UNTUK INDONESIA
Ritual Kejawen Tolak Bala Corona di Yogyakarta
Berbagai upaya dilakukan menangkal Corona. Seperti yang dilakukan warga dengan ritual kejawen yang digelar di Prambanan, Sleman, Yogyakarta.
Perwakilan organisasi seni dan budaya menggelar ritual tolak bala cegah wabah virus Corona atau Covid-19 di Kali Opak, Kecamatan Pramabanan, Sleman, Yogyakarta (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Sleman - Tujuh orang perwakilan dari berbagai organisasi seni dan budaya menggelar ritual tolak bala cegah wabah virus Corona atau Covid-19 di Kali Opak, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Mereka memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar masyarakat terhindar dari virus yang sedang mewabah.

Ritual tersebut digelar berdasarkan inisiatif mereka yang tergabung dalam paguyuban lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) yang bekerja sama dengan Bandung Bondowoso, Serandul dan para seniman dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Ketua Paguyuban Bandung Bondowoso Sumarsono mengatakan, pandemi virus Corona membuat sebagian masyarakat menjadi khawatir. Dengan kepercayaan tradisi Jawa yang diwariskan leluhur, pihaknya ikut sumbangsih kepada negara mengantisipasi persebaran Covid-19 agar tidak semkain meluas.

Menurutnya wabah virus Corona atau Covid-19 membawa pengorbanan musibah yang luar biasa di seluruh belahan dunia khususnya Indonesia. Dengan ritual ini, diharapkan Indonesia terlepas dari marabahaya, masyarakat kembali aman dan sejahtera.

"Dengan adanya virus Corona melalui kepercayaan tradisi Jawa, kita ingin mengambil bagian dengan memanjatkan doa dan ritual ini," kata Sumarsono kepada wartawan di lokasi ritual pada Kamis, 18 Maret 2020.

Sumarsono menyampaikan, prosesi ritual dilakukan mulai dari gapura Candi Prambanan menuju Kali Opak dengan cara berbaris ke belakang. Sembari berjalan mereka mengucapkan mantra dan sebuah tembang sekar Dandang Gulo.

Pantauan di lapangan, tujuh warga yang ikut melakulan ritual tersebut menggunakan pakaian khas budaya Jawa. Saat itu mereka memakai setelah hitam dan sarung batik, belangkon di kepala bagi pria, serta keris di belakangnya. Sementara satu wanita di antaranya memakai setelah kebaya putih.

Adanya virus Corona melalui kepercayaan tradisi Jawa, kita ingin mengambil bagian dengan memanjatkan doa dan ritual ini.

Dari gapura Candi Prambanan, di mana perbatasan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mereka berjalan sembari menaburkan kembang setaman dan menyalakan dupa. Satu persatu mereka saling bergantian menyanyikan tembang dari lembaran kertas putih yang mereke bawa.

Ritual tolak bala cegah wabah virus Corona di YogyakartaPerwakilan organisasi seni dan budaya menggelar ritual tolak bala cegah wabah virus Corona atau Covid-19 di Kali Opak, Kecamatan Prambanan, Sleman, Yogyakarta (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Mereka menuju Kali Opak yang jaraknya sejauh 350 meter dari gerbang. Sepanjang jalan mereka menyebut Pasuminggah Durgo Kolo Sumingkir.

"Kolo itu artinya masalah, sumingkir itu dalam arti menjauhi kita. Baik itu yang berekor, berbulu, punya kaki atau hama sekali pun itu supaya menjauhi kita," ucapnya.

Sementara itu, Wartono sebagai pelantun tembang mengungkapkan, ritual tersebut bukan tanpa sebab. Sebelumnya pernah dilakukan saat bencana atau musibah yang pernah menimpa Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya erupsi Gunung Merapi dan nencana alam 27 Mei.

"Ritual ini sebelumnya pernah dilakukan waktu erupsi Gunung Merapi dan berhasil, harapannya ritual kali ini juga berhasil sama seperti sebelumnya," kata dia. []

Baca Juga:

Berita terkait
Yogyakarta Alokasikan Rp 14,8 Miliar Cegah Corona
DPRD DIY menyetujui Pemda mengalokasikan anggaran Rp 14, 8 miliar dari APBD 2020 untuk penanganan Corona di Yogyakarta.
Guru Besar UGM Yogyakarta Positif Corona
Guru besar UGM Yogyakarta positif Corona. Saat ini dirawat di RSUP Sardjito.
Harapan Sultan Usai Yogyakarta Punya Alat Cek Corona
BBTKLPP Yogyakarta kini memiliki alat pemeriksaan sampel darah dan swab bagi orang yang diduga terkena Covid-19.
0
Kata PKS, Presiden Jokowi Lemah dan Plin Plan
Pemerintahan Jokowi periode dua ini masih saja seperti dulu. Lemah dan plin plan. Terlihat saat wabah Covid-19 melanda negara ini. Kata orang PKS.