Indonesia
Aceh, Dalam Bayang-bayang Gempa dan Tsunami
Dua sesar gempa aktif di Aceh, masyarakat diminta waspada. Gempa tidak bisa dicegah, hanya bisa diminimalisir kerusakannya.
Warga melewati rambu peringatan bencana tsunami di kawasan Pantai Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxsa, Banda Aceh. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Aceh, (Tagar 5/1/2019) - Empat belas tahun setelah terjadi gempa dan tsunami yang menghantam daerah pesisir barat Aceh pada 2004, Kota Banda Aceh kembali menggeliat seperti sebelum terjadi bencana tersebut. 

Jumlah penduduk semakin bertambah, pembangunan gedung baru juga semakin banyak. Banda Aceh merupakan ibu kota provinsi Aceh dan merupakan pusat roda perekonomian Provinsi Aceh.

Namun, hingga saat ini Kota Banda Aceh sangat rawan terjadi gempa. 

Peneliti Tsunami Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Ibnu Rusydy dalam risetnya menyebutkan ternyata Banda Aceh juga diapit oleh dua patahan Sumatera yang masih aktif, yaitu patahan segmen Aceh dan segmen Seulimuem.

Tsunami AcehAnak-anak bermain di depan Gedung Evakuasi bencana Tsunami (Escape Buildiing) di Gampong Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxsa, Banda Aceh. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Patahan segmen Aceh dan Seulimuem merupakan bagian dari patahan Sumatera dari Teluk Semangko di Lampung menerus sampai ke Provinsi Aceh. Dari Kecamatan Tangke Kabupaten Pidie, patahan Sumatera terpecah menjadi dua segmen, satu segmen menerus sampai ke Indrapuri – Mata Ie – Pulau Breuh – Pulau Nasi. Segmen ini dinamakan segmen Aceh. Segmen satu lagi menerus ke Seulimuem – Krueng Raya – Sabang, dan dinamakan segmen Seulimuem.

"Segmen Aceh sudah 170 tahun tidak menghasilkan gempa bumi dan berpotensi menghasilkan getaran dengan kekuatan magnitudo Mw 7," kata Ibnu Rusydy di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Rabu (2/1).

Tsunami AcehWisatawan dari Sumatera Utara berkunjung di Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Secara tatanan dalam riset Ibnu Rusydy, tektonik dan kondisi geologi Banda Aceh duduk di atas cekungan yang berumur Holosen (10.000 tahun) dan sangat muda berdasarkan umur geologi. Para geologis menyebutnya cekungan Krueng Aceh. Cekungan Krueng Aceh membentang dari Kawasan Aceh Besar sampai Banda Aceh.

Cekungan Krueng Aceh yang berumur muda ini terbentuk dari endapan alluvial yang terdiri dari kerikil, pasir, lanau, dan lempung. Endapan alluvial yang sangat muda ini (berumur Holosen) tidaklah padat, melainkan lunak. Kelunakan endapan alluvial muda ini akan menyebabkan terjadinya penguatan goncangan tanah (amplifikasi) gelombang gempa bumi.

Tsunami AcehTampak dari atas perumahan bantuan pasca tsunami di kawasan Uleu Lheue Banda Aceh. Kawasan Uleu Lheue Banda Aceh salah satu daerah terparah diterjang gempa dan tsunami Aceh pada 2004. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Maka dari itu pihaknya mencoba membuat model gempa bumi dari segmen Aceh dan Seulimuem dan memprediksi kerusakan bangunan yang akan terjadi di Kota Banda Aceh dan jumlah korban luka-luka.

Untuk memprediksi tingkat kerusakan bangunan akibat gempa bumi yang bersumber dari segmen Aceh maupun segmen Seulimuem, Ibnu Rusydy melakukan pendataan jenis bangunan, jumlah lantai, peruntukan bangunan, kondisi geologi tanah dan air di Kota Banda Aceh, dan membuat model gempa bumi. Hal ini dilakukan karena tingkat kerusakan bangunan sangat dipengaruhi oleh jenis konstruksi bangunan, jumlah lantai, kondisi geologi tempat bangunan berdiri, goncangan tanah akibat gempa bumi, dan pengaruh liquifaksi.

Tsunami AcehPeneliti Tsunami Disaster Mitigation Research Center (TDRMC) Universitas Syiah Kuala, Dr Muksin Umar menjelaskan potensi gempa disela acara laporan bencana yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) di Banda Aceh, Aceh. (Foto: Tagar/Fahzian Aldevan)

Gempa Tidak Bisa Dicegah

Dalam kesempatan yang sama, Dr Muksin Umar yang juga peneliti TDRMC mengatakan meski berada di dua patahan Sumatera yang aktif, pihak TDRMC tidak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi.

"Karena ada lempeng yang terus bergerak yang mendorong yang tentunya akan naik ke atas, yang tentu kita akan lakukan ialah bagaimana mengurangi risiko, sebab gempa itu tidak bisa dicegah," katanya.

Muksin menambahkan bahwa bahaya itu dapat diukur dari kerugian dan korban jiwa, tentunya daerah yang sangat berpotensi ialah di sepanjang sesar seulimeun, sebab sesar ini sangat dekat dengan penduduk.

Tsunami AcehDenah tatanan tektonik dan kondisi geologi sekitar Kota Banda Aceh (Foto: Ibnu Rusydy)

"Tentu kita tidak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi. Tidak ada ilmuwan yang bisa memprediksi. Tapi kita bisa melihat potensi gempa bumi di sepanjang sesar, sesar aktif. Maka kita bersikap supaya siap jika sewaktu-waktu gempa terjadi," kata Muksin.

Sementara itu, melihat kondisi Kota Banda Aceh yang rawan terhadap gempa bumi dari patahan Sumatera segmen Aceh dan Seulimuem, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek merekomendasikan setiap pembangunan gedung, perumahan, dan jembatan harus mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, bisa merujuk ke SNI 1726-2012.

Kemudian studi bawah permukaan terkait kondisi tanah (metode seismik, geolistrik, N-SPT, CPT) harus dilakukan sebelum sebuah tempat dijadikan kawasan pembangunan.

Tsunami AcehSebaran kerusakan bangunan Kota Banda Aceh akibat gempa. (Foto: Ibnu Rusydy)

"Pendidikan kebencanaan harus terus digalakkan untuk murid sekolah (SD, SMP, SMA) guna memberikan pengetahuan kebencanaan sejak dini," sebutnya.

Selain itu kata Ahmad Dadek, gempa bumi sering kali memicu bencana ikutan seperti di Palu, sehingga Survei Bathimetri laut di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar harus dilakukan untuk melihat ada tidaknya potensi longsor yang bisa memicu tsunami akibat longsoran bawah laut.

"Simulasi (drill) dan sosialisasi pengetahuan kebencanaan harus terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana," terang Ahmad Dadek. []

Berita terkait
0
Khofifah Sebut Anggaran Asrama Nusantara Masuk RAPBD
Pemerintah Provinsi Jawa Timur berencana akan menganggarkan operasional "Asrama Nusantara" di RAPBD 2020.