Jakarta, (13/9/2018) - Polemik pencopotan prasasti peresmian dan pergantian nama bandara Lombok menjadi topik hangat, terutama di kalangan kader Partai Demokrat. Apalagi diketahui prasasti peresmian bandara Lombok  itu sudah ditandatangani oleh Mantan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011 lalu.

Mendengar kabar itu, SBY langsung memberi respons yang bersifat teguran, sehingga dengan respons seperti itu SBY disebut elit politik baper (bawa perasaan). Berikut pernyataan SBY yang sebelumnya sempat disebarkan oleh Kepala Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat Imelda Sari kepada media pada Rabu (12/9):

Saya yakin Pak Jokowi akan menghormati karya dan capaian para pendahulu-pendahulunya, sejak Bung Karno hingga saya. Namun, apabila pencopotan prasasti bandar udara internasional Lombok, yang saya tanda-tangani pada tanggal 20 Oktober 2011 dulu merupakan keinginan beliau dan atas saran Pak Zainul Majdi, serta merupakan pula keinginan masyarakat Lombok... ya saya persilakan.

Lagi pula saya kan tidak punya hak, apalagi kemampuan untuk menghalang-halangi. Saya berpendapat prasasti dan jejak sejarah sesorang dapat dihapus oleh manusia yang lain, kapan saja dan dimana saja.

Namun, saya sangat yakin, .... catatan Allah Swt tidak akan pernah bisa dihapus. Tolong isu ini tak perlu diributkan. Masih banyak yang harus dilakukan oleh negara dan kita semua, utamanya bagaimana membuat rakyat kita makin ke depan makin sejahtera.

Atas respons SBY yang demikian, Pengamat Politik LIPI Wasisto Raharjo Jati tak memungkiri bahwa SBY itu baper. Bahkan, dikatakan Wasisto, hal yang dilakukan oleh SBY tersebut merupakan gejala post power syndrome.

"Saya pikir ini gejala Post Power Syndrome. Jadi kecenderungan elit politik yang sudah lama tidak pegang kekuasaan mencoba memberitahukan apa yang sudah dicapai sebelumnya. Tujuannya mendapatkan atensi publik, itu pertama. Kedua saya melihat sisi kenegarawanan dari SBY itu menjadi kurang elok kalau misalnya itu diungkit kembali, karena saya pikirkan yang namanya infrastruktur itu adalah untuk bangsa," kata Wasisto saat dihubungi Tagar News, Kamis (13/9).
Namun demikian, Wasisto juga ikut menyoroti sikap SBY yang ditunjukkannya menjelang Pilpres 2019 mendatang. Dia menilai SBY juga ingin mendapatkan porsi atensi publik. Apalagi saat ini SBY berada pada kubu oposisi Jokowi.
"Saya pikir wajar karena beliau sekarang kan berada pada oposisi kubu Jokowi. Maksud saya beliau mau mendapatkan porsi atensi publik maksudnya merebut bagian atensi publik di kubu beliau. Kedua saya pikir ini bagian dari  strategi elektabilitas. Dia (SBY) juga ingin berupaya agar Partai Demokrat itu kembali lagi ratingnya dengan menjadikan hal-hal itu menjadi motor penggeraknya," ucap Wasisto.
Dia juga menambahkan, SBY tidak mau kinerjanya selama memimpin dua periode pemerintahannya dilupakan begitu saja oleh masyarakat. Sehingga menurut dia, SBY berupaya membandingkan kinerja dirinya dengan Jokowi saat ini.
"Saya pikir demikian (SBY tak mau dilupakan) karena jelas SBY sekarang ini masih berupaya kembali untuk masuk ke arena kekuasaan. Cara yang mutakhir yang dilakukan itu ya seperti ini membandingkan, kemudian membuat publik terkesima atau bagaimana pengaruhnya itu pada proses suara. Arahnya sebenarnya ke sana," ungkap Wasisto.
Selain SBY yang berkomentar dengan kabar tersebut, Andi Arief selaku Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief ikut memberi tanggapan di Twitter pribadinya.
"Pak Jokowi, apakah Anda tidak punya rasa malu mau mengganti prasasti Bandara Lombok dengan prasasti baru bertandatangan Anda," cuit Andi Arief dalam akun Twitter pribadinya, Rabu (12/9).
"Saya periksa kisah-kisah Presiden dunia, gak ada yang berupaya mengklaim pembangunan presiden sebelumnya dengan merobohkan prasasti dengan mengganti prasasti baru yg ditandatanganinya," cuit Andi Arief.
"SEKALIAN saja Bandara Soekarno-Hatta diganti namanya jadi Bandara Bung Karno-Bung Hatta, biar prasasti jaman Pak Harto diganti jadi prasasti yang ditandatangani Jokowi," cuit Andi Arief.
Adanya cuitan- cuitan kader Partai Demokrat tersebut, ternyata ditanggapi oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M Zainul Majdi atau sering disapa Tuan Guru Bajang (TGB).
Menurut TGB, tidak ada satu pihak pun yang berniat menghilangkan jejak SBY, sehingga dalam hal tersebut tidak perlu menunjukkan sikap sensitif dengan adanya kabar itu.
"Jasa beliau (SBY) dihargai sehingga tidak perlu ada yang sensi. Saya pastikan pak Jokowi bukan orang yang suka menafikan jasa pemimpin sebelumnya, bahkan beliau (Jokowi) selalu mengapresiasi karya pendahulunya," kata TGB.
"Saya sangat menyayangkan Pak SBY diberi kabar hoax mengenai rencana pencopotan prasasti hingga mengeluarkan statement yang keliru. Tidak ada yang berniat menghilangkan jejak Pak SBY. Jasa beliau dihargai," tutur TGB.
Memang tak bisa dipungkiri, apa pun pernyataan atau cuitan SBY selalu menjadi sorotan bagi masyarakat luas terutama pengguna sosial. Bagaimana tidak, SBY sendiri selalu membuat cuitan dalam akun twitternya sehingga tak sedikit orang berspekulasi bahwa cuitan tersebut adalah bentuk kebaperan SBY. Berikut beberapa pernyataan dan cuitan SBY:
"Tahun 2011 dulu Indonesia juga sukses besar selenggarakan Sea Games & jadi juara pertama. Setelah itu, kita berjuang & berhasil jadi tuan rumah Asian Games 2018 ini *SBY*," cuit SBY, Senin (3/9).
Dalam cuitan SBY saat itu, terlihat  SBY memuji dirinya sendiri di dalam akun Twitter pribadinya itu. Melihat dari cuitan itu juga terlihat SBY ingin mencari perhatian dan turut membandingkan suksesnya menyelenggarakan even olahraga SEA  Games 2011 di zaman pemerintahannya dulu.
Dari cuitan SBY ini, para netizen menyebut SBY baper karena membandingkan kesuksesan Asian Games 2018 di era Jokowi dengan SEA Games 2011 di masa SBY lalu.
@Yogipriatna: Baper lagi, baper lagi... ini efek kebanyakan nonton K-Pop semalam keknya.
@JhonMiduk: SEA Games beda pak dr Asian Games. SEA Games khusus untuk kawasan regional Asia Tenggara saja, sedangkan Asian Games untk seluruh negara Asia. Berbesar hatilah mengapresiasi kinerja suksesor, karena disitulah bukti kebesaran jiwa yang sesungguhnya.
@Baguz26: Benar sekali pak, tapi perlu bapak ketahui, SEA Games cm diikuti negara Asia tenggara pak, kalau Asian Games diikuti seluruh negara Asia, benar-benar keliatan kerja keras ya pak Menpora saat ini dibandingkan dulu.
Ada juga kebaperan SBY lainnya, yaitu SBY pernah mengungkap peluang koalisi dengan Jokowi yang kini memudar. SBY juga mengungkapkan bahwa hubungannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri yang belum pulih menjadi alasannya tak masuk koalisi Joko Widodo.
"Tapi itu pertanyaan bagi saya, karena melihat realitas hubungan Bu Mega sama saya belum pulih. Tapi saya pikir yang ajak Pak Jokowi, dan kalau Demokrat ada di dalam, why not?" kata SBY saat jumpa pers di kediamannya, Mega Kuningan Jakarta, Rabu (25/7).
Atas sikap SBY tersebut, sejumlah parpol koalisi, seperti PPP, Hanura, dan Golkar, menyebut SBY baper dan lebay. Hanura, misalnya, menilai tidak seharusnya SBY sebagai seorang negarawan bersikap 'baperan' dalam berpolitik.
Sebagai informasi Bandara Internasional Lombok resmi berganti nama sejak 5 September lalu. Bandara yang semula memiliki nama Lombok International Airport (LIA) itu berganti nama menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KP 1421 Tahun 2018.
Pengubahan itu mengacu pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah satunya untuk TGKH M Zainuddin Abdul Madjid, yang merupakan tokoh asal NTB.
Diketahui Zainuddin merupakan kakek Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB). TGB juga telah meluruskan kabar soal perubahan nama bandara. Ia menegaskan, perubahan nama yang ditegaskan lewat Surat Keputusan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang dikeluarkan pada 5 September 2018 itu tak akan disertai pencopotan prasasti yang ditandatangani SBY. []