WHO Sebut Program Vaksin Booster Perpanjang Pandemi Covid-19

Dirjen WHO: booster atau pemberian dosis penguat vaksin Covid-19 tidak akan mengakhiri pandemi global secara tuntas
Seorang imigran menerima suntikan dosis penguat (booster) vaksin Covid-19 Johnson and Johnson di kamp pengungsi Karatepe, di sebelah timur laut Pulau Aegean, Lesbos, Yunani, 15 Desember 2021 (Foto: voaindonesia.com - AP/Panagiotis Balaskas)

Jakarta – Direktur Jenderal (Dirjen) Organisai Kesehatan Dunia PBB (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Rabu, 22 Desember 2021, memperingatkan bahwa program booster atau pemberian dosis penguat vaksin Covid-19 tidak akan mengakhiri pandemi global secara tuntas.

Sebaliknya, ia menilai bahwa program tersebut akan memperpanjang pandemi, karena negara-negara miskin harus berjuang keras untuk memvaksinasi penduduk mereka akibat ketidaksetaraan akses terhadap vaksin.

Sementara pejabat kesehatan Amerika Serikat (AS) mendesak warganya yang berusia diatas 16 tahun untuk mendapatkan suntikan booster sebagai tindakan pencegahan atas merebaknya varian virus corona baru Omicron, banyak negara hingga kini belum memberikan dosis awal vaksin Covid-19 kepada sebagian besar penduduk mereka.

dirjen whoDirektur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, berbicara dalam sebuah kesempatan di Jenewa, Swiss, 29 November 2021 (Foto: voaindonesia.com - AFP/WHO/Christopher Black)

Negara-negara kaya menganggap program suntikan booster sebagai jawaban atas penyebaran cepat dari varian terbaru virus corona itu, tetapi dalam konferensi pers pada Rabu, 22 Desember 2021, Tedros mengatakan bahwa dengan melakukan hal itu justru akan menimbulkan efek sebaliknya.

“Program booster kemungkinan dapat memperpanjang pandemi, dan bukan mengakhirinya, karena pasokan dialihkan ke negara-negara yang sudah punya cakupan vaksinasi yang luas, sehingga memberi virus lebih banyak peluang untuk menyebar dan melakukan mutasi,” katanya.

Menurut Pusat Data Covid-19 dari Johns Hopkins University, kini terdapat lebih dari 276 juta infeksi virus corona di seluruh dunia, dan 5,3 juta kematian yang diakibatkan oleh virus tersebut.

AS ada di puncak pandemi dengan lebih dari 51 juta kasus terkonfirmasi dan 810 ribu kematian.

ilus omicronJarum suntik dengan jarum terlihat di depan grafik stok yang ditampilkan dan kata-kata "Omicron SARS-CoV-2" dalam ilustrasi ini, 27 November 2021 (Foto: voaindonesia.com - REUTERS/Dado Ruvic)

Tedros menekankan, ketidaksetaraan akses terhadap vaksin ini akan menyebabkan pandemi berlangsung terus-menerus. Negara-negara yang mengalami kesulitan akses terhadap dosis awal vaksin akan menjadi tempat subur bagi varian virus.

Sebagai contoh, para pakar kesehatan memperingatkan bahwa kemunculan varian Omicron berkaitan dengan ketidaksetaraan akses terhadap vaksin, menurut NBC News. Infeksi akibat varian ini diduga muncul dari pasien HIV Afrika Selatan, dimana hanya 26% penduduknya telah mendapatkan vaksin dosis penuh (jm/my)/voaindonesia.com/VOA. []

Pemerintah Buka Opsi Vaksin Covid-19 Booster Berbayar

Booster Covid-19 Tingkatkan Perlindungan dari Varian Omicron

Omicron Terdeteksi Pada 4 Orang yang Telah Diberi Suntikan Booster

WHO Desak Negara Kaya Tunda Booster Vaksin Covid-19

Berita terkait
Selandia Baru Pangkas Jarak Vaksinasi Kedua dengan Booster
Selandia Baru perpendek jarak waktu antara dosis vaksin Covid-19 kedua dan booster dan menunda pembukaan kembali perbatasannya
0
Polemik Pencopotan Empat Dirjen Bimas, GMKI Sarankan Gus Yaqut Bertemu Tokoh Agama
GMKI ikut merespons adanya polemik yang sedang hangat di tengah masyarakat terkait dicopotnya Dirjen Bimas Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.