UNTUK INDONESIA

Sejarah Erupsi Gunung Semeru di Lumajang Sejak 1913

Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali erupsi sejak akhir November hingga awal Desember 2020. Ini sejarah letusannya sejak 1913.
Guguran awan panas dan lava pijar yang keluar dari kawah Gunung Semeru pada 1 Desember 2020. (Foto: Tagar/ tangkapan layar Twitter @Syafei93146069)

Yogyakarta – Lelehan-lelehan lava pijar berwarna jingga kemerahan meluncur malam itu, menerangi sebagian puncak Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sementara, asap tebal mengiringi lelehan lava yang meletup-letup. Membubung tinggi, lalu bergerak tertiup angin.

Gumpalan-gumpalan pekat berwarna kelabu kehitaman dan pijaran lava itu terlihat mengerikan dan siap melelehkan apa saja yang dilewati. Begitu suasana yang terjadi di puncak Gunung Semeru pada Selasa dinihari, 1 Desember 2020, seperti terekam dalam video yang diunggah oleh akun Twitter @Syafei93146069, dan diunggah ulang di vlix.com.

Sementara, dalam unggahan video di channel Youtube Bang iOne, tampak material vulkanik mirip abu berwarna putih memenuhi aliran sungai Besuk Kobokan. Sejumlah alat berat tertutup oleh material vulkanik tersebut.

Sejumlah orang terlihat mencoba mengevakuasi alat berat yang tertimbun. Selain dengan cara manual, satu ekskavator dan satu unit truk dikerahkan untuk mengevakuasi sejumlah alat berat yang tertimbun.

Kawah Terbentuk Sejak 1913

Gunung Semeru memiliki tipe strato dengan kubah lava, dengan puncak tertinggi Mahameru. Saat ini aktivitas Gunung Semeru tedapat di Kawah Jonggring Seloko yang terbentuk sejak tahun 1913. Letaknya di sebelah tenggara puncak Mahameru.

Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), diketahui bahwa pada umumnya letusan Gunung Semeru bertipe vulkanian.

Letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian, berupa penghancuran kubah/lidah lava, serta pembentukan kubah lava/lidah lava baru.

Penghancuran kubah/lidah lava mengakibatkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari G. Semeru.

Dari pantauan visual PVMBG sejak 1 Oktober 2020 hingga 30 November 2020, asap berwarna putih dan kelabu sesekali terlihat di kawah utama, dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak.

Cerita Gunung Semeru (2)Lelehan lava pijar dari puncak Gunung Semeru. (Foto: Tagar/tangkapan layar Youtube Bang iOne)

Sejak 19 Oktober 2020, guguran batuan dari arah puncak beberapa kali terjadi, meski tidak menerus. Peningkatan jumlah guguran secara signifikan mulai terjadi pada 28 November 2020, diikuti oleh guguran awan panas yang berasal dari ujung lidah lava, dengan jarak luncur terjauh 1 Km ke sektor tenggara lereng.

“Pada 1 Desember 2020 mulai pkl. 01.23 WIB, teramati awan panas guguran dari kubah puncak, dengan jarak luncur 2 hingga 11 Km ke arah Besok Kobokan di sektor tenggara dari puncak G. Semeru.”

Saat ini potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Semeru berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak, sedangkan material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh.

Sementara, Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau pada warga dusun di sekitar Gunung Semeru untuk tetap waspada, khususnya warga di Dusun Curah Koboan, Desa Supiturang dan Dusun Rowobaung, Desa Oro-oro Ombo.

“Di samping kedua desa itu, warga di Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro juga diminta hal yang sama,” kata Raditya melalui pesan Whatsapp.

Menurut Raditya, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan dinas terkait lainnya menyiapkan tempat evakuasi warga, di antaranya di lapangan di Dusun Kamar Kajang, berupa tenda keluarga dua unit, lapangan di Desa Supiturang, SDN 4 Supiturang, SDN Sumberwuluh, halaman di sekitar pos pantau Gunung Sawur dan pos komando di balai Desa Supiturang.

“Palang Merah Indonesai (PMI) dan Dinas Sosial Kabupaten Lumajang membantu pelayanan dapur umur, termasuk penyediaan air bersih.”

Letusan Samping

Gunung Semeru tercatat pernah meletus pada awal tahun 1900-an, tepatnya pada 23 Juni 1913. Letusan itu terjadi di kawah pusat Gunung Semeru.

Kurang lebih 28 tahun sejak letusan tersebut, atau 21 September 1941, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini kembali aktif.

Berdasarkan data dari Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Kementerian ESDM, diketahui bahwa pada hari itu sekitar pukul 08.00 hingga pukul 10.00 WIB terdengar suara letusan keras di kaki Gunung Semeru sebelah tenggara.

Letusan itu menimbulkan lubang letusan baru dan menyemburkan asap setinggi kurang lebih dua kilometer di atas lubang letusan baru itu. Hujan abu tipis dari letusan itu menutupi beberapa kota di Jawa Timur, seperti Malang (35 kilometer dari puncak) dan Blitar (85 kilometer dari puncak Semeru). (van Bemmelen,1949).

“Lubang letusan baru ini muncul di kaki bagian tenggara kerucut Gunung Semeru. Panjang celah sekitar 1,3 km.” demikian tertulis dalam jurnal tersebut.

Titik tertinggi rekahan lubang baru itu berada pada ketinggian 1765 m dari permukaan laut, sedangkan titik terendahnya terletak di ketinggian 1470 m dari permukaan laut.

Aktivitas yang disebut dengan letusan samping ini terletak sekitar empat kilometer arah timur-tenggara horizontal dari kawah tua, dan pada jarak vertikal lebih dari 2000 meter di bawah puncak.

Dari celah ini setidaknya ada enam titik keluar aliran lava, yang.mengalir masuk masuk ke lembah Besuk Sungai Semut dan kemudian menyusuri aliran sungai tersebut ke arah hilir.

Cerita Gunung Semeru (3)Satu unit ekskavator dikerahkan untuk mengevakuasi sejumlah alat berat yang tertimbun material vulkanik Gunung Semeru. (Foto: Tagar/tangkapan layar Youtube Bang iOne)

Pada Februari 1942 aktivitas kawah Semeru mulai menurun. Saat itu panjang aliran lava mencapai 6,9 km dari lubang letusan.

Aliran lava dari letusan yang terjadi pada tahun 1941 tersingkap di lereng tenggara Gunung Semeru, yaitu di daerah Bantengan. Lapisan dari aliran lava ini menindih batuan aliran piroklastik yang berumur lebih tua, yang berasal dari letusan kawah pusat.

Ketebalan aliran lava di daerah ini mencapai 5 meter, dengan ketebalan bagian permukaan yang umumnya berbongkah, sekitar 2 meter. Sementara pada bagian tengah memiliki ketebalan sekitar 3 meter.

“Panjang aliran lava ini berkisar 7 kilometer dengan ujung alirannya terletak pada ketinggian + 820 m di atas permukaan laut. Batuannya berupa blok-blok lava yang cukup segar, berwarna abu-abu berbintik putih.”

Selain tahun 1941, letusan samping Gunung Semeru juga pernah terjadi pada masa prasejarah, yang menyebabkan terbentuknya Ranu Darungan, Ranu Pakis, Gunung Leker, Gunung Totogan Malang, Gunung Papak dan beberapa tempat lain yang terletak di lereng Gunung Semeru.

Dari beberapa bukti terjadinya letusan samping di Gunung Semeru, baik yang terjadi pada masa prasejarah maupun yang tercatat, disebutkan bahwa kemungkinan untuk kembali terjadinya letusan samping di Gunung Semeru masih bisa terjadi di masa yang akan datang.

Menurut sejarah letusan Gunung Semeru yang tercatat dari tahun 1818 sampai 1913 masa istirahat Gunung Semeru berkisar kurang dari satu tahun sampai 11 tahun. Berikut ini erupsi Gunung Semeru yang pernah terjadi sejak tahun 1990. Pada November hingga Desember 1990, terjadi guguran kubah lava yang menghasilkan awan panas.

Selanjutnya, pada November hingga Desember 1992, terjadi letusan Stromboli, kemudian pada 2 hingga 15 Februari 1994 terjadi Sembilan kali letusan. Pada Desember 2002 Gunung Semeru meluncurkan awan panas dan letusan. Awan panas kembali diluncurkan oleh gunung ini pada 20 Januari 2004, 29 Desember 2005, 15 November 2007, serta Mei 2008.

Pada 13 Februari 2016 terjadi guguran lava dan awan panas, yang mengakibatkan jalur pendakian ditutup total. Lalu pada 26 Juni 2019, Januari 2020, Februari 2020, Maret 2020, dan April 2020 terjadi guguran awan panas dan lava pijar. []

Berita terkait
Panjang, Cara Mengolah Kedelai Jadi Tempe di Cilacap
Pembuatan tempe memerlukan beberapa tahapan. Proses pembuatannya pun cukup panjang dan ada syarat yang harus dipenuhi agar tempe sempurna.
Repotnya Pengungsi Gunung Merapi Cari Pakan Hewan Ternak
Pengungsi erupsi Gunung Merapi dari Dusun Kalitengah Lor, memiliki kendala dalam memberi makan puluhan ekor ternak. Tapi kini sudah teratasi.
Aktivitas Lansia di Barak Pengungsi Gunung Merapi Sleman
Sejumlah perempuan berusia lanjut di barak pengungsian Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, diberi pelatihan keterampilan.
0
Benny Wenda, Proklamator Papua Merdeka Sembunyi di Inggris
Benny Wenda memproklamirkan diri sebagai Presiden Sementara Papua Barat dari lokasi persembunyiannya di Inggris Raya. Berikut Profil Benny Wenda.