UNTUK INDONESIA
Promo Ojol Di Bawah Batas Jadi Predatory Pricing
YLKI tak masalah dengan berbagai promo yang ditawarkan oleh aplikator transportasi online, misalnya untuk ojek online alias ojol.
Para pengemudi Gojek melakukan aksi di depan Kantor Kedubes Malaysia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa 3 September 2019. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Jakarta - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tak masalah dengan berbagai promo yang ditawarkan oleh aplikator transportasi online, misalnya untuk ojek online (ojol). Hanya saja, promo yang ditawarkan tak boleh melebihi batas tarif yang telah ditentukan.

“Promo sebetulnya sah-sah saja karena itu kan daya tarik konsumen, tetapi dalam aturannya kan sudah ada ketentuan tarif batas bawah dan tarif batas atas,” ucap Sekretaris Harian YLKI Agus Suyatno kepada Tagar, Senin, 20 Januari 2020.

Kenapa penting memperhitungkan promo dengan menyesuaikan batas tarif bawah, tarif atas, dan tarif minimal, karena kata dia, ketika promo muncul akan ada efek. Entah jangka pendek atau efek jangka panjang, dampaknya memengaruhi konsumen, para driver bahkan aplikator itu sendiri.

Baca juga: Wacana Tarif Ojol Naik, YLKI: Mau Sampai Batas Mana?

Misalnya, efek jangka pendek konsumen akan merasa untung karena mereka mendapatkan harga lebih murah dari tarif batas biasanya dari aplikator.

Sementara, efek jangka panjang dari promo yang ditawarkan di luar tarif batas menurutnya juga berbahaya. “Kalau kemudian salah satu pesaing kalah dan kemudian hanya satu aplikator atau satu pemenang dan jadi monopoli. Itu yang berbahaya,” ujarnya.

Jadi, menurut dia untuk lebih sehatnya promo boleh tapi rentang batas tarif bawah, tarif atas, dan tarif minimal yang telah ditentukan melalui Keputusan Menteri Perhubungan.

“Promo itu jangan sampai menjadi predatory pricing di salah satu aplikatornya, akan berbahaya,” kata dia.

Lalu, kenapa kadang-kadang konsumen merasa tarif satu aplikator lebih murah dari tarif aplikator lainnya seusai promo. Menurutnya ada kemungkinan ada permainan harga yang dipatok aplikator, yakni di bawah ambang tarif.

“Promonya itu banyak yang kemudian dia bermain di tarif batas bawah. Jadi kan tidak fair, karena kan di kita ada dua aplikator yang satu memainkan tarif batas tinggi yang satu tidak,” tuturnya.

Ketika hal tersebut dilakukan aplikator, jatuhnya kata dia akan ada disparitas yang cukup tinggi. Padahal, idealnya promo tidak bermain di bawah batas tarif.

Ia menjelaskan meskipun ada promo harusnya, tetap mematuhi itu. “Jadi dicari batas atas kemudian dipromokan menjadi tarif batas bawah. Seperti itu. Tapi tidak bisa di bawahnya,” ucap Agus. []

Berita terkait
Konsumen Mengeluh Tapi YLKI Setuju Tarif Ojol Naik
Penyesuaian tarif baru untuk transportasi online, khususnya ojek online (ojol) masih sekadar wacana. Tapi konsumen sudah merasakan kenaikan tarif.
GoPay Kembali, Maia Estianty: Perketat Sistem Ojol
Maia Estianty mengatakan saldo Gopay di aplikasi Gojek miliknya yang sempat hilang karena diretas oknum driver Gojek, sudah kembali.
Maia Estianty Dua Kali Kena Tipu Oknum Driver Ojol
Maia Estianty mengaku telah dua kali kena tipu oknum driver ojek online (ojol).
0
Total 346 Kasus Virus Corona di Korea Selatan
Dengan demikian seluruh kasus virus corona di Korea Selatan menjadi total 346 kasus di seluruh Negeri Gingseng tersebut.