UNTUK INDONESIA
Wisatawan Asing Protes Penutupan Puncak Borobudur
Banyak wisatawan asing protes penutupan kawasan puncak Borobudur. Apa dan bagaimana protesnya?
General Manager TWC Borobudur I Gusti Putu Ngurah Sedana mengungkap komplain yang disampaikan wisatawan asing atas penutupan kawasan puncak Borobudur. (Foto: Tagar/Solikhah Ambar)

Magelang – Kawasan puncak Borobudur masih ditutup untuk wisatawan umum. Kebijakan pembatasan akses ke lantai sembilan dan sepuluh candi tersebut mendapat banyak protes dari pengunjung, khususnya wisatawan asing. 

"Sejauh ini, sudah ada beberapa pengunjung yang komplain. Banyak wisman (wisatawan mancanegara) yang sudah bayar mahal tidak bisa naik ke stupa," tutur General Manager Taman Wisata Candi (TWC) Unit Candi Borobudur I Gusti Putu Ngurah Sedana, Kamis, 20 Februari 2020.

Menurut Putu, selaku pengelola Borobudur, TWC berkewajiban memberikan pelayanan terbaik ke wisatawan. Termasuk menyediakan sarana protes berupa buku komplain terkait kebijakan penutupan kawasan puncak Borobudur oleh Balai Konservasi Borobudur.

"Kami dari pihak pengelola zona 2 TWC, menindaklanjuti apa yang dikhususkan oleh BKB terkait penutupan lantai sembilan dan sepuluh. Kami sudah menyiapkan buku komplain untuk para pengunjung," kata dia.

Banyak wisman (wisatawan mancanegara) yang sudah bayar mahal tidak bisa naik ke stupa.

Buku tersebut dimaksudkan untuk menampung protes ataupun keluhan dari pengunjung yang tidak bisa menuju kawasan atas di Borobudur. "Jadi bila ada pengunjung yang merasa tidak senang atau ada komplain mengenai pembatasan ini, kami sudah siapkan buku, dilengkapi dengan dokumentasi nantinya," ucapnya. 

Putu menuturkan buku komplain ditempatkan di pintu keluar candi, dilengkapi meja dan petugas. Sudah ada sejumlah protes dari wisatawan yang dituangkan di buku tersebut. Malah banyak yang disampaikan secara langsung ke petugas yang berjaga. Termasuk dari kalangan wisatawan asing yang lebih suka protes secara lesan ketimbang menuangkan ke buku komplain.

"Mereka malas nulis," ujar Putu.

Protes dan keluhan yang sudah tertuang dalam buku komplain akan diteruskan ke pihak direksi PT TWC. "Karena kami ada pimpinan di kantor pusat jadi kami sampaikan, bahwa selama penutupan ada komplain-komplain yang akan ditindaklanjuti untuk kami laporkan ke Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan," katanya.

Putu menambahkan meski ada pembatasan kunjungan candi peninggalan umat Buddha masa Wangsa Syailendra tersebut, namun angka kunjungan wisatawan masih belum terpengaruh. "Wisman masih di atas 150, wisnus (wisatawan nusantara) 4.000 sampai 5.000-an," ujar dia. 

Seperti yang diketahui, Balai Konservasi Borobudur membatasi jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan puncak Candi Borobudur di lantai sembilan dan sepuluh. Kebijakan penutupan untuk umum tersebut mulai diberlakukan Kamis, 13 Februari 2020 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Pembatasan kunjungan bagian dari upaya pengawasan dan pengamanan kondisi terkini Borobudur. Sebab, banyak ditemukan ulah wisatawan yang dapat merusak monumen umat Buddha terbesar di dunia itu. []

Baca juga: 

Berita terkait
Ulah Wisatawan yang Bikin Puncak Borobudur Ditutup
Ulah wisatawan bisa mempercepat terjadinya kerusakan Candi Borobudur. Karenanya, bagian puncak ditutup sementara untuk pemantauan struktur candi.
Penyebab Kulon Progo Belum Siap Menyangga Borobudur
Tiga kabupetan menjaga penyangga pariwisata Borobudur. Hanya Kabupaten Kulon Progo yang dinilai belum siap dibanding Magelang dan Purworejo.
Ruwat Borobudur, Cara Magelang Rawat Warisan Dunia
Warga Magelang punya cara tersendiri merawat kebudayaan Borobudur. Cara ini mampu bertahan hingga 17 tahun.
0
Fahira Idris Batal Penuhi Panggilan Bareskrim
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Fahira Idris batal memenuhi panggilan polisi terkait cuitan yang dianggap hoaks oleh Muannas Alaidid