Gowa - Imam Hanafi, warga Kelurahan Samata Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa ini kesehariannya mengatur lalu lintas di area kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar jalan HM Yasin Limpo.

Pria asal Mojokerto, Jawa Timur ini mengaku pekerjaan yang dilakukannya itu semata-mata hanya hobi. Meski tidak digaji, Imam mengaku bekerja ikhlas. Sebab baginya tak ada yang lebih penting dibandingkan keselamatan dan membantu sesama.

"Saya tidak terlalu memikirkan duit, meskipun tidak dipungkiri segalanya butuh uang. Tapi, jika dipikir duit kalau mati gak dibawa. Bagi saya harta itu nomor dua, yang penting banyak saudara udah aman. Karena saya disini tanpa keluarga, hanya seorang diri," ujar Imam, Minggu 7 Juli 2019.

Kepada Tagar, Imam mulai berkisah awal mula memulai hidup di perantauan seorang diri. Untuk pertama kalinya Imam menginjakkan kaki di tanah Sulawesi Selatan pada tahun 2010, tepatnya sembilan tahun yang lalu.

Datang ke Makassar seorang diri dengan mimpi memperbaiki kehidupannya dan keluarganya yang berada di kampung halaman.

"Saya mulai datang ke Makassar itu tahun 2010. Saya sendirian kesini tanpa Keluarga, istri dan tiga anak saya semua di Jawa," kisah Imam.

Pria yang lahir 1970 ini hanya bermodalkan seragam Polisi dan peluit dari Polres Gowa, dirinya mengaku tidak akan meninggalkan jalan HM Yasin Limpo jika belum normal, menurutnya pekerjaan yang dilakoninya tersebut hanya  sebagai hiburan.

"Kalau pagi kadang mulai jam 07.00 atau jam 08.00 WITA, apalagi kalau hari Senin pasti padat dan kalau pulang kadang jam 17.00 sore atau jam 19.00 WITA, tapi tergantung kapan sepinya. Saya disini merantau sendiri, untuk mengobati kesepian, ya pekerjaan ini sebagai hiburan saja meski tidak digaji," akunya.

Kendati demikian, terkadang ada pula pengendara yang memberinya sedikit rejeki. "Tapi sebagian ada yang ngasih, tapi yang penting tujuannya aman, paling banyak yang tidak ngasih. Tapi paling banyak kalau ngasih Rp 50 ribu, ada juga yang ngasih Rp100 ribu dan kadang tidak ada sama sekali, apa pun itu patut disyukuri lah" katanya sembari menyeka keringatnya.

Ayah tiga orang anak ini rupanya memiliki pekerjaan rutin yakni
sebagai pencari makanan burung yaitu sarang semut.

"Pekerjaan pokok saya itu cari makanan burung yang di atas pohon itu telur semut merah dan dijual ke Toddopuli Pasar Burung, sudah ada langganan disana," bebernya.

Dari hasil penjualan makanan burung tersebut Imam hanya memperoleh Rp 250 ribu. Meskipun tidak mencukupi hidupnya sehari-hari, dirinya mengaku selalu menyisihkan hasil kerja kerasnya itu untuk di kirim ke anak dan istrinya di Mojokerto. []

Artikel lainnya: