UNTUK INDONESIA
Cerita Tenaga Medis Covid-19 Tidak Pulang 3 Bulan
Sejumlah tenaga medis Covid-19 di DKI Jakarta mencurahkan isi hatinya, mengakui tidak sempat pulang ke rumah 1-3 bulan untuk merawat pasien.
Pekerja medis yang mengenakan alat pelindung diri (APD) memindahkan seorang pasien yang terinfeksi virus corona Covid-19 di Rumah Sakit Klinik Kota Nomor 52 di Moskow, Rusia 28 April 2020. (Foto: REUTERS|Maxim Shemetov|CNA).

Bekasi - Sejumlah tenaga medis Covid-19 di DKI Jakarta mencurahkan isi hatinya, mengakui tidak sempat pulang ke rumah hampir satu hingga tiga bulan lantaran harus bertugas memastikan seluruh pasien tertangani dengan baik. 

"Sudah hampir, tiga bulan tidak ketemu sama mama, sama ayah. Paling pulang ketemu sama suami, sempat juga harus dipisah dengan anak," kata Lia, salah seorang dokter penanganan Covid-19 di Puskesmas Duren Sawit, dalam unggahan video di Instagram @dkijakarta milik Pemprov DKI Jakarta itu, Minggu, 24 Mei 2020. 

Kita akan tetap bertugas dengan baik semaksimal mungkin untuk melewati pandemi ini. Aku juga kangen keluargaku.

Tidak hanya Lia, ada juga tiga orang dokter lainnya yaitu Indriani Febriani, Kevin William Hutomo, dan Suhartiningsih yang bernasib sama tidak bertemu keluarganya lebih dari satu bulan demi melakukan penanganan terhadap pasien Covid-19. 

Baca juga: Prabowo Semangati Paramedis yang Tak Rayakan Lebaran

Di tengah momen perayaan Lebaran yang biasanya digunakan banyak orang untuk berkumpul dengan keluarga, para tenaga medis itu memilih tetap bertugas dan tinggal di fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah dibandingkan pulang ke rumah. 

"Sebisa mungkin saya tidak pulang ke rumah karena bisa saja saya menjadi 'carrier' (pembawa virus)," kata Kevin.

Pada saat diminta menghubungi keluarganya lewat panggilan telepon, keempatnya meminta maaf karena tak bisa pulang ke kampung halamannya saat Lebaran tahun ini. 

Bahkan, dokter Indriani yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu menitikkan air mata saat ibunya berpesan agar anaknya itu tetap berjuang melayani pasien Covid-19, meski harus merelakan berlebaran tanpa berjumpa dengan keluarga tercinta. 

"Pokoknya sabar ya. Teteh kan dari kecil mau jadi dokter. Harus dibuktikan sekarang, harus dijalani ya. Nanti kita pasti bertemu lagi," kata ibu dokter Indriani, dilansir Antara

Baca juga: Luhut Ingin Momentum Covid-19 Kuatkan Persaudaraan

Lantas para dokter itu berpesan dengan tegas agar di masa Lebaran ini, masyarakat tetap mematuhi Pembatasan Sosial Berskala Besar dengan disiplin dan tetap berada di rumah saja, agar rantai persebaran virus corona lekas terputus. Dia menyayangkan masih banyak warga yang abai pada PSBB. 

"Kami itu miris kalau pada waktu memeriksa, hasilnya tuh positif semuanya. Itu luar biasa sedihnya," kata dokter Suhartiningsih yang bertugas sebagai Kepala Satuan Pelaksana di Laboratorium Masyarakat.

Kemudian, tenaga kesehatan lainnya juga meminta jika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan, harus menjalankan protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya, mulai dari menggunakan masker, menjaga jaga jarak aman, hingga rajin mencuci tangan. 

"Aku dan teman-teman di sini (di Rumah Sakit) kan masih terus berjuang, kita enggak akan menyerah. Kita akan tetap bertugas dengan baik semaksimal mungkin untuk melewati pandemi ini. Aku juga kangen keluargaku," kata dokter Indriani menyampaikan harapannya agar warga DKI Jakarta tetap patuh menjalani PSBB di momen Lebaran Idulfitri 1441 Hijriah ini. []

Berita terkait
Idul Fitri, Pasien Sembuh Covid-19 Total 5.402 Orang
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat jumlah penambahan pasien sembuh bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah.
Penjelasan New Normal di Tengah Pandemi Covid-19
Penjelasan istilah new normal yang akhir-akhir ini sering digunakan dalam konteks penanganan Covid-19 di tengah pandemi.
Covid-19 Argentina dan Denmark Lompati Korea Selatan
Dua negara yaitu Argentina dan Denmark mencatat rekor baru Covid-19 dengan melompati jumlah kasus Covid-19 di Korea Selatan
0
Waspadai Efek Makanan Santan yang Selalu Dipanaskan
Makanan santan khas lebaran yang dipanaskan berulang kali bisa mempengaruhi kesehatan tubuh dan meningkatkan risiko penyakit jantung dan strok.