UNTUK INDONESIA
Tiga Anak Miliarder Denmark Tewas di Sri Lanka
Tiga anak miliarder asal Denmark itu tewas secara mengenaskan dalam serangan teror bom di Sri Lanka.
Pejabat militer Sri Lanka berjaga-jaga di depan St Anthony's Shrine, gereja Kochchikade setelah ledakan di Kolombo. (Foto : Reuters/Dinuka Liyanawatte)

Jakarta - Miliarder asal Denmark, Anders Holch Povlsen, harus merelakan kepergian ketiga buah hatinya. Anaknya Anders tewas secara mengenaskan dalam serangan teror bom di Sri Lanka, Minggu 21 April 2019.

Dalam laporan Mirror, Povlsen beserta istri dan keempat anaknya tengah mengisi waktu libur Paskah dengan menyambangi negara tropis Sri Lanka.

Namun takdir berkata lain, hati miliarder berusia 46 tahun itu pun terkoyak-koyak begitu menerima kenyataan pahit, tiga putrinya turut menjadi korban tewas dalam rentetan bom yang terjadi di Sri Lanka, yang menyebabkan sedikitnya 290 orang tewas, dan melukai sedikitnya 500 orang.

Hingga kini, ia bersama istrinya, Anne, belum memberikan keterangan resmi, yang mana dari tiga anak mereka yang tewas dalam serangan tersebut. Pasutri itu mengaku masih terpukul atas insiden yang terjadi.

Padahal belum lama ini, Povlsen yang merupakan pemangku kepentingan di platform belanja fesyen ASOS, baru saja mengumumkan, akan membagi-bagikan warisan, berupa aset tanah di Skotlandia untuk anak-anaknya yang kini telah meninggal.

Kementerian Luar Negeri Denmark mengatakan bahwa, pada Senin (22/4), tiga orang Denmark dipastikan tewas dalam teror bom yang terjadi di Sri Lanka. Juru bicara kerajaan Povlsen pun telah membenarkan, jika para korban tewas adalah anak-anak miliarder asal Denmark itu.

Minggu Paskah di Pulau Samudera Hindia itu meledakkan gereja-gereja dan hotel-hotel mewah. Serangan itu dilakukan oleh tujuh pelaku bom bunuh diri. Dalam teror tersebut, tidak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas terjadinya insiden terkuruk itu.

Namun, Otoritas Sri Lanka mensinyalir, kelompok ekstrimis muslim National Thowheed Jamath sebagai dalang di balik aksi teror yang menggelimangkan nyawa ratusan manusia.

Sebab, sebelum Minggu Paskah, kelompok tersebut telah menebar ancaman sebanyak tiga kali, akan melancarkan serangan selama libur Paskah di Sri Lanka. Bahkan, ancaman dari organisasi itu kembali didengungkan 10 menit sebelum aksi terjadi.

Komisaris Tinggi Srilanka untuk Inggris, Manisha Gunasekara mengatakan, penyelidikan kasus ini bergerak sangat cepat. Pihaknya mengimbau, agar masyarakat dunia jangan dulu mengambil sudut pandang linear dalam motif serangan tersebut.

"Ini melintasi dimensi etnis dan agama. Sangat sulit untuk melihat siapa yang menjadi target," kata Gunasekara.

"Tampaknya seluruh masyarakat Sri Lanka dipecah, agar persatuannya pecah dan koeksistensi yang telah diusahakan begitu keras oleh orang-orang Sri Lanka selama bertahun-tahun lenyap," sambungnya.

Dua pelaku bom bunuh diri, meledakkan diri di Hotel bintang lima Shangri-La di pinggir kota Colombo, kata pejabat senior di divisi forensik pemerintah Ariyananda Welinga. Sementara pelaku bom bunuh diri yang lain menargetkan tiga gereja dan hotel-hotel lainnya, dan sebuah rumah di pinggiran Colombo juga menjadi sasaran ledakan.

Otoritas kemananan Sri Lanka mengatakan, hingga Senin 22 April 2019, pihaknya telah membekuk 24 orang yang terkait dengan teror bom. Semua orang yang ditangkap adalah warga asli Sri Lanka.

Baca juga:

Berita terkait
0
Dua Anggota Banser NU Tak Sebut Takbir Dicap Kafir
PBNU angkat bicara terkait intimidasi yang dialami dua anggota Banser NU di Jakarta Selatan, yang tidak sebut takbir dicap kafir.