UNTUK INDONESIA

Cara Belajar Sejarah Para Pemburu Makam di Yogyakarta

Beragam cara dilakukan oleh orang untuk mempelajari sesuatu, termasuk yang dilakukan oleh dua anak muda di Yogyakarta dalam mempelajari sejarah.
Fransisca Xaveria Hanonsari Paramita Hargiyono Putri, 41 tahun, seorang penggemar sejarah yang belajar dengan cara mendatangi kompleks pemakaman, Minggu, 15 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Suara shutter kamera sesekali terdengar di kompleks pemakaman Antakapura, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tempat dimakamkannya dalang terkenal pada masa pemerintahan Amangkurat I, yakni Ki Dalang Panjang Mas, beserta istrinya Ratu Mas Malang.

Seorang perempuan bermasker tampak asyik dengan kameranya. Memotret puluhan makam yang ada di tenggara Kota Yogyakarta tersebut. Sesekali dia berhenti memotret, memandang sejumlah pohon-pohon besar berurat di area pemakaman itu, kemudian berjalan menuju lokasi yang dinilainya bagus untuk mengambil gambar.

Sorot matanya terlihat serius mencari sisi-sisi unik di tempat tersebut. Lalu berjalan mendekati juru kunci kompleks pemakaman yang mengenakan kaus bermotif militer. Fransisca Xaveria Hanonsari Paramita Hargiyono Putri, 41 tahun, nama perempuan yang memegang kamera itu, menanyakan sesuatu pada si juru kunci. Sejenak dia mengangguk-angguk, kemudian kembali sibuk dengan kameranya. Suara shutter kamera terdengar lagi.

Ruri, sapaan akrab perempuan itu, adalah seorang penggemar sejarah. Dia belajar tentang sejarah melalui cara yang unik, yakni mendatangi makam-makam kuno. Bukan hanya di Indonesia saja. Ruri juga telah mendatangi beberapa makam di Jerman.

Cerita Pemburu Makam (2)Fransisca Xaveria Hanonsari Paramita Hargiyono Putri, 41 tahun, sedang memotret makam di Kompleks Pemakaman Ki Dalang Panjang Mas dan Ratu Mas Malang, Pleret, Yogyakarta, Minggu, 15 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Hari itu, Minggu, 15 November 2020, Ruri mendatangi Astakapura bersama ibu dan seorang rekannya, Laurentius Lei, yang juga merupakan penggemar sejarah yang belajar melalui gedung-gedung tua maupun pemakaman kuno.

Pemakaman Paling Berkesan

Ruri menceritakan awal dirinya menyukai pemakaman, yakni sejak tahhun 2016. Hingga saat ini dia sudah mendatangi puluhan makam dan kompleks pemakaman. Tapi dari sekian banyak kompleks pemakaman yang pernah didatanginya, ada dua tempat yang menurutnya paling mengesankan.

Kedua pemakaman itu terletak di Jakarta, yakni Museum Taman Prasasti dan Mausoleum OG Khouw di kawasan Slipi Petamburan.

Nek ditakoni gini, jawabane berubah-ubah. Ada dua soale. (Kalau ditanya begini, jawabannya berubah-ubah. Soalnya ada dua)," ucapnya. 

Satu, Museum Taman Prasasti Jakarta, soalnya kuwi (itu) pemakaman berarsitektur Eropa tertua di dunia. Balik lagi ke tahun 1795.

Sedangkan untuk makam di Mausoleum OG Khouw, yang merupakan makam saudagar gula terkaya di Batavia saat itu, berkesan karena mausoleum itu dibangun oleh istri sang saudagar pada tahun 1920 dengan marmer dan arsitek yang didatangkan langsung dari Italia.

Apiklah pokoke. (Baguslah pokoknya),” kata Ruri.

Ruri juga pernah menemukan kondom bekas pakai di dalam area kuburan, yaitu di TPU Slipi Petamburan, tepatnya di makam yang terletak di bawah tanah, yang saat itu tidak ada pintunya. Dia mengaku tidak habis pikir dengan hal itu.

Cerita Pemburu Makam (3)Fransisca Xaveria Hanonsari Paramita Hargiyono Putri, 41 tahun, bersama rekannya, Lei, mendengarkan penjelasan juru kunci Kompleks Pemakaman Ki Dalang Panjang Mas di Pleret Bantul, Minggu, 15 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Namun saat ditanya tentang pengalaman yang paling paling mengesankan saat memotret dan belajar sejarah dengan mendatangi kompleks pemakaman, Ruri meminta waktu untuk menjawab. Dia harus berpikir karena jumlah pemakaman yang didatanginya sudah cukup banyak.

Sik mikir sik . Aku nek diinterview mesti mikire suwi, soale akeh banget kuburan sing wis aku datengin, jadi mikir sik. (Tunggu dulu. Saya kalau diinterview selalu lama berpikir, soalnya banyak sekali kuburan yang sudah aku datangi, jadi mikir dulu),” kata Ruri menegaskan.

Sekitar semenit kemudian, Ruri sudah bisa menjelaskan pengalaman paling mengesankan saat mendatangi pemakaman untuk belajar sejarah. Intinya, kata Ruri, setiap kali dirinya pulang dari pemakaman, dia merasa menjadi lebih pintar.

“Jadi motret sekalian sinau (belajar) sejarah. Kabeh (semua) mengesankan sih buatku. Soale aku selalu ngerasa tambah pinter seko kuburan.”

Meski demikian, ada satu pemakaman yang disebutnya sebagai titik awal dirinya menjadi sangat berniat untuk belajar sejarah dengan cara mendatangi pemakaman, yakni pada tahun 2017, tepatnya saat Imlek. Saat itu dirinya mendatangi kompleks pemakaman Tanah Gocap, Tangerang, bersama seorang rekannya, Deni, yang saat ini sudah meninggal karena sakit.

“Itu mulai berniat banget belajar sejarah dari kuburan bareng almarhum. Kuburan Tanah Gocap Tangerang. Sayangnya cuma 2,5 tahun belajar bareng,” ucap Ruri mengenang.

Mengenai jadwalnya blusukan mendatangi pemakaman, Ruri mengaku saat ini dirinya tidak membuat jadwal khusus, tergantung pada mood dan kesempatannya.

Nek (kalau) dulu sama almarhum Deni paling sebulan sekali jalan. Nek saiki (Kalau sekarang) ya tergantung mood.”

Sejak Deni meninggal dunia, Ruri seperti kehilangan energi untuk berbagi pengetahuan tentang sejarah-sejarah yang diperolehnya dari juru kunci komleks-kompleks pemakaman. Dulu dia rutin mengunggah foto ke Instagram seusai mengunjungi pemakaman-pemakaman.

Cerita Pemburu Makam (3)Laurentius Lei mendengarkan penjelasan juru kunci Kompleks Pemakaman Ki Dalang Panjang Mas, di Pleret, Bantul, Minggu, 15 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dishare di IG sih tepatnya. Berbagi pengetahuan di sana. Tapi ya itu, energinya belum ada. Tapi kudune (harusnya) dalam waktu dekat mulai kudu berbagi meneh (lagi). Sudah cukup waktu untuk berduka,” kata dia lagi.

Jangan Ubah Bentuk Asal

Laurentius Lei, rekan Ruri, terlihat sama antusianya mengabadikan dan menanyakan sejarah Ki Dalang Panjang Mas dan Ratu Mas Malang pada juru kunci. Sesekali jemarinya bergerak memperbaiki letak kacamata di atas masker yang dikenakannya.

Lei, sapaan akrabnya, sudah lima tahun tinggal di Yogyakarta. Pemuda asal Kota Bandung, Jawa Barat ini, mengaku tertarik pada bangunan-bangunan bersejarah sejak dirinya masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP), tepatnya sekitar tahun 1998.

“Kalau aku pada dasarnya suka jalan-jalan ke bangunan-bangunan bersejarah . Rumah tua , rumah kuno, rumah belanda, tradisional. Kalau untuk spesialis ke kuburan memang enggak harus kuburan juga sih sebetulnya,” ucapnya.

Lei hobi mengunjungi bangunan bersejarah karena bangunan-bangunan itu bernilai seni dan selalu ada cerita di baliknya.

Cerita Pemburu Makam (5)Fransisca Xaveria Hanonsari Paramita Hargiyono Putri, 41 tahun, bersama seorang rekannya, Laurentius Lei, memotret makam di Kompleks Pemakaman Ki Dalang Panjang Mas, Pleret, Kabupaten Bantul, Minggu, 15 November 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Saat ini, dengan banyaknya platform media sosial, Lei merasa hobinya tersebut menjadi lebih terfasilitasi. “Jadi secara tdk langsung merasa difasilitasi untuk terus blusukan. Selain itu karena di kota saya di Bandung, bangunan kolonial cukup banyak,” ujarnya lagi.

Dengan mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah, Lei mengaku mendapatkan banyak manfaat, termasuk kepuasan batin dan menambahk pengetahuannya juga. “Secara tidak langsung mendokumentasikan juga.”

Tapi dia sangat menyayangkan banyaknya bangunan kuno yang tiba-tiba berubah bentuk dari aslinya dan berubah fungsi. Menurutnya bentuknya menjadi aneh.

Dia menyarankan pada pengelola bangunan-bangunan bersejarah yang saat ini masih utuh, agar tidak mengubah bentuk atau menambahkan material yang tidak sesuai.

“Sejalan dengan zaman sekarang, ada bolehnya dicoba sejarah rumah, bangunan yang ditempati ditinggali dikorek lagi dan dikumpulkan serpihan ceritanya. Misalnya dulu eyang-eyangnya pernah cerita apa gitu, dll yang menarik. Buat orang-orang yang suka blusukan seperti saya contohnya, itu bisa menjadi hal sangat menarik sekali.”

Saat ditanya pengalaman mistis yang pernah dialami saat mengunjungi bangunan kuno atau kompleks pemakaman, Lei mengaku tidak pernah mengalaminya. “Puji Tuhan gak pernah. Cuma pegel-pegel kaki aja hehe,” ucapnya.

Dari sekian banyak bangunan bersejarah yng telah didatanginya, Lei mengaku sangat terkesan dengan Keraton Yogyakarta dan beberapa Ndalem Kepangeranan.

“Sangat menarik. Ndalem Kepangeranan juga bikin saya penasaran . Saya ingin mencoba blusukan ke Ndalem-ndalem kepangeranan yang ada di Yogyakarta. Baru beberapa saja saya visitnya,” lanjut pemuda yang mendatangi tempat bersejarah menggunakan acuan peta zaman Belanda ini. []

Berita terkait
Cerita Migran Perempuan di Perbatasan Meksiko - AS
Sejumlah migran dan pencari suaka di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko menceritakan kisah mereka selama ada di kamp.
Sejarah Kesatuan Musik Eropa Milik Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta pernah memiliki kesatuan abdi dalem yang bertugas memainkan musik-musik Eropa. Tapi kesatuan itu kemudian dibubarkan.
Hantaman Dendam Anak Korban Pembunuhan di Kulon Progo
Aditya Yoga Pratama, 19 tahun, anak korban pembunuhan di Kulon Progo, memukul wajah pembunuh sang ibu saat dilakukan rekonstruksi.
0
Jokowi: RCEP Harapan Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi
Presiden Jokowi berharap penandatanganan RCEP bisa membantu pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi.