UNTUK INDONESIA
Tips Pilih Jasa Investasi Biar Terhindar Kasus Jouska
Kasus financial planner PT Jouska Finansial Indonesia mengakibatkankan kliennya merugi hingga ratusan juta. Ini tips memilih jasa investasi.
Ilustrasi memilih jasa investasi. (Foto: Pixabay/Pexels)

Jakarta - Kasus financial planner PT Jouska Finansial Indonesia (Jouska ID) yang mengakibatkankan kliennya merugi hingga ratusan juta, membuat masyarakat harus ekstra hati-hati dalam menentukan dan memilih jasa investasi. Menurut pengamat pasar modal Siswa Rizali masyarakat harus memperhatikan rekam jejak institusi ketika memilih jasa investasi. 

Baik cara kerja secara keseluruhan maupun bukti-bukti yang menunjukan kredibilitas perusahaan jasa investasi, seperti factsheet di reksadana atau kesaksian dari orang-orang yang terlebih dahulu tergabung sebagai peserta jasa investasi.

"Apakah pengalaman mereka? Apa keahliannya? Bagaimana kinerja mereka selama ini? Penting juga dipahami konsep-konsep yang diterapkan. Jadi jangan mudah diiming-iming return saja," ujar Siswa kepada Tagar, Senin, 27 Juli 2020.

Selain itu, Anggota Komite Investasi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) tersebut meminta masyarakat untuk waspada apabila perusahaan mulai menawarkan jasa-jasa di luar bidangnya. Pasalnya, hal tersebut bisa menjadi indikasi awal seorang penasihat, konsultan, maupun manajer investasi memiliki kepentingan pribadi atas rekomendasi jasa lain yang ditawarkan.

"Contoh financial planner merekomendasikan trading saham/forex/komoditas. Si financial planner kan tidak berpengalaman atau punya rekam jejak di trading saham/forex/komoditas. Bagaimana dia rekomendasi trading? Paling rekomendasi dia adalah umum, investasi saham. Tapi tidak cara eksekusinya trading harian," ucapnya.

Baca juga: Sebab di Balik Jouska Beli Saham LUCK Potential Loss

Selanjutnya, ia menyarankan masyarakat memperhatikan tata kelola dalam perjanjian yang disepakati. Apakah peran konsultan dalam perusahaan tersebut hanya sebagai advisor atau eksekutor. Merujuk kasus Jouska, kata dia financial planner hanya berperan sebagai advisor.

"Apalagi bila dia sampai bisa mengontrol rekening nasabah. Di sini selain salah advisor-nya, juga kecerobohan klien-nya, mudah diiming-imingi return tinggi dan membiarkan rekeningnya dikontrol orang lain yang tidak berpengalaman di bidang investasi saham," kata Siswa.

Menurut Siswa, memperhatikan tata kelola berarti memahami konsep investasi dari suatu perusahaan penawar jasa. Institusi yang tidak mempunyai keahlian di bidang pasar modal, maka investasi akan cenderung mengikuti indeks pilihan yang mewakili saham unggulan, di antaranya LQ45, IDX30, dan sejenisnya.

"Diversifikasi mengikuti indeks tersebut. Jadi tidak bisa hanya invest di 2-3 saham yang belum jelas kinerja jangka panjangnya," tuturnya.

Tak hanya itu, struktur portofolio yang sangat terkonsentrasi, seperti memegang saham small cap dengan porsi di atas 10 persen portofolio juga tidak direkomendasikan dan berisiko tinggi.

"Demikian juga dengan pemisahan harta nasabah dan harta perusahaan advisor, sehingga ketika perusahaan mengalami suatu isu, harta nasabah tetap aman," katanya. []

Berita terkait
Rugikan Klien Puluhan Juta, Ini Modus Trading Jouska
Salah satu klien financial planner PT Jouska Finansial Indonesia Mita Lengganasari mengaku ditawarkan produk untuk mengelola dana investasi.
CEO Jouska Pemegang Saham Utama Amarta Investa
Pendiri sekaligus CEO PT Jouska Finansial Indonesia Aakar Abyasa Fidzuno merupakan pemegang saham mayoritas PT Amarta Investa Indonesia.
Stop Operasi, Jouska ID: Sorry and Will See You Later
PT Jouska Finansial Indonesia resmi mengentikan seluruh operasionalnya, termasuk menutup website dan akun media sosial untuk sementara waktu.
0
Sinopsis Film The Eddy, Pertempuran Hati Pemilik Cafe Jazz
Drama musikal The Eddy tayang di Netflix merupakan proyek terbaru dari pengarah film Whiplash dan La La Land, Damien Chazelle.