UNTUK INDONESIA
Sakila Kerti, Sekolah di Hiruk Pikuk Terminal Tegal
Belasan anak berusia tiga hingga empat tahun duduk melantai di emperan sebuah ruangan berukuran 6 x 8 meter di area Terminal Tegal, Jawa Tengah.
Anak-anak belajar di tengah hiruk-pikuk terminal Kota Tegal, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Tegal - Belasan anak berusia tiga hingga empat tahun duduk melantai di emperan sebuah ruangan berukuran 6 x 8 meter di area Terminal Tegal, Jawa Tengah.

Beralaskan spanduk yang sudah tak terpakai, mereka asyik menempelkan potongan-potongan kecil kertas warna-warni ke gambar ikan di kertas HVS. ‎Kegiatan serupa juga ‎terlihat di dalam ruangan.

Dari tempat anak-anak itu meriung, deru mesin bus dan angkot yang keluar-masuk terminal berulang kali terdengar. Ditingkahi hiruk-pikuk suara pedagang asongan yang menawarkan bermacam makanan dan minuman, serta teriakan kru bus mencari penumpang.

‎Begitulah suasana kegiatan belajar mengajar di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sekolah Terminal Sakila Kerti, Sabtu, 24 Agustus 2019.‎ 

Seperti namanya, sekolah ini berada di kompleks Terminal Kota Tegal, Jawa Tengah.

Satu-satunya ruang kelas di sekolah tersebut menempati ruangan bekas gudang bersebelahan dengan kantor PO bus dan toilet umum. Sebelum disulap jadi ruang kelas, kondisinya kotor dan beberapa bagian tembok dan atapnya sudah rusak.

Selain terdapat sejumlah alat atau media pembelajaran, ruang kelas itu juga ditempeli berbagai pernak-pernik seperti ruang kelas PAUD pada umumnya. Jika tak cukup menampung, sebagian siswa terpaksa menempati emperan di depan ruangan.

Para siswanya sendiri berasal dari bermacam latar belakang. Ada yang anak pedagang asongan, tukang parkir, penjaga toilet, pengemis, dan warga yang tinggal di sekitar terminal.

Satu di antara mereka yakni Muhammad Ibnu Hakim 3 tahun. Eka Purwanti, 34 tahun, ibunya, setia menemani sang anak yang hari itu sedang belajar melengkapi gambar ikan.

Ia sesekali mengarahkan anak bungsunya itu menempelkan potongan-potongan kecil kertas berwarna-warni di kertas HVS di hadapannya.‎ 

"Anak saya sudah jalan dua bulan bersekolah di sini," kata Purwanti kepada Tagar.

‎Purwanti mengaku terbantu dengan adanya Sekolah Terminal Sakila Kerti. Sebab, anaknya bisa bersekolah tanpa dibebani biaya sama sekali alias gratis.

"Kalau sekolah di PAUD di dekat rumah ada uang SPP, uang daftar ulang, dan biaya-biaya lain. Mahal. Di sekolah terminal benar-benar gratis," ujarnya.

Purwanti patut merisaukan soal biaya jika tak menyekolahkan anaknya di PAUD Sekolah Terminal Sakila Kerti. Sehari-hari ia bekerja sebagai ‎pedagang asongan di terminal. Ia menawarkan kopi saset dan mi instan siap saji ke tiap penumpang bus.

Kalau sekolah di PAUD di dekat rumah ada uang SPP, uang daftar ulang, dan biaya-biaya lain. Mahal. Di sekolah terminal benar-benar gratis.

Sekolah TegalAnak-anak belajar di tengah hiruk-pikuk terminal Kota Tegal, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Penghasilannya mengasong dari pukul 06.00-08.00 dan dari pukul19.30-22.00 tak menentu. Begitu juga penghasilan suaminya yang bekerja serabutan.

"Sehari ngasong biasanya dapat Rp 40.000. Hanya untuk tambah-tambah penghasilan suami," kata warga Kelurahan Keturen, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal ini.

Sejak ada PAUD Sekolah Terminal Sakila Kerti, Purwanti mengantar-jemput dan menemani anaknya selama bersekolah di sela ia mengasong dari satu bus ke bus yang lain.

"Biasanya anak saya tinggal di rumah sama kakeknya. Cuma main. Kalau di sini dia bisa bermain sambil belajar. Ada perkembangan. Diajari doa-doa juga," ujarnya.

Seperti halnya Purwanti, Nur Hikmah, 35 tahun, juga merasa senang dengan keberadaan sekolah PAUD di terminal. Sembari menjaga toilet dan parkir, ia bisa menemani anaknya, Rafa Rifanda, 4 tahun, belajar mengenal huruf, angka, menggambar hingga mewarnai.

‎"Biasanya kalau saya kerja jaga toilet dan parkir di terminal, anak saya ikut karena di rumah tidak ada yang jagain. Tapi cuma main. Sekarang bisa sambil bersekolah," tuturnya.

Pengajarnya Relawan

PAUD Sekolah Terminal Sakila Kerti mulai dibuka pada Juli 2019 atau awal tahun ajaran 2019-2020. Saat masa pendaftaran dibuka, awalnya terdapat 20 calon siswa yang mendaftar.

‎"Setelah diinformasikan gratis, yang mendaftar bertambah jadi 50 anak. Tapi yang sampai sekarang aktif berangkat sekolah sekitar 30 anak," ujar Ade Setiawati, 30 tahun, seorang pengajar di Sekolah Terminal Sakila Kerti, Sabtu, 24 Agustus 2019.

‎Di PAUD Sekolah Terminal Sakila Kerti, para siswa mengikuti proses belajar mengajar yang disesuaikan dengan usianya dan kurikulum PAUD.

"Mereka belajar lagu, doa-doa dan keterampilan. Kalau pun diajari angka atau huruf, tidak semuanya. Misalnya angka, hanya sampai angka 10," ujarnya.

‎Ade mengungkapkan, kegiatan belajar-mengajar untuk sementara hanya berlangsung tiga hari dalam sepekan. Yakni tiap Kamis, Jumat, dan Sabtu. Sedangkan pengajarnya ada tiga orang. Seluruhnya adalah relawan.

"Kami bergantian mengajar karena ada yang mengajar di PAUD di tempat lain juga," ujar dia.

Tujuannya agar anak-anak warga yang ada di terminal, dari mulai pengasong, penjaga parkir, penjaga toilet bisa bersekolah. Kami juga tak memungut biaya sama sekali.

Sekolah TegalAnak-anak belajar di tengah hiruk-pikuk terminal Kota Tegal, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Farid Firdaus)

Ade mengaku senang bisa mengajar di PAUD Sekolah Terminal Sakila Kerti. Apalagi, para siswa dan orang tuanya juga antusias. 

"Anak-anaknya semangatnya tinggi. Lebih aktif. Orang tuanya juga senang," tuturnya.

Saat kegiatan belajar mengajar mulai berjalan, Ade berujar, ‎keberadaan sekolah di terminal sempat diragukan karena lokasinya yang tergolong tak wajar.

"Pernah ada yang tanya, memangnya ada sekolah di terminal? Ya mungkin karena lokasinya di terminal. Berbeda dengan PAUD umumnya," tuturnya.

Dianas Pangestika, 22 tahun, relawan pengajar lain, juga mengaku senang bisa‎ ikut membantu membekali pengetahuan sejak dini kepada anak-anak yang akses pendidikannya terbatas.

"Dari sisi biaya, pendidikan sekarang kan mahal. Termasuk tingkat PAUD. Padahal pendidikan usia dini juga penting," ucapnya.

"Jadi saya senang sekaligus bangga karena bisa memberikan apa yang mampu saya berikan dengan cara mengajar. Bukan apa yang bisa saya terima," lanjut dia.

Berawal dari Taman Baca Masyarakat

Keberadaan PAUD Sekolah Terminal Sakila Kerti ‎tak bisa dilepaskan dari sosok Yusqon. Pria 54 tahun ini meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga di tengah kesibukan mengajar di SMKN 2 Kota Tegal untuk mendirikan dan mengelola sekolah yang sudah berjalan selama sekitar dua bulan itu.

"Tujuannya agar anak-anak warga yang ada di terminal, dari mulai pengasong, penjaga parkir, penjaga toilet bisa bersekolah. Kami juga tak memungut biaya sama sekali," kata Yusqon‎, Sabtu, 24 Agustus 2019.

‎Bagaimana dengan operasional PAUD dan alat pengajaran yang dibutuhkan? Yusqon menyebut operasional sekolah mengandalkan relawan. Karena itu pula, jumlah pengajar dan sarana yang dimiliki juga masih belum ideal.

"Jumlah pengajar dan media pembelajarannya masih terbatas. Sarana pendukungnya juga belum lengkap, seperti tempat bermain anak belum ada," ujarnya.

‎Keterbatasan itu juga yang menjadi alasan kegiatan belajar mengajar baru bisa digelar tiga hari dalam sepekan. "Mulai September rencananya baru akan ditambah jadi lima hari. Bertahap," tuturnya.‎‎

PAUD Sekolah Terminal Sakila Kerti berawal dari Taman Baca Masyarakat (TBM) yang didirikan Yusqon pada Desember 2011. Lokasinya menempati sebuah ruangan yang tak terpakai di dalam terminal.

Di TBM tersebut, warga Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal itu menyediakan buku-buku untuk dibaca para pedagang asongan. Melalui buku-buku berbagai jenis yang disediakan gratis untuk dibaca, para pedagang asongan bisa menyesap pengetahuan di sela bekerja.

Pada 2017, selain menyediakan buku-buku, TBM Sakila Kerti berkembang dengan menyelenggarakan pendidikan kejar paket A, B, C. Pesertanya rata-rata adalah pedagang asongan yang tak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan karena terbentur kondisi ekonomi.

Meski usianya sudah tak lagi muda, mereka bersemangat mengikuti pendidikan kesetaraan itu sampai tahap ujian nasional (UN).‎ 

"Dari tahun 2017 sampai 2018, kami sudah meluluskan dua kali. Jumlahnya 42 orang yang sudah kami luluskan," sebut Yusqon.

Tak hanya pengajaran baca tulis dan pengetahuan umum melalui pendidikan kejar paket, para pedagang asongan yang tak sedikit sudah berusia di atas 50 tahun‎ juga diajari mengaji tiap Jumat. Secara perlahan, mereka juga ditanamkan karakter dan nilai-nilai kebaikan.

"Sehingga seperti arti nama Sakila Kerti yakni kecerdasan hati, mereka diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga bisa memiliki kecerdasan hati," ujar Yusqon.

‎Melalui Sekolah Terminal Sakila Kerti, Yusqon ingin menunjukkan bahwa siapa pun bisa menyediakan akses pendidikan, utamanya untuk mereka yang terbatas secara ekonomi.

‎"Masyarakat juga mampu untuk menyelenggarakan pendidikan, tidak hanya pemerintah. Kalau semua pemerintah kan terbatas. Sekolah terminal ini dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat," tuturnya. []

Berita terkait
Banyak Anak Sampang Putus Sekolah, Memilih Bekerja
Angka siswa putus sekolah di Kabupaten Sampang masih tinggi. Setiap tahun banyak siswa yang tidak tamat sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan.
Komunikasi Terganggu dan Sekolah Diliburkan di Jayapura
Akses komunikasi menggunakan telepon seluler di Kota Jayapura pasca unjuk rasa masih mengalami gangguan.
SMP di Gowa Larang Siswi Pakai Jilbab Syar'i ke Sekolah
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pallangga, Kabupaten Gowa melarang siswinya untuk tidak menggunakan jilbab syar'i ke sekolah
0
Erick Thohir Orang Kelima Tiba di Istana Kepresidenan
Mantan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN), Erick Thohir, tiba di Istana Kepresidenan, sekitar pukul 11.14 WIB, Senin, 21 Oktober 2019.