Uni Eropa Ikut Bersalah Atas Kerusakan Hutan Tropis

Kemkominfo mengajak generasi muda menjaga ruang digital, menghindari cyberbullying, hoaks, disinformasi juga penipuan secara online.
Pembukaan hutan tropis di Brasil untuk lahan perkebunan (Foto: dw.com/id)

Jakarta - Uni Eropa dituding tidak lepas dari dosa penggundulan hutan tropis. Produk-produk seperti kakao, kopi, dan kedelai sangat digemari di benua itu, mendorong pembukaan hutan di belahan bumi lain.

Berbicara tentang laju kerusakan hutan tropis memang melibatkan banyak faktor dan tidak sederhana. Bahkan, berdasarkan penelitian terbaru oleh organisasi yang bergerak di bidang lingkungan, WWF (World Wide Fund for Nature), Uni Eropa (UE) juga dituding ikut bersalah atas penggundulan hutan yang kebanyakan berada di negara berkembang ini.

Berdasarkan laporan WWF yang mengkaji efek hubungan perdagangan terhadap deforestasi dan degradasi alam dari tahun 2005 hingga 2017, WWF menemukan bahwa UE adalah salah satu pendorong kerusakan hutan terbesar.

Sekitar 16% deforestasi hutan tropis global berhubungan dengan perdagangan internasional ke UE. Wilayah ini berada di posisi kedua dalam rangking dunia perusak hutan setelah Cina (24%). Sementara India menyumbang 9%, dan Amerika Serikat 7%.

1. Ubah Paradigma Perdagangan Global

WWF pun menyerukan kepada Pemerintah Federal Jerman dan Komisi Uni Eropa untuk bertanggung jawab dan memastikan standar lingkungan dan standar sosial yang lebih baik dan mengikat dalam hubungan perdagangan internasional.

"Kita butuh perubahan paradigma dalam perdagangan global: Produk yang mendarat di pasar Eropa tidak boleh diproduksi dengan mengorbankan alam dan hak asasi manusia," demikian komentar Christine Scholl, pakar WWF untuk rantai pasokan berkelanjutan, dalam siaran pers yang diterima Deutsche Welle, Rabu, 14 April 2021, sore.

makanan dan minumanMakanan dan minuman dari produk kopi dan kakao sangat digemari di Eropa. Untuk memenuhi permintaan, kakao dan kopi harus terus didatangkan dari negara tropis (Foto: dw.com/id)

Yang ia maksudkan adalah kerusakan hutan tropis di antaranya di Brasil, Indonesia dan Paraguay akibat impor kedelai, minyak sawit, daging sapi berikut produk kayu, kakao dan kopi.

2. Emisi CO2 Akibat Impor

Pada 2017, UE secara tidak langsung menyebabkan 116 juta ton emisi CO2 melalui deforestasi akibat kegiatan impor. Namun emisi tidak langsung ini tidak dicatat dalam statistik resmi emisi gas rumah kaca.

Sementar di dalam area UE sendiri, WWF mengatakan bahwa Jerman sejauh ini adalah negara pengimpor deforestasi terbesar antara tahun 2005 dan 2017, dengan rata-rata 43.700 hektare hutan dihancurkan setiap tahunnya untuk menghasilkan barang impor ke Jerman. Secara total, 80 persen kerusakan hutan akibat impor di seluruh UE dilakukan oleh delapan negara ekonomi terbesar.

"Ini adalah lingkaran setan, karena keutuhan alam adalah dasar dari setiap perekonomian yang sukses dalam jangka panjang," ujar Scholl.

3. Lindungi Eosistem Lainnya

Selain membuat peraturan yang melindungi hutan, juga harus dibuat peraturan yang melindungi ekosistem lain, menurut WWF. "Jika tidak, kerusakan alam hanya akan bergeser dari hutan ke ekosistem lain seperti lahan basah, padang rumput, dan sabana. Ini sama pentingnya untuk iklim, keanekaragaman hayati dan mata pencaharian masyarakat lokal seperti hutan tropis," tulis WWF dalam siaran pers.

hutan kambojaKegiatan penebangan liar di Hutan Prey Lang, Kamboja, 5 Februari 2021 (Foto: voaindonesia.com - Courtesy/Planet Labs)

Menurut penelitian WWF, hampir seperempat dari impor kedelai UE pada tahun 2018 berasal dari negara-negara Amerika Selatan dari wilayah sabana di Cerrado, di sana terlah terjadi kerusakan ekosistem akibat penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian.

Lebih lanjut, menurut studi nutrisi WWF yang baru-baru ini diterbitkan, perubahan pola makan juga dapat membantu mengurangi tekanan penggundulan hutan hujan tropis. Jika konsumsi daging semua orang Jerman dikurangi setengahnya menjadi rata-rata 470 gram per minggu, kebutuhan lahan untuk pangan Jerman juga akan berkurang hampir tiga juta hektare. Itu kira-kira sama dengan ukuran negara bagian Brandenburg di Jerman.

Namun Kementerian Pangan dan Pertanian Jerman mengatakan bahwa konsumsi daging masyarakat Jerman pada tahun 2020 menunjukkan tren penurunan. Menurut data kementerian, pada tahun 2020, produksi bersih daging di Jerman mencapai sekitar 8,5 juta ton bobot potong, atau turun 1,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini utamanya untuk produksi bersih daging babi, sapi dan daging sapi muda. Sementara produksi daging domba, kambing dan unggas meningkat [ae/vlz (berbagai sumber)]/dw.com/id. []

Berita terkait
Menkominfo: Peluncuran Satria 1 Tetap Kuartal IV 2023
Menkominfo mengatakan, perpanjangan filing Indonesia tidak mengubah jadwal peluncuran dan COD Satria 1 pada kuartal IV 2023.
Menkominfo Paparkan 5 Aspek Kebijakan Dukung Tata Kelola 5G
Menkominfo mengatakan, Indonesia dalam tahap persiapan untuk menyediakan layanan 5G yang berkualitas bagi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
Menkominfo: 4 Sektor Stratregis Dikembangkan untuk Akselerasi Transformasi Digital
Menkominfo menyebutkan, Pemerintah membangun dan mengembangkan empat sektor strategis berbasis digital guna meningkatkan internet link ratio.
0
Kebijakan Biden Atasi Kesenjangan Kesejahteraan Antarras
Dalam kunungan Tulsa, Oklahoma ke Biden mengumumkan langkah-langkah untuk mempersempit kesenjangan kesejahteraan antarras