UNTUK INDONESIA
Pria ala Prajurit Keraton Yogyakarta Jaga Malioboro
Sejumlah pria yang mengenakan pakaian ala seragam prajurit Keraton Yogyakarta berjaga di 10 titik di kawasan Malioboro.
Dua duta wisata yang mengenakan pakaian ala seragam prajurit Keraton Yogyakarta berjaga di depan Malioboro Mal, Minggu, 18 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Dua pria bermasker yang mengenakan pakaian mirip seragam bregodo atau prajurit keraton Yogyakarta berdiri tidak jauh dari tikungan jalan di ujung utara kawasan Malioboro, tepat di depan salah satu hotel berbintang di sebelah timur jalan.

Sesekali kedua pria yang memegang tombak itu menegur pengunjung yang terlihat tidak mengenakan masker atau mengenakan masker tetapi tidak dikenakan dengan benar. Setelah itu, mereka mempersilakan pengunjung yang sudah mengenakan masker dengan benar untuk melanjutkan perjalanan.

Di sebelah barat jalan, dua pria lain yang juga mengenakan pakaian ala prajurit keraton berdiri. Jaraknya hanya beberapa meter dari papan nama jalan Malioboro. Beberapa pengunjung terlihat meminta izin untuk berfoto bersama mereka.

Seperti rekannya di sebelah timur jalan, mereka juga memperingatkan pengunjung yang tidak mengenakan masker dengan benar. Tak jarang mereka mengarahkan pengunjung yang berjalan meuju ke selatan untuk berjalan di sisi timur jalanan. Sebab trotoar di sebelah barat hanya untuk pejalan kaki yang menuju ke utara.

Geliatkan Kembali Pariwisata

Pria berpakaian ala bregodo Keraton Yogyakarta tersebut ditempatkan di 10 titik sepanjang Jalan Malioboro hingga ke titik nol kilometer Kota Yogyakarta. Mereka berada di sebelah barat dan timur jalan depan Hotel Inna Garuda, depan Malioboro Mal, depan toko batik Terang Bulan, depan Tourist Information Center (TIC), dan sekitar titik nol. Pada masing-masing titik ditempatkan dua orang, sehingga totalnya berjumlah 20 orang.

Crita Bregodo Keraton di Malioboro (2)Seorang pengunjung Maliooboro, Yogyakarta, berfoto bersama dengan dua duta wisata yang mengenakan pakaian ala seragam bregodo atau prajurit Keraton Yogyakarta, Minggu, 18 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Seorang anggota bregodo yang berjaga di kawasan Malioboro, Syaifullah, 46 tahun, mengatakan, para bregodo itu merupakan duta wisata yang bertugas untuk menunjang sektor pariwisata di Yogyakarta di masa pandemi.

“Menjadi duta wisata supaya memberi warna lain untuk Kota Yogyakarta, karena selama pandemi ini Kota Yogyakarta, khusunya pariwisata mengalami penurunan pengunjung,” ucapnya saat ditemui di depan Malioboro Mal, Minggu, 18 Oktober 2020.

Syaifullah merupakan anggota bregodo dari Kelurahan Sosromenduran, salah satu kelurahan yang letaknya berdekatan dengan kawasan Malioboro. Dia menjelaskan, para duta wisata itu juga diharapkan mampu menggebrak dan memberi warna khas tersendiri di kawasan wisata dengan pakaian ala prajurit keraton., serta menunjukkan bahwa Yogyakarta santun, ramah, dan aman untuk dikunjungi.

Sudah mulai dari minggu pertama bulan September. Ini minggu keenam kita mengadakan kegiatan seperti ini dengan harapan bisa meningkatkan dan menumbuhkan kembali pariwisata di Yogyakarta.

Syaifullah merinci beberapa tugas yang harus dilakukan oleh para bregodo tersebut. Salah satunya mengarahkan pengunjung yang salah arah saat berjalan di trotoar.

“Karena kan sekarang di Malioboro satu arah pejalan kaki, yang menuju ke selatan kita arahkan ke sebelah timur. Yang pejalan kaki menuju utara tapi berjalan di sebelah timur jalan, kita arahkan ke barat,” ucapnya menjelaskan.

Sambil menjelaskan tugas dan tujuan duta wisata, rekan Syaifullah memperhatikan pengunjung untuk memastikan mereka tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Mengenai penggunaan seragam ala prajurit Keraton Yogyakarta, menurut Syaifullah, itu hanya sebagai ikon saja. Para duta wisata yang mengenakan pakaian ala bregodo itu bukan merupakan prajurit keraton sungguhan. Meski demikian, mereka tergabung dalam bregodo Kelurahan Sosromenduran.

Cerita Bregodo Keraton di MalioboroSyaifullah, 46 tahun (kiri) bersama rekannya, duta wisata yang berpakaian ala seragam prajurit Keraton Yogyakarta, berjaga di depan Malioboro Mal, Minggu, 18 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Keberadaan para duta wisata itu sekaligus melengkapi petugas dari dinas pariwisata yang sudah ada sebelumnya, yakni laskar Jogoboro yang berjaga di kawasan Malioboro untuk membantu para pengunjung.

“Kita sebetulnya bregodo dari Kelurahan Sosromenduran dan sekaligus duta wisata untuk kepentingan pariwisata di Yogyakarta. Bregodo ini hanya tampilan saja, pakaian prajurit keraton ini dikenakan karena kita di Yogyakarta. Yang identik dengan Yogyakarta adalah keratonnya, kita mengikuti sesuai yang ada di keraton.”

Sehari sebelumnya, kata Syaifullah, para bregodo tersebut mengenakan seragam resmi prajurit Keraton Yogyakarta, yakni seragam bregodo atau pasukan “Lombok Abang”, berupa setelan merah-merah. Tapi hari itu mereka berganti seragam dengan pakaian yang sudah dimodifikasi bentuk dan warnanya. “Ini dimodifikasi, supaya tidak sama persis dengan Lombok Abang yang merupakan seragam prajurit keraton. Jadi kita menyamarkan saja tapi tetap identik dengan tradisi pakaian prajurit keraton,” kata dia menambahkan.

Bertugas Setiap Akhir Pekan

Para anggota bregodo di kawasan Malioboro tersebut tidak setiap hari berjaga di titik-titik yang sudah ditentukan. Mereka bertugas hanya setiap akhir pekan, yakni pada hari Sabtu dan Minggu sore, mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB.

“Kalau pagi belum ada. Itu hanya di hari Sabtu dan hari Minggu saja. Pertimbangannya pertama, tujuan utamanya kan menarik wisatawan,” ujar Syaifullah.

Saat akhir pekan, lanjut dia, biasanya banyak wisatawan dari luar Yogyakarta yang berkunjung ke Malioboro. Tapi sejak pandemi, jumlah wisatawan yang berkunjung menurun drastis, bahkan saat akhir pekan. Keberadaan mereka di Malioboro diharapkan mampu kembali mendongkrak jumlah kunjungan.

Cerita Bregodo Keraton di Malioboro (4)Yanto, 46 tahun (kanan) bersama seorang rekannya, berjaga di ujung utara Malioboro. Mereka bertugas memastikan penerapan protokol kesehatan di kawasan wisata itu, Minggu, 18 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Kemudian kita melirik untuk membuat sesuatu yang beda saat weekend, jadi pengunjung yang sudah datang ke Malioboro bisa mengabarkan pada rekan-rekannya bahwa saat weekend ada sesuatu yang berbeda di Yogyakarta”.

Sementara, seorang anggota bregodo lainnya, Yanto, 46 tahun, yang berjaga tepat di ujung utara kawasan Malioboro, menyatakan hal yang hampir sama, bahwa mereka bertugas untuk menertibkan pengunjung dan memastikan mereka menerapkan protokol kesehatan.

“Kita juga tugasnya mencegah adanya pengunjung yang tidak sesuai dengan protokol kesehatan. Kalau ada yang tidak pakai masker kami suruh kembali, tidak boleh masuk Malioboro. Intinya diperingatkan,” kata Yanto..

Mereka juga berfungsi semacam petugas pemberi informasi pada pengunjung, termasuk jika ada pengunjung yang tersesat atau membutuhkan bantuan lain.

Yanto mengatakan, sebagai anggota bregodo dari Kelurahan Sosromenduran yang jaraknya sangat dekat dengan Malioboro, dia dan rekan-rekannya merasa wajib turut berpartisipasi dalam menunjang pariwisata di Yogyakarta, khususnya di area Malioboro dan sekitarnya.

Mengenai alasan pemilihan seragam ala pasukan keraton sebagai pakaian mereka, Yanto menjelaskan bahwa hal itu tak lepas dari Keraton Yogyakarta sebagai ciri khas keistimewaan Yogyakarta.

Cerita Bregodo Keraton di Malioboro (5)Seorang duta wisata berpakaian ala seragam pprajurit Keraton Yogyakarta menegur pengunjung yang maskernya tidak dikenakan dengan benar, Minggu, 18 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Bregodo keraton sebagai ciri khas keistimewaan Yogyakarta, bahwa di sini kita masih ada keraton atau kerajaan, sebagai ikon wisata Jogja juga. Kita mewakili masyarakat Jogja dengan busana khas keraton, mungkin tidak persis tapi mewakili,” dia menjelaskan.

Nantinya, lanjut Yanto, bregodo yang ada di setiap kelurahan di Kota Yogyakarta akan bertugas menjadi duta wisaa di Malioboro, khususnya bregodo dari kelurahan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari situ.

“Tiap kelurahan kita ada bregodo, masing-masing punya pakaian masing-masing. Nanti yang jaga digilir. Dua minggu ini giliran kami. Nanti giliran kelurahan lain yang dekat dari Malioboro,” ucapnya menegaskan. []

Baca juga: 

Yatim Sejak Remaja, Kini Bertarung di Pilkada Sumba Timur

Lokasi Pembuangan Bayi di Yogyakarta Dibangun Zaman Jepang

Berita terkait
Rias Pengantin Gratis Warga Terdampak Pandemi di Yogyakarta
dua perias pengantin di Yogyakarta memberikan jasa rias gratis untuk warga terdampak pandemi Covid-19 dan tenaga kesehatan.
Remaja Aceh Barat Pembuat Batako dengan Upah Rp 1.000
Dua remaja di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, bekerja sebagai pembuat batako dengan upah Rp 1.000 per batang.
Perjuangan Penjual Coto Makassar Daring di Yogyakarta
Seorang fotografer di Yogyakarta beralih usaha menjadi penjual Coto Makassar, kuliner khas dari Makassar, Sulawesi Selatan, secara daring.
0
Polisi Ringkus Remaja Pengangguran Curi Uang Sopir di Blora
Remaja pengangguran di Blora diringkus polisi karena mencuri uang dan HP milik seorang sopir truk.