Prediksi Ilmuwan Tentang Terjadinya Kiamat

Matt Caplan memperkirakan kiamat akan terjadi dalam waktu sekitar 10 pangkat 1.100 tahun atau dalam kurun waktu ratusan triliun tahun ke depan.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Seorang ilmuwan bernama Matt Caplan mencoba memecahkan misteri mengenai hari kiamat dengan melakukan serangkaian perhitungan. Dia mencatat bahwa hari kiamat akan terjadi beberapa triliun tahun mendatang.

Caplan menerbitkan penelitiannya dalam sebuah jurnal berjudul Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Caplan yang juga seorang fisikawan teoritis ini menyebutkan bahwa saat hari kiamat tiba, bintang-bintang akan meledak dalam intensitas yang sangat lambat.

"Alam semesta menjadi tempat yang menyedihkan, sepi, dan dingin. Hal ini akan dikenal sebagai 'kematian panas', di mana alam semesta sebagian besar akan menjadi lubang hitam dan bintang yang terbakar," tulis Caplan dalam jurnalnya, sebagaimana dikutip Tagar, Sabtu, 22 Agustus 2020.

Dalam penelitiannya, Caplan juga melihat potensi ledakan bintang dan menemukan bahwa di masa depan, bintang yang berukuran lebih kecil akan meledak dalam supernova. Saat mereka menjadi lebih padat, bintang-bintang ini akan meredup, membeku, dan mampu menghasilkan besi.

"Bintang yang ukurannya kurang dari 10 kali massa Matahari tidak memiliki gravitasi atau massa jenis untuk menghasilkan besi seperti bintang masif. Mereka tidak dapat meledak dalam supernova saat ini," katanya.

Besi yang tidak bisa terbakar akan memebuatnya menumpuk di intinya, sehingga memicu runtuhnya bintang dan akhirnya meledak dalam supernova. Caplan memperkirakan ledakan pertama di supernova akan terjadi dalam waktu sekitar 10 pangkat 1.100 tahun atau jika diartikan kiamat ini akan terjadi dalam kurun waktu ratusan triliun tahun ke depan.

Pun demikian, Caplan mengatakan bahwa tidak semua bintang akan meledak. Hanya bintang-bintang yang memiliki massa antara 1,2 dan 1,4 kali massa Matahari yang bisa meledak. Saat bintang-bintang yang dimaksud tersebut meledak, maka saat itu alam semesta akan mengalami kekosongan besar-besaran hingga tidak dapat dikenali sama sekali.

"Galaksi akan menyebar, lubang hitam menguap, dan perluasan alam semesta akan menarik semua objek yang tersisa sehingga tidak ada yang akan melihat objek lainnya meledak," ucap Caplan.[]

Berita terkait
NASA akan Tabrak Asteroid Menggunakan Roket
Misi bertajuk Double Asteroid Redirection Test (DART) ini ditujukan untuk menjauhkan batu ruang angksa dari Bumi.
NASA Prediksi 5 Asteroid Tabrak Bumi 50 Tahun ke Depan
Lembaga antariksa Amerika Serikat (AS), NASA, mengumumkan ada 5 asteroid yang peluang menabrak bumi.
NASA Berencana Menggali Sumber Air di Bulan
NASA mengatakan bahwa Bulan memiliki bagian-bagian yang tersembunyi dari paparan sinar matahari.
0
Amerika Dorong Vaksinasi Covid-19 Dengan Hadiah Jutaan Dolar
Mulai dari hadiah uang tunai yang sangat besar hingga layanan tertentu secara cuma-cuma, merupaka upaya dorong warga untuk divaksinasi Covid-19