuk menyatakan sikap kepada PSSI. Mereka tergabung dalam Suporter Indonesia Bermartabat kopdar di Madura.
0
Orang Batak Sudah Mulai Malu Berbahasa Batak
Trisna Pardede menggelar diskusi soal bahasa Batak bersama Saut Poltak Tambunan, penulis novel berbahasa Batak Si Tumoing Manapu Nipi.