Mataram - "Air terjun Benang Kelambu ini memang cantik dan luar biasa," kata Frank wisatawan asal Prancis. Ia mengaku penasaran dengan keindahan Pulau Lombok, sehingga mampir sebelum berlibur ke Pulau Bali.

Seorang pedagang makanan di kawasan objek wisata Benang Setokel dan Benang Kelambu menuturkan kebanyakan wisatawan yang berwisata ke air terjun itu berasal dari mancanegara. Sebagian besar wisatawan biasanya hanya melakukan perjalanan sampai ke air terjun Benang Sekotel karena perjalanan menuju Benang Kelambu lebih jauh.

"Biasanya wisatawan lokal datang pada Sabtu dan Minggu saja, sedangkan wisatawan mancanegara banyak yang datang hampir setiap hari," kata pedagang itu.

Kelelahan mereda saat mendengar suara limpahan air dari batuan cadas berbentuk kelambu saat menuruni tangga menuju area air terjun, lalu melihat air terjun dari tebing berselimut lumut dan dedaunan. Bentuk air terjun itu memang terlihat mirip kelambu yang terpasang di tebing.

Air terjun Benang Kelambu yang eksotis bisa dicapai setelah menyaksikan panorama Benang Setokel, air terjun kembar dengan tinggi sekitar 20 meter yang ditemui setelah perjalanan melintasi jalan-jalan desa selama sekitar satu jam menggunakan mobil dari Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan jalan kaki melewati tiga tangga menurun.

Pengunjung mesti berjalan kaki selama sekitar 45 menit melalui rute sepanjang satu kilometer yang membelah hutan tropis kaki Gunung Rinjani untuk mencapai air terjun Benang Kelambu dari Benang Setokel. Medannya cukup menguji lutut dan napas karena jalurnya naik turun dan belum semuanya permanen.

Untuk mencapai air terjun ini, tidak jauh dari Taman Air Narmada pengunjung harus berbelok ke kiri tepat di pertigaan jalan menuju Desa Aik Berik yang masuk dalam wilayah Kabupaten Lombok Tengah.

Pengunjung harus banyak bertanya kepada warga untuk mencapai pintu gerbang objek wisata alam tersebut, namun dijamin akan dijawab ramah oleh warga setempat yang akan mengarahkan wisatawan menuju area wisata alam.

Sekitar 1,5 meter jalan menuju Benang Kelambu cukup nyaman dilewati karena mendatar, namun sesudahnya ada tikungan pertama yang menurun tajam dan membutuhkan kehati-hatian pejalan, utamanya saat musim penghujan.

Sesampainya di pintu gerbang, per wisatawan dikutip uang masuk Rp 5 ribu dan ongkos parkir kendaraan roda empat Rp 10 ribu.

Kelelahan mereda saat mendengar suara limpahan air dari batuan cadas berbentuk kelambu saat menuruni tangga menuju area air terjun, lalu melihat air terjun dari tebing berselimut lumut dan dedaunan. Bentuk air terjun itu memang terlihat mirip kelambu yang terpasang di tebing.

Tingkat pertama air terjun itu tingginya 30 meter, tingkat kedua sekitar 10 meter dan tingkat ketiga sekitar lima meter. Tepat di bawah air terjun itu ada sungai, tempat para pengunjung bisa berendam. Airnya sangat menyegarkan.

Tidak jauh dari sana, bendungan selebar lima meter dan tinggi dinding dua meter menjadi tempat wisatawan berswafoto di balik tirai air. Di bawahnya, kolam penampungan air juga bisa menjadi tempat berendam, menikmati kesegaran air dari Gunung Rinjani. Kalau enggan berendam, bermain-main air pun menyenangkan. []

Baca juga: