UNTUK INDONESIA

Sejarah Kesatuan Musik Eropa Milik Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta pernah memiliki kesatuan abdi dalem yang bertugas memainkan musik-musik Eropa. Tapi kesatuan itu kemudian dibubarkan.
Salah satu bangsal yang ada di lingkungan Keraton Yogyakarta, yakni Bangsal Mandalasana, berhiaskan ornamen alat musik barat. (Foto: Tagar/Ist/Kratonjogja.id)

Yogyakarta – Suara yang timbul dari sejumlah alat musik tetabuhan, seperti gambang, saron, demung, bonang, kendang, hingga gong dan beberapa lainnya dirangkai menjadi nada dan irama yang khas, yakni gamelan.

Irama khas tradisional Jawa itu sering terdengar di radio pada rumah-rumah warga di perkampungan, di beberapa toko khas oleh-oleh tradisional di kawasan Malioboro Yogyakarta, atau di pementasan-pementasan kesenian tradisional.

Biasanya, para pemain musik gamelan mengenakan pakaian adat atau tradisional Jawa, seperti setelan baju khas Jawa  (surjan), kain batik, dan blangkon (topi) khas Jawa) untuk pemain pria, serta kebaya dan kain batik untuk para penyanyi atau sindennya. Pakaian itu menyerupai pakaian para abdi dalem keraton.

Abdi dalem keraton memiliki beberapa kesatuan dengan tugas yang berbeda untuk masing-masing kesatuan. Selain pemain musik tradisional Jawa, Keraton Yogyakarta pernah memiliki kesatuan abdi dalem yang bertugas memainkan musik-musik Eropa, namanya Musikan.

Nama Musikan berasal dari bahasa Belanda yang berarti musikus. Jejak keberadaannya masih bisa ditemui melalui kampung di sebelah timur Pagelaran Keraton, kampung Musikanan.

Kapan Musikan Terbentuk?

Dilansir dari laman resmi Keraton Yogyakarta, kratonjogja.id, meski jejak instrumen musik Eropa telah ditemukan sejak awal berdirinya Keraton Yogyakarta, namun waktu terbentuknya kesatuan abdi dalem Musikan tidak diketahui kapan tepatnya. Catatan mengenainya baru muncul pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921-1939).

Pada 26 Mei 1923, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Dirk Fock (1921-1926) berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Sri Sultan mengadakan pementasan musik Eropa untuk menghormatinya. Berbagai persiapan dilakukan, termasuk membuat seragam baru dan mengutus seorang Belanda dan dua abdi dalem untuk membeli alat-alat musik tambahan ke Batavia (Jakarta).

Kebutuhan protokoler ini diduga menjadi alasan kenapa kesatuan Musikan dibentuk.

Pada bulan November di tahun yang sama, Sri Sultan mengundang seorang seniman asal Jerman bernama Walter Spies untuk bekerja sebagai instruktur dan dirigen musik. Selain sebagai musikus, Spies juga dikenal sebagai pelukis ulung.

Kehadiran Spies yang mulai bekerja pada keraton sejak 1 Januari 1924 memberikan pengaruh cukup besar. Selain mengajar musik Eropa, ia sendiri mendalami gamelan Jawa.

“Dalam masa kerjanya yang singkat sebelum pergi ke Bali tahun 1927, ia meninggalkan beberapa manuskrip notasi gamelan untuk dimainkan dengan piano,” demikian tertulis dalam artikel tersebut.

Saat itu, kesatuan musik Eropa keraton memiliki 40 anggota dan orkesnya dinamai Kraton Orcest Djogja. Para Abdi Dalem Musikan diberi nama dengan kata-kata dari bahasa Belanda. Beberapa menggunakan nama-nama hari seperti Zondag (Minggu), Maandag (Senin), dan Dinsdag (Selasa). Beberapa menggunakan nama-nama bulan seperti Januari, Februari, Maart, April, dan Mei.

Beberapa lainnya menggunakan nama-nama opera. Seperti Aida, nama opera karya G. Verdi yang muncul tahun 1871 di Italia. Atau Carmen, judul opera karya Georges Bizet yang muncul pada tahun 1875 di Perancis.

Cerita Kesatuan Musik Keraton Yogyakarta (2)Papan nama Kampung Musikanan yang dulunya menjadi tempat tinggal abdi dalem Musikan. (Foto: Tagar/Ist/Kratonjogja.id)

Sebagian lainnya mengambil nama dari komposer opera, seperti Leoni, yang berasal dari nama Franco Leoni, komposer Italia yang hidup antara tahun 1864-1949. Nama-nama yang digunakan oleh para abdi dalem ini selanjutnya turun temurun diberikan pada penerusnya. Keturunan mereka akan menyandang nama itu, yang menggantikan abdi dalem yang sudah berakhir masa tugasnya.

Pergantian Dirigen Musikan

Kraton Orcest Djogja memiliki dua fungsi utama. Fungsi pertama adalah fungsi protokoler. Fungsi kedua adalah sebagai hiburan, baik acara-acara jamuan yang dilaksanakan di dalam atau di luar keraton.

Apabila seorang pejabat tinggi Hindia Belanda datang ke keraton, lagu kebangsaan Belanda Wilhemus dimainkan saat mereka memasuki Plataran Kamandhungan Lor. Di dalam Kedhaton, mereka disuguhi musik yang dimainkan dari Bangsal Mandalasana.

Secara struktur organisasi, Abdi Dalem Musikan ditempatkan di bawah Kawedanan Kriya, yang nantinya menjadi Kawedanan Hageng Punakawan Wahana Sarta Kriya. Musikan tidak ditempatkan di bawah Kawedanan Hageng Punakawan Kridamardawa yang menangani seni budaya keraton.

Sikap Sri Sultan Hamengku Buwono VIII mengenai musik Eropa dalam Keraton Yogyakarta tampak dari penempatan tersebut. Walau menerima dan menggunakan produk budaya kolonial, Sri Sultan menempatkannya di luar khazanah budaya Jawa.

Selain itu, perlu dicatat bahwa personel-personel berkebangsaan Eropa yang dipekerjakan di Kraton Orcest Djogja berkebangsaan Jerman, Austria, dan Spanyol. Tidak ada yang berasal dari Belanda.

Setelah menjadi dirigen kesatuan abdi dalem Musikan Keraton Yogyakarta selama beberapa tahun, Spies berhenti dan pergi ke Bali tahun 1927. Posisinya sebagai dirigen digantikan oleh Abdi Dalem bernama Mas Lurah Regimentsdochter, yang kemudian wafat pada tahun 1931.

Jabatan Mas Lurah Regimentsdochter sebagai dirigen diserahkan pada putranya yang bernama Leoni, yang kemudian diberi gelar Raden Lurah Regimentsdochter II.

Pada masa itu, Kraton Orcest Djogja berkembang dengan baik. Banyak kegiatan dilakukan. Seperti pementasan musik untuk mengiringi perarakan gunungan saat Garebeg Sawal, menyambut kunjungan para Gubernur Jenderal ke keraton, pentas dalam rangka penobatan Sunan Paku Buwono XI di Surakarta, menyambut kunjungan Sunan Paku Buwono XI ke keraton Yogyakarta, dan tak ketinggalan pementasan dalam rangka penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

“Selain pementasan dalam acara-acara penyambutan, Kraton Orcest Djogja melakukan kegiatan rutin di Pagelaran yang disebut Pasowanan. Ada pula pementasan dua kali sebulan di Societeit de Vereeniging, gedung rekreasi bagi orang Belanda yang kini menjadi bagian dari kompleks Taman Budaya Yogyakarta.”

Kegiatan Kraton Orcest Djogja memainkan lagu-lagu Eropa terhenti pada tahun 1942, tepatnya Maret 1942, saat Jepang merebut Jawa dari kerajaan Belanda.

Saat itu Jepang sangat antipati pada segala sesuatu yang berbau Belanda, dan menjadi hal yang tabu untuk dilakukan,

Kraton Orcest Djogja pun mulai memainkan lagu Jepang seperti Gunkan, Akatsuki, dan Kimigayo. Tenaga kulit putih yang sebelumnya ada, tidak dipergunakan lagi. Abdi Dalem Musikan yang dahulu disebut Kanca Musik, diubah menjadi Kanca Waditraya.

“Nama-nama Abdi Dalem yang sebelumnya menggunakan nama Eropa, diubah menjadi nama Jawa. Tiap nama Abdi Dalem diakhiri dengan kata waditra, seperti Mulyawaditra, Somawaditra, Kartawaditra, dan Pranawaditra. Waditra sendiri berarti alat musik.”

Pada masa ini, hampir tidak ada kegiatan bagi Abdi Dalem Kanca Waditraya. Baik itu berupa pementasan di dalam, atau di luar keraton. Abdi Dalem yang ada pun berkurang hingga menjadi 33 orang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan berakhirnya masa pendudukan bala tentara Jepang di Nusantara, kegiatan Abdi Dalem Musikan mulai dibangkitkan kembali. Mereka bermain mengiringi parade militer dan upacara bendera selama ibu kota berada di Yogyakarta.

Kraton Orcest Djogja bahkan sempat melakukan tour ke Jakarta mulai tanggal 23 Desember 1949 hingga 1 Januari 1950. Sepulangnya dari tour, Regimentdochter II, yang juga dikenal sebagai R. Rio Suryowaditra mendapat kenaikan pangkat pada tanggal 11 Januari 1950. Ia mendapat nama baru sebagai RW Pradjawaditra.

Namun, Keraton Yogyakarta sempat mengalami kesulitan dalam hal keuangan. Kondisi itu berpengaruh pada kesejahteraan Abdi Dalem Musikan. Terlebih saat itu acara-acara protokoler dan acara hiburan yang memerlukan iringan musik Eropa mulai berkurang. Akhirnya kesatuan ini dibubarkan. Alat-alat musik dihadiahkan kepada Abdi Dalem yang berhenti sebagai modal untuk mencari nafkah. []

Berita terkait
Hantaman Dendam Anak Korban Pembunuhan di Kulon Progo
Aditya Yoga Pratama, 19 tahun, anak korban pembunuhan di Kulon Progo, memukul wajah pembunuh sang ibu saat dilakukan rekonstruksi.
Kebersamaan Ratusan Pengungsi Gunung Merapi di Boyolali
Ratusan warga dari pedukuhan yang terletak kurang dari 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi di Boyolali telah mengungsi. Ini suasana pengungsian.
Kreativitas Pemuda Yogyakarta Gelar Pameran Ekspor Virtual
Sejumlah pemuda di Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY menjadwalkan pameran ekspor secara virtual.
0
Sejarah Kesatuan Musik Eropa Milik Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta pernah memiliki kesatuan abdi dalem yang bertugas memainkan musik-musik Eropa. Tapi kesatuan itu kemudian dibubarkan.