Yogyakarta - Di media sosial atau group WA, sering mendapat kiriman video orang sedang marah. Ada yang merusak televisi, dengan menendang bahkan membacoknya. Itu terjadi karena jagoannya kalah. Stres berlebihan di masa Pemilu 2019 miris memang.

Psikoterapis Yogyakarta Sekartaji Ayuwangi mengatakan, terlihat fenomena yang memprihatinkan dengan kondisi masyarakat pada Pemilu 2019 ini. Kondisi tersebut berkaitan dengan kematangan emosi masyarakat dalam pesta demokrasi.

Dia mengatakan, di media sosial bahkan di kehidupan nyata, masyarakat seolah fanatik dengan kubu masing-masing melalui berbagai perilaku yang sangat tidak sehat bagi dirinya sendiri. Munculnya agresifitas perilaku dengan saling olok, menyerang dalam fanatisme politiknya menimbulkan banyak perilaku negatif yang berbahaya.

Perempuan yang akrab disapa Arta ini mengungkapkan, orang tersebut seolah tidak memiliki kematangan emosi. Mereka mungkin memiliki permasalahan pribadi yang mengendap sejak lama. "Mereka tidak memiliki sarana penyaluran emosi secara positif sehingga dalam kondisi pemilu seperti ini, ledakan emosi negatif dari bawah sadar mereka mengalir," paparnya.

Pendiri Rumah Kasih Sekartaji ini menjelaskan, masyarakat yang patah hati dengan memiliki akar masalah di dalam dirinya itu tidak hanya akan terjangkit virus stres. Namun kondisinya rentan meningkat ke fase depresif awal, sebagai akibat patahnya harapan dari kenyataan hasil Pemilu kali ini.

Menurut dia, virus stres ini, kemudian secara otomatis memunculkan perilaku agresif-negatif yang tentunya berpengaruh pada hubungan pribadinya. "Bisa dengan pasangan, keluarga, rekan kerja, dan orang-orang sekitar yang justru kelak akan mempersulit dirinya sendiri," ungkapnya.

Menurut Arta, ada kelompok orang yang rentan terjangkit virus stres pasca Pemilu ini. Siapa saja mereka? Pertama, mereka adalah pribadi yang terbiasa menendang kehidupan, menolak berbagai kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Kedua, mereka adalah pribadi yang tidak terbiasa untuk berproses mengenal dirinya, menyadari dan menerima setiap bentuk kekecewaan sebagai sarana bagi pertumbuhan jiwa dalam mengarungi kehidupan.

Sekartaji AyuwangiSekartaji Ayuwangi. (Foto: Dok pribadi)

Ketiga, Mereka adalah pribadi yang sulit menerima kekecewaan dan selalu menganggap bahwa; "Dunia ini hadir untuk dirinya", termasuk semua orang dan peristiwa, harus sesuai dengan keinginannya.

Keempat, mereka adalah pribadi yang tidak terbiasa untuk menyelam ke dalam diri untuk menerima proses kehidupan untuk melahirkan perilaku otomatis "Saya hadir untuk dunia ini".

Praktisi terapi psikologis Balai Rehabilitasi Sosial dan Pengasuhan Anak (BRSPA) Dinas Sosial DIY ini mengungkapkan, dalam pesta demokrasi kali ini, mereka gagal memahami. "Peristiwa saat ini bukan ajang  untuk memenuhi keinginan pribadinya, namun kesadaran untuk melahirkan kebaikan bagi masa depan negeri ini," tegasnya.

Arta mengatakan, sesungguhnya peristiwa demokrasi Pemilu ini hanya salah satu stimulus bagi munculnya perilaku-perilaku agresif-negative mereka. Pemilu bukan sebagai akar peristiwa yang memunculkan perilaku negative tersebut.

Lalu bagaimana cara agar masing-masing pribadi terhindar dari virus stres yang berbahaya bagi diri sendiri? Arta menyebut ada tujuh jurus mengelola hati pasca Pemilu ini. Pertama, belajarlah mengenal diri sendiri. Kedua, belajar memahami setiap akar dari luka batin di dalam diri. Ketiga, belajar menerima dan menyayangi diri sendiri.

Keempat, belajarlah untuk menerima setiap peristiwa, orang-orang yang hadir di masa lalu yang menjadi akar dari luka batin. Kelima, belajar memaafkan. Keenam, belajar mengambil hikmah dari seluruh peristiwa sebagai guru menyamar bagi pertumbuhan jiwa. Ketujuh, belajar memahami bahwa perbedaan adalah bentuk alami dari kehidupan.

Arta mengatakan, dengan mengenal dan memahami diri, berdamai dengan luka batin di dalam diri, maka kematangan emosi pun bertumbuh baik. Apapun kondisi dari seluruh peristiwa yang terjadi di dalam hidup akan diterima dengan baik. "Karena kesadaran positif telah bertumbuh di dalam diri sehingga kita terhindar dari virus stres yang berbahaya bagi diri sendiri," tandasnya.

Baca juga: Cara Memperbaiki Hubungan Akibat Perbedaan Politik