UNTUK INDONESIA
Saat Keraton Yogyakarta Menegur Masjid Pathok Negara
Keraton Yogyakarta selalu pemilik Masjid Pathok Negara Plosokuning sempat menegur takmir agar kegiatan Ramadan ditiadakan.
Suasana Masjid Pathok Negara Plosokuning, Sleman, Yogyakarta saat Ramadan 2020. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah).

Sleman - Masjid kuno dengan bangunan lawas nampak tak beraktivitas di siang hari. Sunyi dan sepi, mungkin kata itu yang cocok untuk menggambarkan suasana di Masjid Pathok Negara Plosokuning milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Nampak berbeda, pada sore hari sekitar 14.40 WIB setiap Ramadan, khususnya menjelang berbuka puasa. Biasanya masjid ini ramai diisi kegiatan mengaji anak-anak Taman Pendidikan Alquran (TPA). Namun, Tagar hanya menjumpai beberapa laki-laki yang tengah tertidur pulas di hamparan masjid.

Dalam waktu yang bersamaan, Tagar mendengar seseorang tengah mengaji. Suara itu berasal dari dalam masjid. Tagar mencoba masuk ke dalam masjid dengan mengucapkan Assalamualaikum.

Tagar menjumpai seorang laki-laki tua dengan Alquran tengah mengaji di pojok kiri di masjid yang dibangun pada 1724 ini. Terdengar merdu dan lantang. Melihat ada pemandangan bagus, Tagar langsung mengabadikan foto lelaki itu. "Cari siapa ya," kata lelaki tua itu.

Karena tak ingin mengganggu lelaki tua tersebut, Tagar hanya menganggukkan kepala dan tersenyum lalu pergi ke luar masjid. Beruntungnya saat itu, ada lelaki yang terbangun dari tidurnya dan menanyakan pertanyaan yang sama seperti lelaki mengaji. "Iya cari siapa," kata Muhazir Zunaidi 60 tahun, Kamis, 30 April 2020 sore.

Tagar bertanya kepada Muhazir tentang keberadaan takmir masjid Plosokuning. Namun sebelum meninggalkan pria tersebut, Muhazir menyebut, Masjid Plosokuning memang nampak sepi di jam-jam tersebut. 

Namun kondisi itu akan sangat berbeda menjelang berbuka buasa. "Warga masih melaksanakan ibadah bersama seperti buka puasa, salat Tarawih, tadarus sampai dengan sahur," ucap Muhazir kepada Tagar.

Sementara itu saat dikonfirmasi, takmir masjid M. Kamaludin Purnomo membenarkan kabar tersebut. Takmir tetap menyelenggarakan ibadah salat Tarawih selama Ramadan. Hal itu dilakukan karena pengurus bersama jamaah sekitar berusaha istiqomah untuk tetap bisa beribadah di masjid.

Menurutnya, saat situasi seperti ini wabah virus Corona semuanya sangat pelik. Pihaknya tidak biasa meniadakan kegiatan yang dilarang oleh pemerintah saat Ramadan tahun ini. Alasannya karena hal itu sudah mendarah daging para jamaah sekitar dan wilayah tersebut berada di zona hijau atau aman.

Warga masih melaksanakan ibadah bersama seperti buka puasa, salat Tarawih, tadarus sampai dengan sahur.

Dia berpendapat, dari informasi yang diterimanya, bagi wilayah dengan zona hijau virus Corona bisa menyelenggarakan ibadah di masjid termasuk Ramadan. 

"Memang sulit saat wabah Corona seperti ini. Tapi kita enggak berani meniadakan Tarawih dan kegiatan lainnya. Jamaah di sini mintanya diadakan. Mungkin karena sudah menjadi rutinitas setiap Ramadan, sulit kalau tidak ada," ujarnya.

Masjid Keraton Yogyakarta Pathok Negara Plosokuning1Seseorang sedang mengaji di Masjid Pathok Negara Plosokuning Sleman Yogyakarta. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah).

Takmir masjid sempat ditegur oleh Keraton Ngayogyakarta karena tidak mengindahkan larangan pemerintah. Tak hanya Keraton, warga sekitar juga pro kontra terhadap kebijakan melakukan ibadah di masjid saat pandemi Corona. Namun penyelenggaraan ramadan tetap terlaksana. Bukan main, ratusan jemaah tetap memadati masjid yang berdiri hampir 3 abad ini.

Menjalankan Protokol Covid-19

Kendati demikian, pihaknya tetap mengutamakan protokol kesehatan saat wabah Corona. Dengan melakukan pengecekan suhu tubuh kepada jamaah, penyemprotan cairan tak berbahaya melalui balik bambu sampai dengan menyediakan masker bagi yang tidak punya.

"Memang kondisinya sangat sulit untuk mengambil keputusan mengadakan dan tidak mengadakan karena dari pemulang (bagian dari Keraton Yogyakarta) mengatakan tidak boleh. Termasuk pemerintah seperti buah simalakama, mengadakan atau tidak tetap kesulitan juga. Warga yang menolak artinya mereka yang tidak ke masjid. Bagi kami, terpenting itu adalah melayani jamaah," katanya.

Jamaah yang memadati masjid sampai ke halaman luar. Hal itu dikarenakan setiap jamaah harus menerapkan physical distancing atau jaga jarak minimal satu meter. Meskipun normalnya di bulan puasa sebelumnya, kapasitas jamaah bisa mencapai lebih dari itu.

Kegiatan Ramadan kali ini tentu tidak semuanya diadakan, pun sebaliknya. Adapun kegiatan ramadan yang masih diselenggarakan Masjid Plosokuning yakni siraman rohani menjelang berbuka puasa, salat Tarawih, tadarus Alquran dan sahur bersama. Sementara yang ditiadakan yakni pengajian khusus anak-anak pada sore hari.

"Kegiatan itu tidak betul-betul sama seperti ramadan sebelumnya. Siraman rohani paling sekitar 10 menit, salat tarawih dengan surat yang pendek-pendek," ujarnya.

Gotong Royong Sesama Jamaah

Kamaludin mengatakan, hadirnya bulan suci Ramadan bagi warga sekitar menjadikan semua jamaah saling tenggang rasa dan gotong royong. Dia menyebut banyak berkah di dalamnya serta mengandung nilai positif. Bagaimana tidak, meskipun sadar perekonomian yang sedang tidak baik-baik saja ini, jamaahnya justru tidak saling meninggalkan.

Warga saling memberi bahan makanan atau pun sayuran yang dapat dimasak dan disantap bersama sebagai menu berbuka puasa. Uniknya, bapak-bapak yang menjamu masakan berbuka bagi para jamaah.

Masjid Keraton Yogyakarta Pathok Negara Plosokuning3Sesorang takmir Masjid Pathok Negara Plosokuning Sleman Yogyakarta sedang mencuci tikar saat Ramadan (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

"Kondisi seperti ini wabah virus Corona tidak semua warga punya nasib perekonomian yang sama. Yang punya sayur kasih sayur, yang punya tempe ya tempe, yang beras kasih beras. Sehingga wujudnya malah jadi gotong royong di sini, dari warga untuk warga yang penting warga gembira," ucap Kamaludin.

"Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Kalau dari kesehatan kami sudah memakai unsur yang ketat kalau dari segi gotong royong malah bagus banget," ungkapnya.

Harapannya kita dapat melalui musibah dengan lapang dada. Akan tetapi juga tidak menurunkan nilai spiritual jemaah.

Kamaludin menambahkan, kebijakan yang tidak pihaknya indahkan itu tidak semata-mata menentang atau pun ngeyel terhadap aturan pemerintah. Namun dirinya menganggap bahwa setiap orang tidak boleh kehilangan spiritualnya.

Melalui musibah Covid-19, dirinya mengajak semua masyarakat untuk lapang dada namun tidak menurunkan spiritual tersebut. "Harapannya kita dapat melalui musibah dengan lapang dada. Akan tetapi juga tidak menurunkan nilai spiritual jemaah. Orang boleh kehilangan harta tetapi kalau spiritual," harapnya.

Sejarah Masjid Pathok Negara Plosokuning

Masjid berdiri di atas lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi. Di kanan kiri bangunan inti masjid terdapat makam, kolam dan sekolah TK. Bahan bangunan masjid sekitar 80 persen masih asli seperti saat didirikan ratusan tahun silam. Dilihat sekilas, arsitektur merupakan miniatur dari Kagungan Ndalem Masjid Gedhe Yogyakarta atau Masjid Gedhe Kauman.

"Jadi HB I itu setelah perjanjian Giyanti itu mendapat wilayah di sebelah barat Kali Opak. Lalu mendirikan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Nah benteng-bentengnya itu berupa masjid," kata Kamaludin.

Menurutnya, 80 persen material bangunan di Masjid Pathok Negara Plosokuning masih asli. Mulai dari tiang, mimbar khatib, penyangga bedug merupakan kayu jati yang sudah sangat lama. Meski terlihat rapuh, namun kayu-kayu itu masih begitu kokoh.

Masjid Keraton Yogyakarta Pathok Negara Plosokuning4Bahan bangunan Masjid Pathok Negara Plosokuning masih tampak alami dan kokoh meski usianya sudah ahampir 3 abad. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Terlepas dari sejarah berdirinya Masjid Pathok Negara Plosokuning, keberadaan masjid ini tetap menjadi pusat kegiatan masyarakat sekitar. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga difungsikan untuk kegiatan sosial bermasyarakat.

"Masjid Pathok Negara Plosokuning sudah ditetapkan menjadi Cagar Budaya Yogyakarya. Masjid bersejarah ini sudah berstatus menjadi cagar budaya perawatan masjid sepenuhnya berada di bawah Pemerintah DIY," katanya.

Setiap hari ada aktivitas di masjid Pathok Negara Plosokuning. Terlebih lagi pada bulan Ramadan seperti kegiatan pondok, kajian agama, tadarus Alquran, sarasehan Pathok Negara, musyawarah, kajian kitab kuning, kesenian tradisional.

Namun kondisinya berbeda saat ini karena ada wabah virus Corona. "Kalau kegiatan di bulan Ramadan mulai sore sampai pagi, pengajian anak-anak, orang tua, Tarawih, tadarus, itikaf dan salat malam, juga ada sahur bersama. Namun sekarang banyak yang ditiadakan karena Corona," terangnya.

Masjid bersejarah ini tak hanya ramai di bulan Ramadan. Kamaludin mengatakan, masyarakat sekitar seperti sudah menjadikannya seperti pesantren. Jadwal kegiatan keagamaan selalu ada selama sepekan, bahkan siapa pun bisa mengikuti.

Sejumlah kegiatan hari biasa yang selama ini berjalan, seperti hafalan Alquran saat malam Senin. Lalu tadarus Alquran (malam Selasa), berbagai kajian kitab (malam Rabu), sarasehan yang pesertanya khusus berpakaian Jawa (malam Kamis), tahlilan (malam Jumat), dan kajian kitab kuning (malam Sabtu). []

Baca Juga:

Berita terkait
Sepinya Masjid Ramadan Tahun Ini
Di tengah pandemi Covid-19, sejumlah kegiatan rutin masjid di Yogyakarta saat Ramadan tak terlihat lagi keramaian warga.
4 Masjid Besar di Yogyakarta Tiadakan Salat Tarawih
Empat masjid besar di Kota Yogyakarta meniadakan salat Tarawih selama Ramadan. Kebijakan ini untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Masjid Besar Pakualaman, Saksi Syiar Islam di Jogja
Masjid Besar Pakualaman. Masjid yang didirikan 1831 oleh Sri Paduka Paku Alam II ini mnejadi saksi syiar di Jogja.
0
Saat Keraton Yogyakarta Menegur Masjid Pathok Negara
Keraton Yogyakarta selalu pemilik Masjid Pathok Negara Plosokuning sempat menegur takmir agar kegiatan Ramadan ditiadakan.