Indonesia
Jokowi dan Falsafah Jawa Favorit
Sikap tenang Jokowi melihat hasil hitung cepat quick count, disebut banyak orang sebagai perwujudan salah satu falsafah Jawa.
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) berbincang dengan warga saat menemui tokoh dan masyarakat Bali di Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat (22/3/2019). Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi menemui dan berdialog dengan tokoh agama, tokoh adat dan ribuan masyarakat. (Foto: Antara/Fikri Yusuf)

Jakarta - Sikap tenang Capres Joko Widodo atau Jokowi setelah melihat hasil hitung cepat quick count, disebut banyak orang sebagai perwujudan salah satu filosofi Jawa, yaitu Menang Tanpo Ngasorake. Jokowi dinilai erat dengan beberapa kalimat falsafah Jawa.

Dari hasil hitung cepat berbagai lembaga survei, Jokowi ditempatkan dalam posisi unggul sementara dari capres lawan, Prabowo Subianto. Namun, Jokowi justru bersikap dingin sembari mengatakan bakal menunggu hasil real count KPU.

Dirinya juga mengaku telah mengirimkan utusan untuk membangun kembali komunikasi politik paska pilpres 2019, dengan pihak rivalnya tersebut.

Peneliti LIPI Wasisto Raharjo Jati yang memberikan perhatian khusus terkait hal itu mengatakan, dalam prinsip kebajikan budaya Jawa, seseorang yang hebat, tidak perlu menunjukkan diri atas kehebatannya. Yang demikian justru disebutnya bakal terlihat melalui perilaku dan tindakan yang sederhana.

"Filsafat Jawa tersebut mengatakan bahwa yang namanya orang hebat itu tidak perlu menunjukkan diri kehebatannya. Cukup dengan bagaimana dia berperilaku dan bertindak sederhana,  orang lain itu sudah paham dan mengakui kehebatannnya," terang Wasisto melalui keterangan tertulis kepada Tagar, Senin sore, 22 April 2019.

JokowiJokowi dinilai erat dengan beberapa kalimat falsafah Jawa. (Foto: Facebook/Presiden Joko Widodo)

Lebih lanjut, Wasisto juga mengatakan bahwa semua orang Jawa memahami prinsip luhur warisan nenek moyang tersebut. Hal-hal yang berhubungan dengan falsafah Jawa, biasanya diajarkan turun temurun dari lingkungan tempat di mana seseorang itu tumbuh.

"Semua orang Jawa pasti paham prinsip itu. Saya juga mengerti ajaran itu di lingkungan keluarga. Intinya adalah orang yang dianggap hebat tidak perlu pamer diri. Biar orang lain yang menilai," ungkap Wasisto Jati.

Berdasar penelusuran Tagar, ungkapan atau kalimat filsafat Jawa Menang Tanpo Ngasorake yang berarti menang tanpa merendahkan, merupakan satu bait dari susunan kalimat bijak yang ditulis Raden Mas Panji Sosrokartono.

Raden Sosrokartono, merupakan kakak dari pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini. Menurut sejarahnya, susunan kalimat bijak tersebut merupakan intisari dari ajaran Walisongo yang disebut dengan Dasa Pitutur atau Sepuluh Nasihat.

Ungkapan lengkap Raden Sosrokartono adalah sebagai berikut:

Sugih tanpo bondo

Digdoyo tanpo aji

Nglurug tanpo bolo

Menang tanpo ngasorake

Trimah mawi pasrah

Suwung pamrih tepi ajrih

Langgeng tan ana susah tan ana bungah

Anteng manteng sugeng jeneng

yang artinya kurang lebih adalah:

Kaya-raya tetapi tanpa benda

Kesaktian atau kekuatan tanpa ajian atau mantra

Menyerang tanpa pasukan

Menang tanpa menyoraki/merendahkan

Menerima dengan kepasrahan terhadap apa yang ada

Tidak takut jika memang tidak berniat jahat

Tetap tenang dalam susah ataupun senang

Sikap tenang atau diam, akan membawa keselamatan

Berita terkait
0
Naik Berahi, Pria di Makassar Nyaris Perkosa Adiknya
Seorang pelajar di Kota Makassar, nyaris diperkosa oleh sepupunya sendiri, AL di salah satu kamar penginapan.