UNTUK INDONESIA
Sekolah Adalah Rumah Kebajikan
Ditulis oleh Senior Gerakan Daulat Desa (GDD). Dia menyebut anak-anak (kita) itu, sudah dicekoki bumbu-bumbu politik negatif.
Anak sekolah dasar di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. (Foto: Tagar/Nurus Solehen)

Oleh: Ingot Simangunsong*

Mereka bergerombolan dengan seragam sekolah, bergerak berunjuk rasa menuju kantor DPRD Sumatera Utara, Jalan Imam Bonjol, Medan.

Ada yang berjalan kaki. Ada yang mengendarai sepeda motor dengan suara knalpot yang digeber. Ada yang naik mobil pickup dan lainnya.

Mereka berteriak, dari melontarkan kata-kata sopan hingga ujaran kotor dan berperilaku tidak sopan.

Yang menjadi sangat penting diperhatikan, tidak hanya pergerakan mereka saja, tetapi bagaimana anak-anak (kita) yang masih SMA/SMK, sudah disusupi para provokator dan politisi busuk.

Anak-anak (kita) itu, sudah dicekoki bumbu-bumbu politik negatif. Mereka sudah mendapatkan informasi yang mampu menggelorakan emosional dan membangkitkan amarah.

Mereka masih belia, belum mantap memanfaatkan daya nalar terhadap permasalahan yang terjadi. Mereka masih gagap untuk mendapatkan atau mencari informasi yang sebenarnya.

Ketidak-sigapan atau ketidak-siagaan mereka (anak-anak) kita itulah, yang dijadikan celah oleh para politisi busuk dan para provokator untuk memengaruhi dan menggerakkan.

Menyikapi kondisi tersebut, pihak sekolah sudah pantas untuk bercermin, sekaligus mengintrospeksi peranan dalam membentengi anak didik dari pengaruh luar.

Taat Aturan

Cobalah kita perhatikan, di sejumlah sekolah anak didik, seperti dibiarkan mengenakan seragam yang tidak sesuai dengan aturan sekolah.

Soal ketidak-taatan pada aturan sekolah dan ketidaktegasan dalam penegakan aturan, juga menjadi pintu masuk bagi para politisi busuk dan para provokator untuk menancapkan paham-paham yang tidak benar.

Jadi, pihak sekolah sudah pantas untuk mengembalikan fungsi pengawasan yang melekat melalui para guru bidang bimbingan dan penyuluhan (konseling) serta guru bidang agama, terhadap perilaku anak didik.

Mereka --anak-anak (kita)-- harus taat akan aturan yang sudah ditetapkan sekolah. Mereka harus disiplin. Mereka harus tahu dan sadar adab. Mereka harus mendapatkan pencerahan tentang cinta kasih. Mereka harus diperkuat dalam memahami, bahwa sekolah adalah wadah mereka untuk memilki ilmu pengetahuan yang berakhlak dan beradab budaya.

Mendata Sekolah

Kemudian, Dinas Pendidikan yang bertanggungjawab terhadap kualitas pendidikan di Sumut, harus juga melakukan pendataan terhadap asal sekolah anak-anak yang berunjuk rasa.

Pendataan itu menjadi sangat penting, agar dapat mengakomodir, bagaimana sebenarnya penerapan pendidikan dan penegakan peraturan di sekolah mereka.

Jika kualitas penerapan mutu pendidikan maupun penegakan peraturan yang kurang, maka sudah selayaknya dilakukan pembenahan dan perbaikan-perbaikan.

Mari para pengelola sekolah (pendidikan), untuk lebih peduli dengan kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak (kita). Jangan biarkan anak-anak (kita), semakin terperosok lebih dalam ke lembah ketidakpastian di tangan para politisi busuk dan para provokator.

Sekolah, harus menjadi rumah kedua, yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak (kita). Para guru, harus menjadi pengganti orang tua, agar anak-anak (kita) dapat bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kurikulum yang diterapkan.

Sekolah, bukan "pabrikan" yang hanya memproduksi barang tak begerak. Sekolah adalah rumah kebajikan yang melahirkan anak-anak bangsa yang berkualitas dan berwawasan luas terhadap nilai-nilai kebangsaan dan bernegara.

*Penulis adalah Senior Gerakan Daulat Desa (GDD) Sumatera Utara

Berita terkait
KPAI: Anak Sekolah Jangan Terprovokasi Aksi Mujahid 212
KPAI tidak ingin pelajar terprovokasi narasi jihad dalam ajakan demonstrasi seperti Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI di Jakarta, 28 September 2019.
Guru Teladan Dimutasi, Warga di Sidrap Boikot Sekolah
karena guru yang dianggap teladan di mutasi Dinas Pendidikan Kabupaten Sidrap. orang tua murid menggelar demonstrasi.
Pelajar Tewas di Danau Toba, Sekolah Abai Pengawasan?
Pihak sekolah membantah jika kematian Putri Margaretty Sinambela di Danau Toba akibat kurang pengawasan guru pendamping.
0
Bagasi Motor Pelaku Bom Medan Berisi Peluru Kaliber
Brimob Polda Sumatera Utara mengamankan sepeda motor pelaku bom bunuh diri di Medan, ditemukan selongsong peluru kaliber 22.