Jakarta, (Tagar 12/1/2019) - Sandiaga Uno terlahir sebagai anak orang kaya, belajar di sekolah elit, kuliah di luar negeri, jadi pengusaha, ujug-ujug jadi wakil gubernur, ujug-ujug mencalonkan diri sebagai wakil presiden. 

Fenomena ujug-ujug seperti Sandiaga Uno bisa menimbulkan efek negatif bagi demokrasi di Indonesia, kata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati.

"Kalau ada model instan dan potong kompas itu jelas menimbulkan efek negatif bagi demokrasi di Indonesia. Hal itu sama saja kerja politik tidak lebih sekadar kerja bisnis yang asal ada modal bisa menduduki posisi strategis," ujar Wasisto dalam keterangan tertulis kepada Tagar News, Selasa sore (12/2).

"Perlu diingat bahwa kerja politik itu kerja pengabdian. Yang artinya politisi yang berkarakter negarawan itu meniti kariernya dari bawah baru kemudian jadi elit," lanjut Wasisto.

Ia kemudian mencontohkan tradisi di negara lain yang para pemimpinnya memulai karier dari bawah sebagai pemimpin daerah.

"Sebenarnya justru best practice tentang politisi berkarakter negarawan itu dimulai dari karier bawah. Obama dan Bush bisa terpilih jadi Presiden AS saja harus memulai kariernya di negara bagiannya. Bahkan China yang tidak demokratis pun juga mewajibkan anggota partai berkarier di level bawah baru bisa naik ke atas," jelas Wasisto Raharjo Jati.

Berikut ini rekam jejak Sandiaga Uno dalam infografis:

Sandiaga UnoRekam Jejak Sandiaga Uno

Baca juga: