Oleh: Denny Siregar*

Saya senang melihat gestur Jokowi saat menghadapi kemenangan dalam Pilpres 2019 ini.

Ia tampak tenang, tidak euforia, tidak bereaksi terhadap kepanikan lawan politiknya dan bersikap biasa saja. Tetap ramah, tetap jalan-jalan dan tetap melaksanakan tugasnya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Kedewasaan Jokowi berbanding terbalik dengan gaya kekanakan Prabowo Subianto yang malah sibuk mendeklarasikan kemenangannya dengan pidato-pidato provokatif. Prabowo menerima para veteran yang dengan tanpa sungkan memberi hormat dan salam, "Siap, Bapak Presiden!" dengan senyum terkembang seolah-olah dia sudah menjadi Presiden beneran.

Kualitas pemimpin seperti seorang Jokowi inilah yang memang dibutuhkan bangsa Indonesia yang memang lebih mengedepankan rasa damai daripada terpancing untuk rusuh dengan pengerahan massa segala. Jokowi benar-benar menaikkan standar kepemimpinan di negeri ini ke tempat yang lebih tinggi.

Hanya di tangan Jokowi, pembangunan merata di seluruh daerah. Negara ini sudah tidak lagi menganut Jawasentris, tetapi sudah menjadi Indonesiasentris.

Jokowi malah mengirimkan utusan kepada Prabowo. Utusan ini sebagai tanda damai dari Jokowi sesudah pemilu usai. Meski kabarnya utusan ditolak, tapi bukan itu poinnya. Poinnya adalah Jokowi sudah lebih dulu mengulurkan tangan tanda perdamaian dan menyerahkan semua hasil pada penyelenggara pemilu yang sah pada aparat keamanan.

Jadi, apa sebetulnya yang mereka benci dari seorang Jokowi, jika ia malah menampilkan sosok yang layak dicinta?

Kebencian yang datang terhadap Jokowi tidak lain adalah karena fitnah yang sudah dibombardir kepada dirinya sekian lama. "Jokowi PKI, antek asing, keturunan China, penjual aset negara" adalah fitnah-fitnah yang terus disematkan kepadanya sehingga menutup akal sehat dari para penolaknya.

Menyenangkan melihat ternyata kewarasan masih ada di mayoritas bangsa Indonesia. Bahwa anak negeri ini menghargai apa yang sudah dilakukan Jokowi terhadap negara besar bernama Indonesia.

Hanya di tangan Jokowi, pembangunan merata di seluruh daerah. Negara ini sudah tidak lagi menganut Jawasentris, tetapi sudah menjadi Indonesiasentris.

Jokowi, masih banyak PR yang harus Bapak kerjakan. Terutama bagaimana pendidikan yang benar bisa membuat bangsa ini pintar, tidak mudah dibodohi oleh bajingan berbaju ulama yang mengkapitalisasi agama demi perut buncitnya.

Selamat bekerja kembali, Bapakku.  

Salam seruput kopi....

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga: