Taiwan Sebut Butuh Senjata Jarak Jauh untuk Halangi China

Menhan Taiwan, Chiu Kuo-cheng, katakan bahwa negara tersebut perlu memiliki senjata jarak jauh dan akurat untuk mencegah China
Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, kiri tengah, berfoto dengan para penerbang di dekat jet Tempur Pertahanan Pribumi Taiwan yang dipamerkan selama kunjungan ke pangkalan udara militer Penghu Magong di pulau terpencil Penghu, Taiwan, 22 September 2020. (Foto: voaindonesia.com/AP)

Jakarta – Menteri Pertahanan (Menhan) Taiwan, Chiu Kuo-cheng, Senin, 27 September 2021, mengatakan bahwa negara tersebut perlu memiliki senjata jarak jauh dan akurat untuk mencegah China yang dengan cepat mengembangkan sistemnya untuk menyerang pulau itu.

Taiwan bulan ini mengusulkan pengeluaran pertahanan ekstra hampir 9 miliar dolar AS untuk lima tahun ke depan, termasuk di dalamnya pembelian rudal baru, dikarenakan terdapat kebutuhan mendesak untuk meningkatkan senjata dalam menghadapi "ancaman parah" dari tetangga raksasa China, yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya sendiri.

Berbicara di parlemen, Chiu mengatakan Taiwan harus bisa memberi tahu China bahwa mereka bisa membela diri.

“Pengembangan peralatan harus jarak jauh, tepat, dan gesit, sehingga musuh dapat merasakan bahwa kita siap segera setelah mereka mengirimkan pasukannya,” tambahnya, merujuk pada kemampuan rudal Taiwan.

jet tempur chinaDalam foto dokumentasi tak bertanggal ini yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Taiwan, sebuah jet tempur PLA J-16 China terbang di lokasi yang dirahasiakan. China mengirim rekor 28 jet tempur, 14 di antaranya J-16 (Foto: voaindonesia.com/AP)

Dalam sebuah laporan tertulis kepada parlemen, kementerian tersebut mengatakan bahwa rudal jarak menengah dan jarak jauh digunakan dalam latihan pencegatan di fasilitas uji kunci di pantai tenggara Taiwan.

Chiu menolak memberikan perincian kepada wartawan tentang seberapa jauh rudal Taiwan dapat mencapai, sesuatu yang selalu dirahasiakan oleh pemerintah.

Taiwan menawarkan penilaian yang luar biasa tajam tentang kemampuan China dalam laporan tahunannya tentang militer China. Taiwan mengatakan bahwa mereka dapat "melumpuhkan" pertahanan Taiwan dan dapat sepenuhnya memantau penyebarannya.

Chiu mengatakan penting bahwa orang Taiwan menyadari bahaya yang mereka hadapi.

Ditanya apa yang akan diserang China pertama kali jika terjadi perang, Chiu menjawab bahwa itu adalah kemampuan komando dan komunikasi Taiwan.

"Dalam hal ini kemampuan Komunis China meningkat pesat. Mereka dapat mengganggu sistem komando, kontrol, komunikasi dan intelijen kami, misalnya dengan stasiun radar tetap pasti diserang terlebih dahulu," katanya.

"Jadi kita harus mobile, sembunyi-sembunyi dan bisa berganti posisi."

Peta China, Jepang, TaiwanPeta China, Jepang, Taiwan dan kepulauan Senkaku yang diperebutkan antara Beijing dan Tokyo (Foto: dw.com/id)

Presiden Tsai Ing-wen telah menjadikan penguatan dan modernisasi pertahanan sebagai prioritas, untuk menjadikan pulau itu sebagai "landak" yang sulit diserang.

Taiwan telah mengeluh selama berbulan-bulan tentang aktivitas militer China yang berulang di dekatnya, terutama jet angkatan udara yang memasuki zona pertahanan udara Taiwan.

China telah meningkatkan upaya untuk memaksa pulau yang diperintah secara demokratis itu untuk menerima kedaulatan China. Kebanyakan orang Taiwan tidak menunjukkan keinginan untuk diperintah oleh Beijing yang otokratis (ah/rs)/voaindonesia.com. []

Presiden Taiwan: Jangan Percaya Komunis

Konflik Antara China dan Taiwan Terus Berlanjut

China Keberatan Ada Pembicaraan Dagang Amerika dan Taiwan

China Terus Memasang Poster Ancam Perang Melawan Taiwan

Berita terkait
Awal Konflik Antara Taiwan dan China
Taiwan masih menjadi musuh China hingga pada saat ini karena tetap menganggap Taiwan adalah bagian dari China daratan
0
Taiwan Sebut Butuh Senjata Jarak Jauh untuk Halangi China
Menhan Taiwan, Chiu Kuo-cheng, katakan bahwa negara tersebut perlu memiliki senjata jarak jauh dan akurat untuk mencegah China