UNTUK INDONESIA
Terbuai Janji-Janji Donny Wijaya
Maya Miranda melaporkan rekan bisnisnya, Donny Wijaya, karena dianggap menipu dan menggelapkan uangnya. Mengaku rugi puluhan miliar rupiah.
Donny Wijaya dan Kurnia. (Foto Tagar/istimewa).

Jakarta - PERTEMUAN itu berlangsung hangat dan sesekali diselingi gelak tawa. Berlangsung di Restoran Roemah Rempah, Plaza Senayan, salah satu pusat perbelanjaan elite di ibu kota, bintang tamu acara itu adalah Donny Wijaya, pria berusia 41 tahun berkulit putih.

Pada Januari 2019 itu, Donny -yang juga memiliki “nama” Denny Kriswanto- diperkenalkan Ippiandi Mahmud, rekan bisnis Maya Miranda Ambarsari, yang juga hadir dalam acara tersebut, sebagai pengusaha yang bergerak dalam bisnis minyak.

Pada petang itu Donny bercerita banyak seluk beluk bisnisnya. Acara makan ini sempat break lantaran Donny meminta izin untuk menunaikan salat magrib. “Orangnya saleh, bicaranya santun, dia juga sempat mengenalkan diri sebagai menantu mantan kapolri Timur Pradopo,” kata Maya, Senin, 6 Juli, 2020.

Maya MirandaMaya Miranda dan Andreas Reza Nazaruddin. (Foto: Tagar/istimewa)

Maya, yang berkenalan dengan Ippiandi karena anak mereka satu sekolah di Magelang, bukanlah pengusaha yang berbinis minyak. Wanita 47 tahun ini bidang bisnisnya lebih banyak berkaitan dengan pertambangan batubara. Tapi, pertemuan dengan Donny rupanya membuat ia tertarik terjun ke bisnis ini. Apalagi, kemudian Donny menawarkan sejumlah peluang bisnis minyak di depan mata yang menurut Donny bakal mendatangkan keuntungan.

Proyek yang terhitung pertama adalah soal penyediaan kapal pengangkut minyak –tongkang- di kawasann pelabuhan perikanan Muara Baru, Jakarta Utara. Ini proyek lanjutan setelah sebelumnya sekadar “menyewa” kapal. Saat itu, Donny, memberi usul agar Maya sebaiknya membeli saja perusahaan PT Sumber Baru Indah (SBI) yang menyewakan armada tongkang. Maya setuju. Untuk proyek ini Maya mengucurkan duit Rp 9,7 miliar untuk mengakuisisi SBI plus Rp 6,9 miliar sebagai pembelian tambahan aset. Di perusahaan ini Ippiandi duduk sebagai direktur utama dan Donny menunjuk istrinya, Kurnia, sebagai komisaris utama. Sumber Baru Indah mendapat fulus dari proyek “antar minyak” untuk kapal-kapal di Muara Baru.

Donny memang membuktikan dirinya pengusaha lincah dan memiliki banyak jaringan bisnis. Dari proyek Muara Baru ia “melompat” ke proyek lain: pengolahan limbah minyak dan batubara. Untuk yang pertama ia menyodorkan PT Tawu Inti Bati, sebuah perusahaan yang sudah cukup lama bergerak di bidang pengolahan limbah minyak milik pengusaha keturunan China yang biasa di panggil “Pak Ho”. Terletak di Krawang Barat, Tawu Inti Bati selama ini mengolah limbah minyak solar menjadi berbagai olahan minyak lain. Donny menyarankan Maya membeli perusahaan tersebut. Maya terpikat.

Pada Agustus 2019, Maya pun mengakuisisi pabrik yang terletak di lahan seluas sekitar 2,7 hektare itu seharga Rp 24 miliar sekaligus membuat ia memiliki 60 persen saham perusahaan tersebut. Di perusahaan ini Maya duduk sebagai direktur utama. Sedangkan Donny bertindak mencari pembeli dan berbagi keuntungan dengan Maya.

Ada pun proyek batu bara, Donny menyodorkan “proyek Morowali” dan “Proyek Parkirin.” Ini juga proyek yang intinya “berbagi keuntungan.” Maya menyetor duit dan Donny menjalankan duit tersebut dalam proyek itu. Untuk proyek batubara itu, Maya menggelontorkan fulus sebesar Rp 2, 8 miliar yang di sini Donny menjanjikan keuntungan sekitar Rp 800 juta. Batu bara itu akan dikirim ke PT Parkirin di Jawa Timur. Belakangan, Maya menambah lagi dana Rp 3 miliar untuk proyek batubara tersebut.

Tapi, proyek pengolahan limbah dan batubara ini rupanya tak berjalan mulus. Kepada Tagar Andreas Reza Nazaruddin, suami Maya, menyebut Donny hanya membayar kewajiban yang ia janjikan sekitar empat bulan. “Setelah itu ia sangat sulit dihubungi dan dikontak,” ujarnya. “Padahal, kami sudah menganggap dia sebagai adik,” kata Reza lagi.

Yang membuat Reza kecewa, belakangan Donny juga menyalahgunakan nama perusahaan Tawu Inti Bati. Ia misalnya pernah diperiksa kepolisian karena dituduh menjual minyak ilegal dan membuat Tawu Inti Bati seolah-olah memiliki kantor di Jawa Timur dan Tangerang. Donny juga tak kunjung menyelesaikan pembelian tanah lokasi berdirinya Tawu Inti Bati yang belakangan baru diketahui tanah itu masih berupa girik bukan sertifikat hak guna bangunan. “Dia juga tidak menyelesaikan pembelian tanah di Depok untuk pembangunan masjid,” kata Reza.

Tagar mendatangi sebuah rumah yang disebut-sebut sebagai alamat kantor dan rumah Donny di Kompleks Kebayoran Residence Blok KM, Tangerang. Ini terhitung perumahan mewah. Jalan menuju kompleks ini lebar dan teduh. Penuh pohon rindang di tepinya. Setiap cluster memiliki pintu gerbang dan penjaga keamanan sendiri. Tapi, tak ada tanda-tanda sebuah kantor atau rumah berpenghuni di alamat itu. Pada salah satu pintu di rumah yang bersebelahan dengan kapling yang masih belum ada bangunan itu, tergantung sebuah tulisan, “sold.”

***

Hubungan bisnis yang awalnya manis ini kemudian memang retak. Pada 15 Januari 2020 Reza meminta Donny datang ke rumahnya di Pondok Indah untuk membicarakan perihal uang dan bisnis yang ia percayakan ke Donny. “Dia datang sekitar jam setengah dua dini, padahal janjinya datang pukul sembilan malam,” ujar Reza.

Pertemuan dengan Reza pada dini hari itulah yang kemudian belakangan membuat “kakak beradik” itu saling mengadu ke polisi. Menurut pihak Donny, yang kemudian muncul dalam sejumlah pemberitaan, dalam pertemuan itu Donny dianiaya dan digebuki sejumlah orang –termasuk anggota aparat keamanan. Pagi harinya ia dibawa ke bank, uang miliknya, sekitar Rp 114 juta ditarik dari rekeningnya dan kemudian diantar ke rumahnya di daerah Gunung Putri, Bogor. Di sana sejumlah karyawan Reza, yang mengantarnya, mengambil paksa barang-barangnya dan menyekap keluarganya. Terhadap perlakuan yang dialami, Donny, selain melapor ke Polda Metro Jaya juga melapor kepada Lembaga Perlindungan saksi dan Korban (LPSK).

Reza membantah terjadinya kekerasan di kediamannya. “Tidak ada pemukulan yang disebutkan itu, pertemuan itu hanya berempat, saya didampingi tiga staf saya. Saya meminta ia menjelaskan bagaimana uang yang kami percayakan kepada dia, ” ujarnya. Ia juga menampik mobilnya memakai plat palsu identitas Bakamla. “Tidak benar itu,” ujarnya. Seorang staf Reza, yang mengaku mengantar Donny pulang menampik jika ia dan kawan-kawannya dikatakan merampas barang-barang Donny di rumahnya. “Diserahkan dan ada surat penyerahan itu. Di rumah itu, kami juga sempat dimasakin Bu Kurnia, ” ujarnya. Ia menyebut ada sekitar seratus item barang yang dibawa dari rumah Donny, termasuk sejumlah tas-tas mewah, seperti Louis Vuitton, milik Kurnia,

Lewat pengacaranya, Albert Yulius, Maya membawa masalah ini ke polisi. “Kami adukan , antara lain, dia telah melakukan penipuan, penggelapan, dan pemalsuan identitas, ” kata Albert. Pada 10 Juni, Donny dijebloskan ke tahanan Polda Metro Jaya. Pihak Maya menuntut Donny mengembalikan uang sebesar Rp 45 miliar, dari total sekitar Rp 60 miliar, yang telah digelontorkan ke Donny untuk kerja sama bisnis ini.

***

DONNY Wijaya tidak bisa ditemui karena mendekam di rumah tahanan Polda Metro Jaya, yang bangunannya menempel di sisi selatan Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum. Minggu, 12 Juli 2020, setelah berputar-putar, Tagar akhirnya menemukan rumah Donny di Kompleks Cibubur Country, Gunung Putri, Bogor. Kompleks perumahan ini “bertetangga” dengan Puri Cikeas, kompleks kediaman SBY, mantan presiden RI. Bersama istri, dua anaknya, -berusia sekitar tiga tahun dan 14 tahun, serta ibu mertuanya, sudah dua tahunan Donny mengontrak rumah di Cibubur Country --yang rata-rata setahun sekitar Rp 35 juta. Kepada Tagar, seorang penghuni kompleks, yang tempat tinggalnya berjarak sekitar lima puluhan meter dari rumah Donny, mengakui memang terjadi ribut-ribut pada rumah Donny beberapa waktu lalu. “Penghuni kompleks ini sampai heboh,” ujarnya.

Kurnia, istri Donny, akhirnya bersedia menemui Tagar. Perempuan asal Lampung itu menampik tudingan suaminya menggelapkan uang Maya. Ia juga menolak uang itu disebut dipakai suaminya untuk foya-foya atau main judi. “Tuduhan itu tidak benar. Uang itu masih ada dalam proyek-proyek yang belum selesai,” ujarnya. Ada pun perihal tanah pabrik di Krawang itu, ujar Maya, surat-suratnya masih di tangan pemilik tanah. Menurut Maya, lewat pengacaranya, Donny akan menggugat perdata Maya. Ia menyesalkan tindakan sejumlah orang-orang yang dinilainya telah membuat trauma anak-anaknya.

Senin malam, 13 Juli, seorang staf LPSK dari tim pelayanan perlindungan, Mohamad Hasyim, menghubungi Tagar. Menurut Hasyim, seperti Donny, Kurnia dan seluruh keluarganya kini di bawah perlindungan LPSK. Ketika Tagar menanyakan, kenapa tak terlihat bentuk perlindungan tersebut di rumah Kurnia -yang semestinya dipindahkan ke “ruman aman,” Hasyim menyebut, LPSK memiliki cara perlindungan lain.

Perkara Donny ini tampaknya akan panjang. Bukan karena perkara pidana ini akan bertambah lagi menjadi kasus perdata, tapi karena, menurut seorang polisi, kepolisian juga terus mengembangkan kasus ini. Antara lain akan menelisik apakah ada “orang-orang lain” di belakang Donny. [LR. Baskoro] 

Berita terkait
Harga Minyak Melonjak, Kurtubi: BBM Jangan Ikut Naik
Peluang harga minyak dunia untuk terus meningkat sangat terbuka. Namun diingatkan agar harga bahan bakar minyak (BBM) tidak ikut naik.
Harga Minyak Turun, Sumber Berkah Penambal APBN
Peneliti Alpha Research Database Indonesia Ferdy Hasiman mengatakan penurunan harga komoditas minyak membawa berkah tersendiri bagi pemerintah.
Defisit Tambah Rp 12,2 T Akibat Harga Minyak Anjlok
Harga minyak dunia yang terus menurun akan berdampak pada penambahan defisit anggaran hingga Rp 12,2 triliun.
0
Terbuai Janji-Janji Donny Wijaya
Maya Miranda melaporkan rekan bisnisnya, Donny Wijaya, karena dianggap menipu dan menggelapkan uangnya. Mengaku rugi puluhan miliar rupiah.