UNTUK INDONESIA
Ahli Racik Tembakau di Dataran Tinggi Kabupaten Agam
Petani dan perkebunan tembakau di Kecamatan Palembayan, Kecamatan Agam, Sumatera Barat, dinilai memiliki potensi agrowisata.
Harmon melintas di belakang jemuran tembakau miliknya di Palembayan. (Foto: Tagar/Rifa Yanas)

Agam — Jemuran tembakau milik Daus Sultan Mantari yang berjejer, mulai mengering, setelah beberapa hari dijilat cahaya matahari. Daus mondar-mandir dari gubuk kecilnya menuju halaman rumah, mengangkat satu per satu jemuran.

Di dalam gubuk sederhana berukuran 2 x 3 meter itu, Harmon Sutan Mudo, seorang rekannya sudah menanti. Sejak pagi buta keduanya sudah bangun dan mengolah daun-daun tembakau.

Gubuk dan rumah mereka terletak di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Diperlukan waktu tempuh sekitar empat jam dari Kota Padang, atau sekitar satu jam dari pusat Kota Bukittinggi.

Tapi meski tidak terlalu jauh, akses jalur menuju Kecamatan Palembayan berkelok-kelok dan tidak rata, akibatnya, waktu tempuh menjadi lebih lama.

Lama sudah para petani tembakau tradisional di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, khususnya Nagari Sungaipuar berharap untuk hidup lebih layak dari hasil perkebunan tembakau.

Namun akses menuju kebun tembakau yang cukup parah, menjadi momok untuk mewujudkan asa itu. Kendati begitu, racikan tembakau khas daerah itu bertahan dari generasi ke generasi.

"Yang sudah kering ini, baru satu lapis. Harus ditimpali lagi lapisan berikutnya. Mumpung cuaca cukup panas, semoga lapisan kedua akan kering juga hari ini untuk dijual besok ke Pasar Maninjau," kata Daus sembari meneruskan aktivitasnya siang itu, Selasa 15 September 2020.

Spesialis Racik Tembakau

Daus Sutan Mantari merupakan seorang spesialis meracik daun tembakau. Beberapa helai daun yang sudah digulung seukuran bola basket, diiris tipis menggunakan parang.

Agar irisan sama halusnya, Daus mengapitkan gulungan tembakau ke tumpuan berbahan besi. Alat seadanya ini diakali sendiri, sangat jauh dari kata modern.

Cerita Tembakau Agam (2)Daus mengiringi dan meracik daun tembakau di sebuah gubuk mini yang berlokasi di Nagari Sungaipuar, Kecamatan Palembayan. (Foto: Tagar/Rifa Yanas)

Sementara, Harmon Sutan Mudo cukup lihai menabur hasil racikan ke atas papan jemuran. Tidak boleh ada yang terlalu tebal, juga tidak begitu tipis. Harus telaten agar tingkat kekeringan tercapai sempurna, sama rata. Keduanya kompak mengejar target, harus ada yang terjual dalam pekan ini.

Mata pencaharian serupa hampir dapat ditemui di setiap rumah yang ada di Nagari Sungaipuar, Kecamatan Palembayan. Sedikitnya 120 kepala keluarga berprofesi sebagai petani tembakau tradisional.

Dulu pernah ada yang mencoba bertanam cabai, namun gagal panen dan merugi. Ujung-ujungnya balik lagi ke tembakau. 

Lahan yang umumnya berupa tanah ulayat kaum, kini merata ditanami tembakau. Saya misalnya, maksimal pernah tanam 30 ribu batang.

Kecamatan Palembayan membentang diantara 50 hingga 1425 meter di atas permukaan laut (mdpl). Udara yang lembab di kawasan perbukitan menjadikan daun tembakau tumbuh subur di wilayah bertopografi perbukitan itu.

Saat ini Daus bukan murni sebagai petani tembakau, tetapi jadi pengumpul tembakau dari petani lain. Tanah warisan keluarganya dia disewakan kepada petani lain.

Saat musim panen tiba, Daus pun mulai mematok harga sewa kebun pada para petani, bersamaan dengan agen-agen pengumpul lainnya.

Daus dan para pengumpul lain membeli tembakau produksi petani dengan hitungan 100 papan jemuran tembakau, yang disebut satu lumbo. Harga satu lumbonya berkisar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,7 juta.

“Kami membeli dengan takaran satu lumbo. Jika daun hasil panennya bagus, bisa mencapai di atas 100 papan. Jika banyak yang busuk, maka tentu berkurang. Di situ pula pertaruhannya. Perlu insting yang tepat, disesuaikan dengan tenaga, cuaca, dan permintaan pasar," ucap Daus yang berusia 43 tahun ini.

Sementara, mereka menjual satu papan jemuran daun tembakau seharga Rp 20 ribu pada pedagang di pasar tradisional untuk kualitas biasa, dan termahal Rp 40 ribu per papan untuk kualitas super.

Jika satu lumbo tembakau mereka laku, Daus dan Harmon mendapat uang sekitar 2-4 juta rupiah. Jika keduanya mampu merampungkan satu lumbo dalam tiga hari, mereka bisa untung bersih Rp 800 ribu sampai Rp 2 juta.

"Hasil penjualan kami bagi dua setelah dikeluarkan modal bahan baku dan ongkos ke pasar," kata pria beranak dua itu menyebutkan hasil racikan tembakaunya dipasarkan ke Kota Payakumbuh, Kabupaten Pasaman dan seluruh pasar tradisional di Kabupaten Agam.

Kendala Alam

Daus mengaku keterampilannya mengolah tembakau merupakan warisan dari kakeknya. Ilmu racik tembakau diajarkan ke generasi penerus. Dia pun yakin, mendiang kakek juga sudah melakoni dunia tembakau jauh dari generasi sebelumnya.

Bunga Raflesia di AgamDi Kecamatan Palembayan tumbuh puluhan bunga langka jenis Raflesia Tuan Mudae yang mekar bergantian sepanjang tahun. (Foto: Tagar/Dok BKSDA Agam)

"Sejak kecil ini saja yang dilalui. Makanya, saya kadang bosan keluar masuk rimba dengan jalan yang ekstrem. Lima tahun belakangan, saya ingin mengubah nasib ke arah yang lebih. Dengan menjadi pengumpul, lalu mengolah tembakau sendiri, minimal bisa berdagang ke luar daerah," katanya.

Meski demikian selalu ada dua sisi dalam satu pilihan, plus maupun minus. Kadang setelah memborong hasil kebun tembakau, ternyata hasil olahan yang bisa dijual tidak sebanyak yang diharapkan.

Faktor cuaca tak jarang menjadi penyebab tembakau lambat kering. Sehingga perputaran modal menjadi tersendat karena tembakau belum bisa dijual. Atau bisa juga banyak daun yang tidak bisa diolah, daun tembakau yang ditumpuk di gubuknya jadi busuk jika tidak cepat ditangani.

"Mengolah tembakau, berburu dengan waktu. Berharap jalan tidak diterpa hujan, berharap tembakau cepat kering," kata suami Rika ini.

Sementara Harmon mengatakan, kondisi jalan yang sering licin saat hujan, bisa menurunkan harga tembakau di kebun. Tidak ada yang berani mendaki bukit dengan jalanan berlumpur. Otomatis, pemilik kebun akan menjual daun tembakau dengan harga murah.

Musim hujan sangat ditakuti terutama di kala panen. Jalan setapak berbatu di tengah rimba itu hanya dapat dilalui sepeda motor dalam kondisi kering.

"Bebatuan jalan akan bergelimang lumpur saat hujan. Berbahaya jika dipaksakan. Warga biasanya hanya bertahan di rumah. Beberapa daun tembakau yang sudah menua akan menguning. Tentu kualitasnya menurun," kata Harmon.

Pakar pariwisata dari Politeknik Negeri Padang, Rini Ekasari menilai banyak potensi destinasi wisata terpendam di Sumbar yang belum tergarap maksimal. Salah satunya sektor agrowisata tembakau.

Dia menyarankan pemerintah bersama masyarakat melahirkan konsep agrowisata yang digabung dengan wisata edukasi.

“Petani tembakau di Pulau Jawa sudah memulainya. Di Sumbar tentu juga bisa, tergantung bagaimana mengemasnya,” kata Rini.

Jebolan S2 Pariwisata Tourism Management Universite d'Angers Prancis itu memberi syarat adanya 4 elemen yakni Atraksi, Akses, Amenitis, dan Ancilary.

“Atraksi pariwisata dalam cakupan tembakau misalnya menyajikan pemandangan alam eksotis, lalu secara sosial budaya menampilkan cara tradisional petani mengolah tembakau. Atau event-event seputar pameran tembakau atau lomba melinting tembakau,” kata dia.

Kemudian, aksesibilitas harus pula dibenahi. Bisa saja jalan berlumpur menjadi daya tarik tersendiri sebagai penambah adrenalin wisatawan, tapi itu harus benar-benar dikemas sedemikian rupa. Maka akses utama harus memadai, minimal jalur masuk destinasi wisata.

Kata Rini, amenitis atau fasilitas penunjang harus pula disiapkan. Sarana prasarana di lokasi destinasi menjadi kunci tidak kalah penting. Harus ada penginapan, rumah makan, tempat ibadah, toilet umum, lahan parkir dan agen perjalanan sebagai mitra bisnis yang bersinergi.

Ancilary atau pelayanan tambahan juga bisa diprioritaskan. Misalnya informasi seputar paket pariwisata, denah lokasi, jasa antar jemput dan penyediaan guide. Sebagai kandidat destinasi baru yang unik, mungkin sektor ini paling menjual untuk mengundang rasa ingin tahu wisatawan,” ucap Rini.

Cerita Tembakau Agam (3)Sarasah Batang Kuran, salah satu destinasi wisata di Kecamatan Palembayan yang menyimpan potensi alam menawan. (Foto: Tagar/ Instagram @hitsnya_palembayan)

Peraih Program Beasiswa Double Degree Indonesia Prancis ini menambahkan sektor pariwisata memiliki unsur pentahelix yang akan bersinergi. Rini mengistilahkan ABCGM. Yaitu Akademisi, Bisnis, Community, Government dan Media.

“Setiap unsur ini harus berperan dalam berkembangnya sebuah destinasi wisata,” tutupnya.

Saat ini di Kecamatan Palembayan sedikitnya ada 8 kelompok tani tembakau. Masing-masing kelompok, mengolah tiga hektare lahan setara dengan 30.000 bibit tembakau.

Dinas Pertanian Agam pernah memberikan bantuan berupa dua alat mesin perajang tembakau dengan total anggaran Rp 40.000.000.

Tidak hanya itu, tembakau rendah nikotin berupa varietas Rodong Teleng juga sudah dikenalkan ke para petani. Bahkan, bantuan pernah diberikan sebanyak 140ribu batang bibit yang disebar ke sejumlah kecamatan.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Agam, Syatria meyakini gagasan ini suatu pembaruan yang mantap.

“Kami akan segera lakukan mapping (pemetaan). Saya akan koordinasi dengan Dinas Pertanian, jika memang potensinya ada, akan segera ditindaklanjuti,” katanya, Kamis 17 September 2020.[] (PEN)

Berita terkait
Meredupnya Sinar Kejayaan Tembakau di Temanggung
Harga tembakau Temanggung semakin merosot akibat pandemi Covid-19, untuk tembakau kualitas bagus atau grade D harga jualnya Rp 60 ribu.
Selera Rokok yang Terpaksa Berubah Akibat Pandemi
Sejumlah warga di Kabupaten Banyuwangi mengubah selera rokoknya dari rokok pabrikan menjadi rokok tembakau lintingan sendiri akibat pandemi.
Transaksi Unik Subuh di Onan Tarutung Tapanuli Utara
Ada cara unik dalam transaksi jual beli kain tenun ulos khas Batak, di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, yakni dilakukan pada dini hari.
0
Pria Botak di Sumut Diancam 15 Tahun Penjara, Ini Kasusnya
Pria botak di Deli Serdang, Sumatera Utara, nodai adik ipar. Penjara 15 tahun menantinya.