Tokoh Masyarakat Jadi Ujung Tombak Terapkan Protokol Kesehatan

Masih banyak ditemukan masyarakat yang tidak mengindahkan dan menganggap protokol kesehatan.
Ilustrasi - Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyampaikan, harus waspadai klaster corona momen libur panjang.

Jakarta - Pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda Indonesia membawa dampak yang begitu dahsyat bagi seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah kerap kali mengimbau masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan 3M, yaitu mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan menjaga jarak aman minimal 1 meter.

Namun, masih banyak ditemukan masyarakat yang tidak mengindahkan dan menganggap protokol kesehatan sebagai sesuatu yang sepele terutama dalam penggunaan masker dan berkumpul.

Kita tidak boleh lengah, virus Covid-19 masih berada di sekeliling kita hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Melihat kenyataan ini, Bidang Koordinasi Relawan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 kembali mengingatkan masyarakat Indonesia, terutama bagi para tokoh masyarakat, untuk menjadi panutan dalam menerapkan protokol kesehatan 3M saat berkegiatan sebagai wujud adaptasi kebiasaan baru di era pandemi Covid-19.

Ketua Bidang Koordinasi Relawan Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Andre Rahadian menyampaikan, agar Indonesia terlindung dan bebas dari Covid-19, diperlukan kolaborasi total dari seluruh lapisan masyarakat untuk saling bahu-membahu dengan saling menegur dan menjaga orang terdekat dalam hal penerapan protokol kesehatan.

"Para tokoh masyarakat memegang peran penting dalam mengajak dan menjaga masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari. Para tokoh masyarakat ini adalah ujung tombak, kedisiplinan serta kepatuhan mereka dalam menerapkan protokol kesehatan menjadi suatu contoh panutan bagi para pengikutnya. Jangan malah melakukan kegiatan yang bertentangan dengan protokol dan membahayakan masyarakat," kata Andre lewat keterangan tertulisnya, Senin, 16 November 2020.

"Kita tidak boleh lengah, virus Covid-19 masih berada di sekeliling kita hingga waktu yang belum dapat ditentukan," sambungnya.

Andre mengatakan elemen yang paling penting dalam mewujudkan adaptasi kebiasaan baru ini adalah masyarakat.

"Bagaimana mereka dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, terutama bagi mereka yang berada di kelompok rentan terdampak. Kedisiplinan di era pandemi ini adalah sebuah gerakan ‘pravaksin’ yang bisa berjalan dengan sukses jika didukung oleh kolaborasi dan dukungan dari seluruh pihak," ujarnya.

Berita terkait
Beda WHO dan China soal Makanan Beku Berisiko Terpapar Corona
Apa yang dilakukan China saat ini berseberangan dengan pernyataan lembaga kesehatan dunia atau WHO.
Merasakan Makanan Seperti Ini? Bisa Jadi Anda Positif Corona
Mereka yang menduga terinfeksi virus corona bisa mengujinya dengan mengetes indera pengecap saat merasakan makanan.
Ibu Positif Corona, Jangan Putus Menyusui Begini Protokolnya
Air susu ibu (ASI) merupakan dasar kehidupan. Bayi berhak memperoleh ASI bagaimanapun konsisi ibu.
0
Indonesia Kembangkan Industri Hijau Terbesar di Dunia
Presiden Jokowi mengatakan Indonesia sedang mengembangkan industri hijau terbesar di dunia yang terletak di Kalimantan Utara sesuai visi RI.