Jakarta - Indra Rudiansyah, mahasiswa S3 Profram Clinical Medicine dari Uviersitas Oxford, Inggris, menjadi salah satu orang yang menciptakan vaksin jenis AstraZaneca. Dia juga menjadi bagian dari tim di Jenner dibawah pimpinan Prof. Sarah Gilbert, Prof. Andrew Pollard, Prof. Teresa Lambe, Dr Sandy Douglas, Prof. Catherine Green dan Prof. Adrian Hill.
Sebagaimana dikutip dari ANTARA London, pria berusia 29 tahun itu, sejak 20 Januari 2020, tim Jenner Institute dan Oxford Vaccine Group bekerja sama menguji coba vaksin virus corona di Pusat Vaksin Oxford. Dia menegaskan bahwa penelitian utamanya untuk tesis sebenarnya adalah vaksin malaria.
Namun, keikutsertaannya di tim Jenner Institute merupakan laboratorium yang susungguhnya dari penelitian vaksin untuk menyelamatkan banyak orang.
"Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin Covid-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk tesis saya," ujar pria kelahiran 1 September 1991 ini.
Ketika wabah Covid-19 mengalami eskalasi menjadi pandemi, semua aktivitas di kampus tutup kecuali untuk bidang yang terkait Covid-19. Lab kemudian kekurangan orang, padahal penelitian tentang Covid-19 membutuhkan banyak sumber daya manusia.
Indra Rusdiansyah
Indra Rudiansyah adalah mahasiswa penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Pemerintah Indonesia yang tengah menempuh pendidikan doktoral di Jenner Institute.
Indra Rudiansyah juga bisa dibilang merupakan pemuda yang sangat berprestasi. Ia menjadi lulusan Program Beasiswa Plus Djarum atau yang disebut dengan Beswan Djarum 2011-2012. Beasiswa tersebut diberikan kepada para mahasiswa berprestasi yang tengah menempuh pendidikan S1 atau D4.
Pria asal Bandung, Jawa Barat ini juga menyelesaikan pendidikan S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada jurusan Bioteknologi dengan Fast Track Program. Sementera pendidikan S1-nya ia selesaikan dikampus yang sama dengan jurusan Mikrobiologi.
Saya tentunya sangat bangga bisa tergabung dalam tim untuk uji klinis vaksin Covid-19 ini, meskipun ini bukan penelitian utama untuk tesis saya.
Diketahui, Sarah Gilbert mengungkapkan pada parlemen Inggris jika dirinya tak ingin mengambil hak paten penuh untuk vaksin ini.
"Saya tak ingin mengambil (hak paten). Sudah seharusnya kita bisa berbagi dan membiarkan semua orang membuat vaksin mereka sendiri," kata Sarah dikutip dari Reuters, Selasa, 20 Juli 2021.
Beberapa waktu lalu Sarah Gilbert dan tim menjadi sosok yang mendapatkan tepukan meriah di event Wimbledon. Pembuatan vaksin sendiri sejatinya butuh waktu 5 tahun namun karena keperluan mendesak, peneliti bekerja keras mewujudkan vaksin Covid-19 itu dalam waktu 6 bulan. Setelah disetujui WHO dan uji klinis kemudian didistribusikan. []
Baca Juga: Alasan Vaksin AstraZeneca Batch CTMAV 547 Digunakan Kembali