UNTUK INDONESIA
Temuan Keramik dan Tembikar di Situs Lamuri 700 Tahun Silam
Ekskavasi di situs Lamuri dilakukan tim peneliti asal Aceh dan Malaysia, menemukan artefak lebih kurang 700 tahun lalu.
Arkeolog Aceh sekaligus ketua tim ekskavasi penelitian situs Lamuri dari Aceh, Dr Husaini Ibrahim mengatakan lokasi penggalian yang dilakukan di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar itu menemukan keramik dan tembikar pecahan-pecahan kecil. (Foto: Fahzian Aldevan)

Aceh Besar, (Tagar 17/3/2018) - Ekskavasi di situs Lamuri yang dilakukan oleh tim peneliti asal Aceh dan Malaysia yang berlangsung sejak Sabtu (3/3) hingga selesai pada Kamis (15/3) menemukan artefak lebih kurang 700 tahun lalu.

Arkeolog Aceh sekaligus ketua tim ekskavasi penelitian situs Lamuri dari Aceh, Dr Husaini Ibrahim mengatakan lokasi penggalian yang dilakukan di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar itu menemukan keramik dan tembikar pecahan-pecahan kecil.

"Umumnya temuan dari hasil penggalian adalah keramik dan tembikar dalam keadaan pecahan-pecahan kecil. Dari hasil analisis, artefak tersebut telah berumur lebih kurang 700 tahun," kata Husaini kepada Tagar, Sabtu.

Kata Husaini, selama penelitian salah satu temuan yang paling penting ialah sebuah mangkuk yang dibuat dari keramik. Ketika ditemukan posisinya terbalik dan masih utuh. Keramik ini ditemukan pada kedalaman 50 sentimeter di bawah tanah. Dari hasil analisis diketahui keramik ini diproduksi dari Vietnam pada abad ke-14 dan 15 Masehi.

Dia menambahkan bahwa selain keramik Vietnam, keramik China yang diproduksi pada masa Dinasti Song Selatan dan Yuan abad ke-13 Masehi juga dijumpai ketika penggalian. Kemudian tembikar dari Asia Selatan juga dijumpai yang diduga berasal dari periode yang sama.

"Keramik dan tembikar ditemukan dalam keadaan pecahan-pecahan kecil. Ada yang bisa direkonstruksi dan ada yang tidak bisa direkonstruksi bentuknya," katanya.

Dari hasil penemuan di kawasan situs Lamuri dan pengumpulan data, kata Husaini dapat dipertanggungjawabkan karena ekskavasi yang mereka lakukan berstandar Internasional.

"Semua data direkam secara sistematis, kami selama ini hanya mengatakan bahwa Lamreh adalah pusat kerajaan Lamuri, namun tidak memiliki bukti kuat. Kini kami menjumpai keramik di situ dari hasil penggalian yang menegaskan bahwa Lamreh pusat Kerajaan Lamuri. Pernyataan ini juga dipertegas oleh temuan ratusan batu nisan di situs ini yang diperkirakan milik raja-raja Lamuri," katanya.

Temuan ini akan menjadi sumber utama bahwa Aceh di bawah kerajaan Lamuri telah menjalin hubungan bilateral dengan negara-negara luar seperti Cina, Vietnam, Thailand, India dan juga negeri-negeri Arab sejak ratusan tahun lalu. Ribuan pecahan keramik yang tersebar di atas permukaan tanah memberi gambaran betapa besarnya perdagangan yang telah wujud di Lamreh pada abad ke-13 sampai 15 Masehi.

"Kami berharap suatu saat nanti pemerintah dapat menetapkan Lamreh sebagai situs cagar budaya yang dilindungi. Situs ini tidak hanya sebagai bukti sejarah semata, juga sebagai jati diri bangsa Aceh. Bahwa Aceh telah menjalin hubungan baik dengan berbagai negara luar sejak seribu tahun terakhir," harapnya. (Fzi)

Berita terkait
0
Pulang dari Zona Merah, 1 Warga Samosir ODP Covid-19
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Kabupaten Samosir, menetapkan seorang wanita sebagai ODP.