UNTUK INDONESIA
Selalu Dijadikan Bahan Serangan dalam Pilpres, Ini Sejarah Indosat
Sejarah panjang Indosat yang selalu dijadikan bahan serangan dalam pilpres.
Indosat selalu dijadikan bahan serangan menjelang pilpres. (Foto: Istimewa)

Jakarta, (Tagar 23/3/2019) - Indosat selalu dijadikan bahan serangan menjelang pilpres, tak ayal presiden ketika itu Megawati selalu menjadi bulan-bulanan.

Indosat didirikan pada tahun 1967 sebagai perusahaan penanaman modal asing pertama di Indonesia yang menyediakan layanan telekomunikasi internasional melalui satelit internasional. 

Indosat mulai beroperasi sejak tahun 1969, sebagai perusahaan komersil penyedia jasa sambungan langsung internasional (IDD). Seiring perkembangannya waktu, Indosat menjadi perusahaan telekomunikasi. Sehingga pada tahun 1980 Indosat menjadi Badan Usaha Milik Negara yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.

Pada tahun 1994 Indosat menjadi perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan New York Stock Exchange, Pemerintah Indonesia 65% dan publik 35%.  Di tahun yang sama Indosat mengambil alih saham mayoritas Satelindo dan SLI di Indonesia lalu mendirikan PT Indosat Multimedia Mobile (IM3) sebagai pelopor jaringan GPRS dan layanan multimedia. 

Pada tahun 2003 Indosat bergabung dengan tiga anak perusahaan, yaitu: Satelindo, IM3 dan Bimagraha untuk membentuk operator seluler di Indonesia. Kemudian Indosat mendapatkan lisensi jaringan 3G dan memperkenalkan layanan 3,5G di Jakarta dan Surabaya. 

Pada tahun 2009 Qtel (Pemerintah Qatar) membeli saham seri B sebanyak 24,19% dari publik sehingga menjadi pemegang saham mayoritas Indosat dengan kepemilikan sebesar 65%. Pada tahun yang sama, Indosat memperoleh lisensi tambahan frekuensi 3G dari Kementrian Komunikasi dan Informatika, serta memenangkan tender untuk lisensi WiMAX yang diadakan pemerintah.

Karena sebagian besar kepemilikan Indosat dikuasai oleh pemodal asing Qtel (Pemerintah Qatar), maka berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2007 penyelenggaraan jaringan telekomunikasi untuk jaringan bergerak baik seluler maupun satelit, kepemilikan modal asing dibatasi 65 persen.  

Tentu saja di tahun berikutnya, tepatnya di tahun 2010 Indosat mulai melakukan tranformasi menyeluruh untuk menjadi perusahaan yang lebih fokus dan efisien melalui restruktrurisasi organisasi, modernisasi dan ekspansi jaringan selular, dan inisiatif-inisiatif mencapai keunggulan operasional.

Sejak itu, Indosat terus saja mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dengan membuktikan mampu mencapai 58,5 Juta pelanggan yang didukung oleh peningkatan jaringan serta inovasi produk di tahun 2012. 

Pada tahun 2013, Indosat mengadakan komersialisasi jaringan 3G di frekuensi 900 MHz. Setahun berikutnya Indosat melakukan peluncuran dan komeralisasi layanan 4G di 900 MHz dengan kecepatan hingga 42 Mbps di beberapa kota besar di Indonesia. 

Beberapa tahun kemudian, pada 19 November 2015, Indosat resmi berganti nama menjadi Indosat Ooredoo  dan berdampak pada logo yang digunakan perusahaan tersebut.

Saat ini, pemerintah Indonesia memiliki 14,29% saham ISAT, sedangkan mayoritas saham dikuasai oleh Ooredoo Asia Pte Ltd (Qatar Telecom) sebanyak 65%. Sisanya sekitar 20,71% beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Jika mengacu pada harga saham sekarang (30-Juni-2014) adalah Rp 3.685, maka untuk menjadi pemegang saham mayoritas pemerintah harus memiliki minimal 51% saham indosat (syarat minimal). 

Dengan kepemilikan sekarang 14.29% pemerintah perlu membeli 36,71% lagi. Dimana pemerintah perlu menyiapkan dana Rp 7.35 triliun. Option ke dua adalah dengan membeli 65% milik Ooredoo Asia. 

Untuk Option ini, pemerintah harus menyiapkan dana Rp 13,015 Triliun. Dengan 2 pilihan tersebut, harga itu lebih tinggi dari dana yang didapat oleh pemerintah waktu menjual 41,9% sebesar Rp 5,62 Triliun. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Sidang Pertama Gugatan MAKI ke Yasonna Usai Lebaran
Boyamin Saiman MAKI menuturkan gugatan pada Menkumham Yasonna Laoly ke Pengadilan Negeri Surakarta terkait napi asimilasi dimulai habis lebaran.